
Sudah satu minggu lamanya Fia menginap di kamar mess Bang Sanca tanpa melakukan apapun membuatnya bosan tinggal di kamar berukuran empat kali empat itu. Ajakan Esa untuk keluar membuatnya ingin diam-diam keluar tapi ia selalu mengingat pesan Bang Sanca agar tidak sembarangan keluar lingkungan tanpa pengawasannya apalagi saat ini Bang Ibra sedang dinas luar. Ia pun paham resiko imbas dari kegiatannya tiga tahun yang lalu.
Pintu kamar terbuka dan melihat Bang Sanca membawa dua bungkus makan siang mereka.
"Kenapa wajahnya kusut begitu?"
"Pengen jalan sama Esa Bang, tapi pasti nggak akan Abang ijinkan" jawab Fia.
"Kalau sudah tau jangan tanya lagi. Cepat makan. Juno kelaparan tuh" Bang Sanca membuka nasi bungkus berisi lauk sambal ikan cakalang dan tumis sayur daun pepaya.
"Sampai kapan Fia akan seperti ini? Fia bosan"
"Sabar sedikit lagi. Kelompok mereka itu besar dan tersebar. Abang nggak mau ceroboh dan salah langkah. Apalagi kehamilanmu ini sudah masuk tujuh bulan. Biarpun sedikit lambat asalkan kita semua selamat" jawab Bang Sanca.
"Kalau pengen ketemu Esa nanti sore lepas dinas, Abang antar. Mainlah sepuasmu. Abang nggak mau kamu di antar siapapun kecuali Abang"
"Terima kasih Abang" Fia memeluk Bang Sanca dengan erat.
-_-_-_-_-
Bang Sanca mual hebat mencium parfum Garin yang memaksa ikut jalan ke mall bersama Bang Sanca dan Fia.
"Kau pulang ganti baju atau tidak usah ikut sekalian..!!!" ucapnya kemudian kembali muntah.
"Astaga.. iyaaaa.. dasar norak"
"Itu bukan parfum blo'on, yang lu pakai itu minyak nyong-nyong" pekik Bang Sanca sampai emosi.
"Waduuhh.. masa iya sih" Bang Garin mencium wangi tubuhnya.
"Sepuluh menit dari sekarang. Kalau sampai lambat.. gue tinggal..!!" ancam Bang Sanca.
...
Dengan gaya memakai jas ala CEO, Bang Garin melenggang di pelataran mall dengan sombongnya bagai pengusaha berduit tebal. Setiap melihat gadis yang menurutnya kelas wahid, ia akan bersiul menggoda Bang Sanca.
"Sumpah benar-benar norak. Malu gue punya teman macam lu" ledek Bang Sanca. Bang Sanca menyulut rokok lalu berdehem menunjukan gaya playboy kelas kakap melupakan jika dirinya tadi sedang membawa si cantik Fia, bumilnya yang pencemburu.
Bang Sanca bersiul kecil menggoda gadis yang melintas di hadapannya.
"Cantiik.. sudah ada yang punya apa belum nih?"
Seketika gadis itu menoleh malu-malu.
plaaaakk...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bang Sanca.
__ADS_1
"Aduuhh.. nyamuk kurang ajar Bang..!!"
Fia segera mengeluarkan hand sanitizer dari tas kecilnya, karena dirinya sudah terbiasa membawanya.
ssrrzzzzhhh...
"Aawwhh.." pekik Bang Sanca.
"Aahh.. ya ampun Bang, Fia nggak sengaja. Ini alat tau aja kalau ada mata yang jelalatan" kata Fia.
"Mbaknya cepat pergi..!! nggak usah tanggapi ini si buaya darat, saya pawangnya"
Gadis itu pun langsung pergi. Tak lama Esa datang dan melihat penampilan Fia dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Fia.. perutmu kok bengkak. Kamu...??????"
"Aku di sembur ular" bisik Fia.
"Ehemmmm.." Bang Sanca berdehem karena tau sahabat kental Fia ini sepemikiran dengan sang istri.
"Kenapa kamu bawa pengawal. Kita jadi nggak bebas. Ceritakan sama aku, ular yang menyemburmu itu ular apa. Aku takut" kata Esa serius bertanya karena iba melihat Fia yang sedang hamil.
Bang Garin tersenyum jahil ingin mendekati Esa tapi Bang Sanca melarangnya.
"Nanti dulu. Untuk sementara biarkan mereka happy dengan pikirannya. Kita awasi saja dan jangan sampai ikut puyeng seperti mereka.
"Fi.. bukannya itu pria yang suka antar jemput kamu??"
"Iya.. Bang Sanca.. itu papanya si Juno" bisik Fia membuat Esa terbelalak.
"What... papanya dia??????" Esa menunjuk perut besar Fia.
Fia mengangguk membenarkan pertanyaan Esa.
"Pantas kau bilang di sembur ular. Ternyata ular itu memang sangat berbahaya. Papanya tinggi, gagah, ganteng" kata Esa masih syok ternyata selama ini Fia dan Bang Sanca ada hubungan.
Bang Sanca dan Bang Garin ngopi di samping meja Fia dan Esa. Mata Bang Garin melirik Esa yang tersenyum kalem dan manis.
"Perut istrimu sudah besar ya...!! Kira-kira kalau sudah di plitur mirip siapa ya San?" tanya Bang Garin tapi matanya tak lepas dari Esa.
"Mirip sama aku lah, jangan sampai mirip denganmu" jawab Bang Sanca malas.
"Oiya.. apa Esa seumuran dengan Fia? Kenapa kita harus berhadapan dengan bocil?" gumam Bang Garin.
"Setahuku lebih tua Esa. Fia khan ikut program sekolah, di SMA dulu Fia ikut kegiatan jadi sering bersama Esa dan ternyata hobby keduanya sama. Juga sepemikiran" kata Bang Sanca.
"Kau tak usah menghina ya. Usia tidak lantas membuat mereka bersikap dan berpikir kekanakan. Jangan sembarang berucap. Sekali kau kena.. bisa susah tidur semalaman karena terbayang-bayang"
__ADS_1
"Siapa yang menghina. Aku malah bangga dapat gadis yang usianya jauh di bawahku. Awet muda bro" jawab Bang Garin.
Dari tempat duduknya Bang Sanca melihat dua orang pria mengambil duduk tepat di samping meja Fia. Kedua mata pria tersebut menatap Fia dengan tatapan tajam. Bang Sanca segera berdiri dan pindah duduk di samping Fia, melindungi istrinya dari tatapan membunuh kedua pria tersebut.
"Abang lapar?" tanya Fia.
"Nggak.. Jangan lama-lama ya nongkrong nya. Kasihan si Juno" jawab Bang Sanca sambil menatap mata Fia bagaikan mengucapkan ribuan makna.
"Kita langsung belanja ke supermarket aja yuk Sa..!! Aku mulai capek nih sejak perutku segede gaban" ajak Fia.
...
Dalam perjalanan pulang, Bang Garin merasa ada mobil yang mengikuti mobil mereka. Ekspresi nya tetap tenang karena cemas akan mempengaruhi bumil jika ia panik.
"Mereka nggak akan macam-macam Bang. Posisi kita di tempat ramai, sampai di Batalyon pun ramai.. jadi tenang saja" kata Fia menenangkan kedua pria di dalam mobil itu.
"Kamu benar dek. Kenapa Abang jadi dungu begini" Bang Sanca mengusap wajahnya. Ia sungguh cemas dan gusar. Tangannya mengusap kaki Fia yang sedang duduk di jok belakang, berselonjor santai karena tiba-tiba mulai bengkak.
"Mulai sekarang, ada baiknya kalau istrimu kemana-mana.. di kawal saja San. Kita tidak pernah tau bagaimana kejamnya kelompok benalu emas." saran Bang Garin.
"Aku memang usahakan seperti itu makanya belakangan ini Fia nggak aku ijinkan keluar rumah"
"Pasti aku bantu semampuku. Tenang saja San..!!"
Perjalanan masih lumayan panjang. Bang Sanca dan Bang Garin saling bertatapan. Mereka berdua baru menyadari jika kembali ke Batalyon harus melewati satu kali perkampungan dan satu kali jalanan sepi dan lebih pantas di sebut hutan. Sebenarnya jalanan ini termasuk aman karena memasuki kawasan militer, tapi apapun itu.. bahaya bisa saja terjadi tanpa di duga.
"Dek, kamu bisa gunakan pistol?" tanya Bang Sanca.
"Bisa Bang.." jawab Fia.
"Ini.. simpan di balik bajumu..!!" Bang Sanca menyerahkan pistolnya pada Fia.
"Kalau begitu kamu pakai pistol ku San. Kamu lebih butuh untuk melindungi Fia" kata Bang Garin.
"Kamu pakai apa?" tanya Bang Sanca saat melihat Bang Garin mencari sesuatu di tas kecilnya.
"Ini.." Bang Garin menunjukan ketapel miliknya.
"Wedhus.. kita bukan mau bidik burung..!!!!" seketika Bang Sanca langsung emosi melihat ketapel milik Bang Garin.
.
.
.
.
__ADS_1