Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
65. Playboy pembawa musibah.


__ADS_3

"Fia takut Bang..!! Dia menindih Fia. Memaksa Fia...." ucap Fia dengan gemetar.


Di dalam mobil itu ada Bang Anjar, Bang Garin dan Bang Ryan. Semuanya mendengar dengan trenyuh apa yang sudah di alami istri Sanca.


"Eeehh.. Nggak dek.. Lihat mata Abang..!!" Bang Sanca mengarahkan pandangan mata Fia agar menatapnya.


"Nggak ada yang menyakitimu.. Itu semua hanya mimpi burukmu. Kamu istri Abang, tidak ada yang bisa menyentuhmu kecuali Abang." perlahan Fia mulai tenang, tubuhnya yang tadinya gemetar kini sudah tidak lagi.


Bang Sanca mendekap Fia, di usapnya perut yang mulai membesar itu. Rasa cemas jelas melingkupi hatinya namun ia tidak mungkin menunjukan pada Fia.


...


Atas perintah Bang Sanca... hari ini belum ada penyambutan pergantian Komandan karena keadaan Fia masih belum stabil dan histeris.


"Atas nama pribadi, saya mohon maaf. Kalau istri saya sudah lebih baik, kita adakan acaranya. Istri saya sering kelelahan menjalani masa kehamilannya"


"Baik pak.. kami mengerti" kata salah seorang ibu pengurus cabang.


:


"Apa tidak lebih baik kalau kamu panggil Raiz kesini San?" saran Bang Garin.


"Nanti dulu Gar.. Sanca masih emosi. Saya takut ada hal yang tidak diinginkan" kata Om Bayu.


"Lagipula kalau di bawa kesini.. Fia bisa kembali histeris Om. Fia belum benar-benar di tenangkan" sambung Bang Ryan.


"Bagaimana bisa tenang kalau wajah pria b******k itu akan terus ada disini.. aku saja muak..!!" ucap Bang Sanca.


Tidak lama terdengar suara rintihan dari kamar Fia.


Secepatnya Bang Ryan masuk ke dalam kamar dan itu membuat perasaan Bang Sanca kembali terbakar.


"Fiaa.. kamu kenapa dek?"


Bang Anjar menahan bahu Bang Sanca agar tidak bersitegang di hadapan Fia.


"Fia kenapa??" tanya Bang Sanca pada Yuna yang sedang menjaga Fia.


dddrrtt..ddrrrtt..ddrrrtt..


Bang Anjar segera mengangkat panggilan telepon dari ponselnya.


"Abang pilih lihat perempuan itu atau aku pulang sekarang juga ke kampung halamanku?????"


"Abang pulang sekarang..!!" jawab Bang Anjar.

__ADS_1


:


"Urusanmu hanya dengan Abang Yuna.. tidak ada hubungannya dengan Fia." bentak Bang Sanca sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


"Yuna.. Sanca sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya, tidak perlu membahas hal yang telah lalu" Om Bayu berusaha menengahi perdebatan Bang Sanca dan Yuna.


"Aku tidak bisa lupa perempuanmu itu menampar pipiku di muka umum dan mengataiku pelakor. Tapi akhirnya aku juga yang kau tinggalkan Bang" teriak Yuna.


"Abang bilang nanti kita bahas. Abang minta pengertian mu Yuna.. Fia sedang tidak baik-baik saja. Abang mohon..!!"


"Kau tau Fia.. aku pernah bermalam dengan suamimu ini."


"Yunaaa..!!!!!!!"


Ucapan itu semakin memperburuk keadaan Fia. Fia yang tidak tau apapun tentang masa lalu Bang Sanca begitu syok.. seketika ia lemas tak sadarkan diri.


"Sudahi pembicaraan ini. Fia sudah tidak kuat Bang. Apa Abang mau kehilangan anak ini?????" Bang Ryan angkat bicara.


Bang Sanca bersimpuh di kaki Yuna.


"Tolong Yuna. Fia sedang mengandung, saat ini Abang sangat mencintai Fia. Tidak ada yang terjadi antara kita malam itu. Tidak ada jejak Abang di antara kamu dan Rhea.."


Yuna menampar pipi Bang Sanca sekuatnya.


Bang Ryan memeluk Yuna yang histeris kemudian membawanya keluar. Om Bayu terduduk lemas melihat situasi yang berat ini.


Bang Sanca merangkak menciumi wajah Fia.


"Maafkan Abang dek. Bukannya Abang tidak mau jujur. Kamu pun punya masa lalu yang kamu pendam. Abang hanya ingin kamu melihat Sanca yang sekarang, Sanca yang hanya mencintaimu" begitu sesaknya Bang Sanca hingga rasanya jalan nafasnya terhenti.


"Om akan bantu bicara dan menjadi penengah antara kamu, Fia, Yuna dan Rhea. Ini pelajaran berharga untuk kamu San. Semoga masalah yang kamu buat ini segera selesai. Wanita itu cukup satu. Kejujuran itu di atas segalanya. Tidak kuat khan kamu kalau sudah begini jadinya??"


Bang Garin mengangsurkan air minum agar melegakan sahabatnya itu.


"Coba dulu kamu bagi-bagi denganku.. masalah ini kita tanggung berdua. Karena kamu terlalu tamak.. jadi ya selesaikan lah sendiri"


"Garin.. jangan menyudutkan ku lagi. Aku sudah kapok urusan sama perempuan" jawab Bang Sanca masih lemas.


:


"Abang nggak bela Sanca. Tapi pakai hatimu sedikit.. Kamu dan Fia sama-sama perempuan, terlebih Fia tidak tau apa-apa. Dia sedang hamil. Kalau semua ini terjadi padamu bagaimana??" tegur Bang Ryan secara halus.


"Apa di dunia ini hanya Sanca saja yang ada di hatimu? Abang juga laki-laki lho"


Seketika Yuna memeluk Bang Ryan dan menangis di dada pria itu hingga hatinya benar-benar lega.

__ADS_1


...


"Dek.. "


Fia menarik tangannya saat Bang Sanca menyentuh tangannya.


"Biarkan Fia sendiri Bang. Malam ini saja Fia butuh tenang"


Bang Sanca keluar dari kamar tapi ia hanya duduk di depan pintu untuk menjaga Fia. Semalam suntuk ia tidak bisa tidur karena begitu cemas.


***


"Rhea, Yuna.. terutama kamu Fia. Abang sungguh minta maaf. Semua memang salah Abang. Masa lalu memang tidak pernah bisa kita tolak, tapi Abang sudah punya masa depan dengan wanita pilihan Abang. Abang harap kedepannya tidak akan ada masalah apapun" Bang Sanca membuka pertemuan nya hari ini.


Rhea sudah tidak banyak bicara lagi karena dirinya sudah menikah dengan Bang Anjar.. Semalam Bang Anjar sudah berhasil memberinya pengertian. Tapi tampaknya Yuna masih belum bisa menerima perlakuan Rhea dulu. Apalagi saat itu Bang Sanca malah memilih Rhea di depan matanya.


"Terserah apa katamu Bang.. asal dia tau saat itu kita sudah menghabiskan malam" ucap Yuna tanpa sadar sudah menyakiti hati Fia.


Bang Sanca benar-benar pusing tujuh keliling, rasanya kepalanya mau pecah.


"Sudah mbak-mbak semua. Fia mohon maaf atas kesalahan suami Fia di masa lalu. Tidak ada niat Abang untuk mempermainkan mbak Rhea ataupun mbak Yuna. Sebagai laki-laki, Bang Sanca hanya ingin mencari pendamping yang terbaik.. kelak bisa mendidik anak-anak dengan baik. Karena seburuk-buruk nya seorang pria pasti menginginkan wanita yang terbaik baginya. Di antara mbak Rhea dan mbak Yuna tidak ada yang buruk, Fia pun tidak sempurna. Tapi kita tidak tau, dimana Tuhan menitipkan hati kita untuk berlabuh."


Yuna dan Rhea tidak bisa menjawab apapun lagi. Kini mereka menyadari alasan Bang Sanca begitu mencintai Fia.


"Untuk Abang.. sudah puaskah Abang kalau semua sudah jadi begini?? Fia bukan malaikat yang bisa terus sabar dengan semua ini Bang. Fia pernah salah Bang.. tapi semua bukan keinginan Fia. Tapi apa yang Abang lakukan selama ini, semua secara sadar. Kalau Abang dengar Fia pernah bersama Bang Ryan.. Abang kuat dengarnya?" balas Fia.


"Uhuuukk..!!" Bang Ryan tersedak salah tingkah, tak menyangka Fia akan membawa namanya dalam hal ini.


Seketika wajah Bang Sanca berubah marah, tegang, tidak terima. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang begitu sakit hati.


"Tidak hanya Abang yang berurusan dengan banyak wanita. Apa Abang tidak bisa mengingat berapa banyak pria yang mengejar Fia"


"Sampai ada pria yang berani mendekatimu, akan Abang tebas semua tanpa ampun. Kamu hanya milik Abang" ucap Bang Sanca. Sifat posesif, cemburu dan egoisnya muncul mengiring emosinya.


"Astagfirullah hal adzim.. Sanca.. redakan dulu emosimu itu..!!!" tegur Om Bayu.


"Tauu nih Sanca.. emosian banget" gerutu Bang Garin sambil mengunyah pisang molen.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2