Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
70. Biang masalah.


__ADS_3

Sudah hampir sampai kota tapi ketiga pria itu tidak tahu dimana keberadaan Esa. Garin hanya bisa menangis dan menyesal karena sudah mengabaikan sang istri.


"Kalau sudah begini hatimu lega???? Anakmu sakit.. istrimu pergi. Baru tau kau rasanya istri ngamuk." Sedari tadi Bang Sanca mengomel kesal. Libido yang tidak tersalurkan dengan benar di tambah Fia yang marah setelahnya semakin membuatnya stress dan emosinya meningkat tajam.


"Esaaa.. Abang hanya nyanyi. Nggak macam-macam..!!" gumam Bang Garin.


"Bodoh.. mana Esa percaya dengan semua kata-kata mu. Badanmu penuh dengan stempel jahanam dari wanita ular itu. Apa kamu belum puas bermain wanita di masa lajangmu???? Hal seperti ini sangat sensitif Gar" tegur Bang Sanca.


"Kau ini ngomel saja seperti tidak pernah main wanita" kata Bang Garin.


"Dulu memang ini mainan ku, tapi sekarang nggak lagi. Kau belum tau rasanya ingin mati kalau lihat istri nangis. Dungu banget sumpaahh..!!!!"


"Bisa diam tidak??? Aku nggak konsentrasi" ucap keras Bang Anjar yang akhirnya ikut terpancing dengan perdebatan kedua sahabatnya itu.


...


Fia semakin murka karena hingga hari menjelang tengah malam tapi suaminya tidak kunjung pulang. Memang tadi Bang Sanca langsung bergegas mandi dan meninggalkannya tanpa pamit.


Hujan deras, petir menyambar. Sebegitu jengkel nya Fia pada Bang Sanca, belum bisa mengalahkan rasa cemasnya. Fia membawa payungnya melihat kemungkinan suaminya sudah pulang, ia melihat hingga ke jalanan.. yang di tunggu belum juga datang.


Tak lama ada lampu sorot dari mobil mengarah padanya. Fia menutupi sebagian wajahnya dengan lengan karena terlalu silau.


Dua orang turun dari mobil dan menghampiri Fia.


"Mana suamimu??" bentak seorang pria.


"Suami saya tidak ada pak. Sedang keluar" jawab Fia masih santun.


Wanita yang turun bersama pria itu menepis payung Fia hingga payung itu terbang.


"Heeehh.. suamimu itu sudah menodai saya..!! Saya minta tanggung jawab"


"Suami saya baru beberapa hari disini. Kapan suami saya menemuimu??" tanya Fia masih menggunakan akal sehatnya untuk berpikir.


"Iya.. dalam beberapa hari ini bukan berarti suamimu tidak bisa macam-macam" jawab perempuan itu.


Sebuah mobil berhenti di depan rumah Bang Sanca. Esa turun dari sana kemudian melaju pergi. Ia segera berlari membawa anaknya karena hujan sedang lebat. Fia sudah lumayan menggigil terguyur air hujan.


"Mau masuk dulu.. kita bicara di dalam..!!" ajak Fia sembari menggandeng lengan wanita itu.


"Nggak usah sok baik. Aku minta ganti rugi dua puluh lima juta" tepis wanita itu sampai membuat Fia terjerembab di tanaman pagar hidup depan rumahnya.


"Aawwhh.. Astagfirullah..!!" Fia memercing, perutnya terhantam pot bunga dan tergores ranting.


Mobil Bang Sanca datang dan melihat Fia terjungkal. Mobil yang belum berhenti.. ia abaikan. Bang Sanca segera turun dan berlari menolong Fia.


"Kalian siapa?? Bentak Bang Sanca.

__ADS_1


"Ada urusan apa kalian dengan istri saya????"


Pria dan wanita itu begitu kaget karena seorang pria tidak di kenal membentak mereka.


"Maa.. maaf pak. Kami mencari rumah Kapten Garin" jawab perempuan itu.


"Kalian buta?? Lihat papan namanya. Ini kediaman Kapten Sanca." Bang Sanca masih emosi, ia mengangkat Fia.


"Orang yang kalian cari ada di dalam mobil saya..!!"


:


"Bukan Abang dek..!! Demi Allah" Bang Sanca memijat tengkuk Fia, ia terus saja muntah karena masuk angin terguyur air hujan.


Di ruang tamu sudah ada keributan hebat antara Esa dan Bang Garin.


"Perut Fia sakit Bang, rasanya tertekan.. mulas sekali"


"Ya Tuhan.. bagaimana ini? Abang hubungi Ryan dulu..!!"


:


"Kamu jangan macam-macam Zefa.. aku nggak buat ulah sama kamu. Kita hanya nyanyi." bantah Bang Garin.


"Kamu mau mengingkari?? Terus tanda di badan kamu itu karena perbuatan siapa? Ini yang ada di tubuhku juga kamu yang buat" kata Zefa sambil menangis.


Tubuh Esa sudah gemetar, ia marah karena tak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini. Esa pingsan di tempat.


"Esaaa..!!!!!" Bang Garin kelabakan melihat Esa apalagi tangis putranya semakin membuatnya panik.


Tak berbeda jauh dengan keadaan Fia. Bang Sanca gelisah menunggu Ryan yang tak kunjung datang juga.


"Masih sakit sekali ya? Jangan banyak pikiran dek. Sumpah itu bukan Abang. Kamu khan sudah dengar sendiri"


"Kenapa arahnya kesini Bang? Nggak ke rumah Bang Garin????" tanya Fia masih bernada marah.


"Nanti Abang cari tau. Sekarang yang paling penting kesehatanmu dulu" jawab Bang Sanca.


Fia kembali merasakan sakit, seakan tak sanggup menahan rasa sakitnya. Fia pun ikut tak sadarkan diri.


"Deek..!!! Lailaha Illallah.. cobaan macam apa lagi ini..!!"


...


plaak..plaaakkk.. plaaaakk..


Bang Sanca menampari dan menghajar Bang Garin habis-habisan. Bang Ryan dan Bang Anjar sampai kewalahan memisahkan mereka berdua dari amarah Bang Sanca.

__ADS_1


"Kamu bermain-main dengan namaku aku nggak masalah pot, tapi kamu mencelakai Fia. Setengah mati aku menjaganya malah sekarang kamu yang buat masalah ini menjadi rumit." bentak Bang Sanca. Kesabaran nya seolah sudah habis.


Esa terus menangis, sedangkan Fia masih masih sesekali sadar kemudian kembali kehilangan kesadaran.


"Maaf San.. aku nggak sengaja. Tapi sumpah aku nggak merasa berbuat macam-macam sama Zefa" kata Bang Garin.


"Kalau Abang nggak berbuat macam-macam kenapa badan Abang penuh tanda seperti itu??" Esa berteriak histeris, tak salah jika ia bersikap emosional. Esa melempar pot bunga di ruang tamu Bang Sanca tapi Bang Garin menghindar hingga pot itu melayang menghantam kening Bang Sanca.


pyaarrr...


"Gusti Allah.. itu pot kesayangan Fia" Bang Sanca lebih cemas pada potnya daripada keningnya yang sudah berdarah.


"Abang-abang duduk semua.. Please. Ribut tidak akan menyelesaikan masalah" Bang Ryan menarik tangan kedua seniornya agar lebih tenang sedangkan Bang Anjar pergi ke ruang tamu menyelesaikan masalah yang ada.


Bang Anjar memanggil POM di lingkungan kesatuan Bang Sanca. Sementara dirinya yang mengambil alih tindakan.


...


"Bayinya nggak apa-apa Bang"


"Kenapa nggak sadar juga Ry??" tanya Bang Sanca cemas.


"Bukan nggak sadar Bang. Memang saya buat Fia lebih banyak tidur, jadi saat bangun nanti Fia sudah fresh. Memang si inces ini suka banget ngerjain papanya"


Bang Sanca mengusap rambut Fia.


"Ono-ono wae to dek.. cepat sehat ya sayang..!!" Bang Sanca mengecup kening Fia.


"Dek.. Abang minta maaf..!!" Bang Garin mencoba meminta maaf tapi Esa tidak semudah itu memaafkan Bang Garin.


"Pergilah Abang temui teman lama Abang itu. Habiskan waktu sama dia kalau perlu nikahi dia. Nggak usah pedulikan Esa sama anak Esa. Esa, Abang sama adek mau pulang ke Jawa" ucap Esa terisak-isak.


"Adek?? Adek siapa??" tanya Bang Garin bingung.


"Abang jangan belaga ya?? Esa hamil lagi Bang..!!"


"Astaga Esaaa..." Bang Garin serasa jantungan, ia kaget sampai memegangi kepalanya yang terasa pening. Bagaimana tidak.. si Abang baru saja berusia empat bulan.


"Blo'on lu..!!" Bang Sanca semakin bersungut kesal melihat Bang Garin.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2