Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
119. Hanya ada disini.


__ADS_3

Bang Sanca kembali pulang ke Batalyon dengan bersungut kesal.


"Kenapa sih Bang?" tanya Fia penasaran.


"Nggak apa-apa" jawab Bang Sanca malas tapi kemudian hatinya melunak.


Ya sudahlah.. anggap saja aku syukuran kehamilan Fia. Toh uang segitu bukan apa-apa demi anak istri.


"Apa kok Bang?" tanya Fia lagi.


"Abang lupa isi bensin. Besok sajalah biar Ibra yang isi" jawab Bang Sanca.


"Iya nggak Ib?"


Bang Sanca menoleh kebelakang, ternyata Bang Ibra dan Ola sudah tidur mendengkur.


"Apa-apaan ini, Abangnya waspada lihat jalan.. dia malah enak-enakan molor" gerutu Bang Sanca sampai tidak melihat ada lubang di tengah jalan.


braaakk...


"Astagfirullah.. Abaaaanngg..!!" pekik Fia dan Ola hampir terpental ke depan. Untung saja suami mereka sigap memegangi.


Ola hanya memegangi lengan Bang Ibra tanpa bisa berkata-kata.


"Kenapa Bang?" Bang Ibra ikut panik dan waspada sampai menarik pistol dari belakang pinggangnya. Matanya masih memerah.


"Bisa-bisanya kamu tidur, membiarkan Abang di cemberutin adikmu yang cantik ini" kata Bang Sanca.


"Aduuuhh.. sampai puyeng kepalaku Bang" protes Bang Ibra kemudian bersandar di jok nya.


"Sini ganti saya yang 'bawa' mobilnya"


"Halah.. tinggal satu belokan lagi, biar Abang saja yang bawa..!!"


Saat para suami sedang ribut, mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada Fia dan Ola.


Fia memegangi perutnya sedangkan Ola sudah mual karena merasa pusing.


...


"Loohh.. kenapa kamu dek??" Bang Sanca panik melihat Fia dan Ola sama-sama merosot di depan rumah.


"Perut Fia kram lihat Abang ngerem mendadak." jawab Fia.


"Iya Bang, perut Ola juga jadi kaku" imbuh Ola.


"Haduuhh.. ayo di bawa masuk biar mereka cepat istirahat Bang" saran Bang Ibra.


"Yawes ayo masuk"


:


Bang Sanca memijati kaki Fia saking cemasnya, sesekali ia mengusap perut sang istri. Bang Sanca sampai tidak bisa tidur karena takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Setiap selesai ketemu Garin selalu saja ada masalah. Benar-benar onar sang trouble maker" gerutu Bang Sanca.

__ADS_1


"Sudahlah Bang, jangan ngomel terus. Fia susah tidur nih. Kalau kesal tuh istighfar.. kalau anak Abang mirip Bang Garin bagaimana" tanya Fia.


"Ya Allah.. Amit-amit jabang bayi lah dek. Apa nggak ada makhluk lain yang bisa di contoh?" jawab Bang Sanca.


"Fia bahagia Bang.. Fia juga nggak apa-apa" kata Fia.


Bang Sanca hanya tersenyum meskipun batinnya begitu cemas.


***


Pagi ini Bang Sanca mengurut keningnya karena semalaman tidak bisa tidur.


"Selamat Pagi..!!" Bang Ibra memberi hormat pada Bang Sanca secara formal.


"Masuk sini. Berita apa yang kamu bawa?" tanya Bang Sanca setelah menerima kehadiran Abang iparnya.


"Ada surat dari pusat untuk kita adakan simulasi perang Bang. Kita semua tau adanya beberapa kerusuhan di daerah timur ini dan pihak pusat menginginkan kita meningkatkan kewaspadaan dan kesigapan sebagai pasukan" jawab Bang Ibra.


"Oke.. setelah ini kita adakan pemanasan dulu..!! Setidaknya anggota kita tidak kaget. Record kegiatan disini.. Abang lihat sudah cukup lama tidak latihan." kata Bang Sanca.


"Sekarang kamu atur anggotamu untuk siapkan alat PHH. Nanti Abang nyusul..!!"


"Siap Bang"


...


Para anggota sudah bersiap untuk kegiatan tersebut, Danki telah mengagendakan acara latihan tersebut dan di mulai per hari ini tapi tiba-tiba terdengar suara dentuman kencang membahana di kompi Bang Sanca.


"J****k opo iku rek..!!" refleks Bang Sanca mengumpat. Ia segera mengambil HTnya.


Belum sampai terjawab sudah ada dentuman lagi.. Bang Sanca dengan sigap menyambar senjatanya, ia kalang kabut mencemaskan Fia.


"Jalak monitor..!!!!!! Tolong lihat istri saya dimana????????" Bang Sanca bertambah panik karena anggota pos tengah juga tidak menjawabnya. Ingin sekali ia membanting HTnya.


"Si Ibra mengamankan sisi mana sih???"


Bang Sanca segera berlari dan menyiapkan senjatanya. Tak lama.. ia melihat seseorang memakai buf menarik seseorang lalu...


dooorr...


Orang tersebut menembak seseorang di depan mata Bang Sanca.


"Gariiiinn..!!!!!" Bang Sanca syok dan begitu marah melihat Bang Garin berdarah-darah dan mengejang di depan pos utama karena tertembak.


"B*****t...!!!!" Bang Sanca mengokang senjatanya bersiap membidik lawan tapi sesaat kemudian Bang Garin duduk dan mengibaskan pakaian nya.


"Tahan Abaaaaang..!!!" teriak Bang Ibra menenangkan Bang Sanca.


"Ini kecapnya kebanyakan broo.. saya di gigit semut nih" kata Bang Garin dengan santai.


"Whaaatt...!!!!!!! Kamu nggak apa-apa Gar??" tanya Bang Sanca masih terlihat tegang dan linglung.


"Ini khan simulasi Bro.. lu nggak sigap??" Bang Garin balik bertanya.


"Nggak sigap matamu..!!! Jangan buat hal seperti ini jadi lelucon..!! Situasi kita sedang darurat, kamu jangan memperkeruh suasana..!!!" bentak Bang Sanca emosi.

__ADS_1


"Namanya juga kesigapan. Yang penting Fia sama Ola nggak kaget. Lagian lu panik amat.. cinta sama gue" Bang Garin berkacak pinggang usai membuat keributan di kompi.


"A*u tenan kowe Gar..!!!!!!!" Bang Sanca berjalan cepat menghampiri Bang Garin lalu melayangkan bogem mentah ke wajah littingnya itu.


buugghhh...


"Sadar..!!! jangan merusuh disini..!! Mudah-mudahan ada gigi rontok yang bisa kau hitung. Kurang kerjaan betul kau ya..!!!!" bentak Bang Sanca lagi.


"Ijin Dan.. ibu........." seorang anggota datang tergopoh-gopoh menghampiri Bang Sanca.


"Allahu Akbar.. bojoku..!!" Bang Sanca segera berlari pulang dan mencari keberadaan Fia.


:


"Fiaaaa..!!" Bang Sanca berlari kesana kemari mencari Fia.


"Lho.. Abang kok disini?" tanya Fia heran.


"Kamu nggak apa-apa sayang? Apa yang sakit? Ada yang luka??" tanya Bang Sanca cemas memeriksa Fia di sana sini.


"Anakku bagaimana?"


"Nggak ada apa-apa Bang. Fia tuh tanya Abang.. kenapa disini?? Fia mau abadikan foto Abang latihan perang sama Bang Garin" jawab Fia.


"Jadi kamu tau??"


"Iyaa.. tau lah, pagi tadi Bang Garin hubungi Fia lewat pesan singkat"


"Lailaha Illallah.. kamu kerjasama sama Garin?? Suamimu itu Abang atau Garin?? Kenapa kamu nurut sekali sama guru besarmu itu?????" tegur Bang Sanca.


:


"Hwadoooohh.." pekik Bang Garin saat Bang Ibra membantu membersihkan darah dari hidung Bang Garin.


"Seniormu itu memang pekok. Bisa-bisanya dia tonjok hidung kebanggaan ku"


"Lu yang pekok. Mana ada acara seperti ini tanpa konfirmasi. Masih syukur hidungmu nggak meleyot ke samping" Bang Sanca berkacak pinggang merasakan kekisruhan ini, rasanya setiap bertemu Bang Garin emosinya selalu meninggi.


"Lu benar-benar buat gue kehilangan muka di depan anggota gue. Awas aja lu Gar..!!!!!"


.


.


.


.


Yang tidak cocok dengan cerita Nara.. silakan skip dan jangan berkomentar aneh-aneh. Ini gaya dan karya Nara. Kita saling menghargai..!! 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2