Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
79. Luar biasa.


__ADS_3

"Benar nggak Fia mau melahirkan??" tanya Bang Anjar tak percaya sebab kemarin malam Fia dan Bang Sanca baru melaksanakan acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Fia.


"Ya benar.. masa mau bohong sudah sampai sini" jawab Bang Garin.


"Tapi kenapa? Hari ini khan jadwal semapta nya Sanca. Kenapa bisa tenggelam sama Fia.????" rasa cemas masih tersisa dari raut wajah Bang Anjar.


"Abang bisa duduk atau tidak?" Yuna menegur Bang Ryan yang sedari tadi mondar-mandir di depan ruang operasi.


"Fia tertusuk paku berkarat di kolam" jawab Bang Garin tak sadar menghabiskan snack Syakila putri Bang Anjar.


"Masa pot? bagaimana sih tanggung jawab pengelola kolam renang nya. Kalau sampai celaka begitu bahaya lah. Fia bisa tetanus" jawab Bang Anjar serius.


"Astaga.. urat kepalamu terpelintir??? Fia tertusuk 'paku', sengaja di tusuk. Makanya jadi laki jangan celamitan. Yang sabar.. jangan banyak mau. Kalau sudah begini khan malah jadi panjang urusannya" kata Bang Garin.


Bang Anjar menepuk dahinya. Ia mulai paham duduk perkaranya.


"Ya Allah Sanca. Ada-ada saja ulah mu ini. Jadi laki nggak sabaran banget. Malu sama anggota mu"


"Litting mu tuh begitu" kata Bang Garin.


"Ngomong-ngomong jajanan anak gue jangan lu embat juga donk. Kalau dia nangis lu tanggung jawab ya..!!" tegur Bang Anjar.


:


"Pasang bulu matanya jangan begitu Abaang..!!" omel Fia.


"Astagfirullah.. Abang mana paham caranya pasang bulu mata. Kalau atur peluru baru baru bisa"


"Abang jangan ribut aja. Kalau nggak gara-gara peluru nyasar Abang juga Fia nggak akan begini." omel Fia lagi.


"Iya sayangku.. iya.. Abang yang salah. Maaf ya" ucap Bang Sanca mengalah. Ia pun kembali memasang bulu mata Fia.


"Joo bojoo. Tak eman-eman.. tak sayang-sayang" gumamnya pelan membuat Fia tersenyum geli.


"Aarhh.. cepat Bang. Sakit sekali nih. Jangan lupa blush on..!!"


"Iya sebentar. Masa cuma sebelah"


"Ya Salaam.. blush on iku sing endhi dek..!!" gerutunya kesal, cemas dan bingung.


:


"Aahh.."


"Pelan dok..!!" Bang Sanca memercing saat Fia menerima suntikan epidural. Tidak tega rasanya melihat Fia memercing kesakitan.


Dokter hanya tersenyum meskipun Bang Sanca sangat cerewet disana.


:


Bang Sanca hampir pingsan melihat perut Fia di sayat. Rasa pening nya menjalar hingga di atas ubun-ubun. Mual menyerang naik turun.


"Kenapa Bang?" tanya Fia.


"Nggak apa-apa. Kalau sudah sembuh Abang ajak jalan-jalan ya..!!" jawabnya mengalihkan perhatian Fia.


Fia mengangguk.


"Anak kita mirip siapa yang Bang?"

__ADS_1


Bang Sanca membetulkan letak selang oksigen Fia kemudian mencium sekilas bibir Fia.


"Mudah-mudahan mirip kamu. Secantik kamu" jawab Bang Sanca.


"Alhamdulillah.. bayinya cantik pak" kata dokter mengangkat baby inces dari perut mamanya.


"Alhamdulillah.." Bang Sanca langsung bersujud syukur kelahiran putrinya. Sesaat kemudian terdengar suara tangis bayi yang belum begitu kuat. Bang Sanca menciumi wajah Fia.


"Terima kasih banyak sayang. Sudah memberikan kebahagiaan ini dan sudah memberikan putri cantik untuk Abang"


"Sama-sama Bang" jawab Fia jauh lebih tenang.


"Enak operasi deh Bang. Nggak kerasa sakit sama sekali. Kalau begini.. Fia mau deh melahirkan anak ke dua, tiga, empat....."


Bang Sanca menutup bibir Fia.


"Oohh no.. dua saja cukup. Nggak sanggup Abang lihatnya" Bang Sanca mengusap pipi Fia.


"Ini efek bius. Kamu belum terasa"


"Pak.. sebentar lagi di adzani ya bayinya..!!"


:


"Maaf pak... nggak ada obat yang bapak sebutkan. Ini hanya kota kecil. Penyembuhan ibu kurang lebih dua minggu pertama merasakan penyembuhan. Selanjutnya penyembuhan.. empat minggu kedepan"


"Ya ampun.. Bagaimana ini." Bang Sanca menghubungi Papa Zaldi untuk meminta kiriman obat c***a dari Jawa.


...


"Uuuuhh.. sakit Bang." Fia sampai menangis tak bisa memiringkan badannya.


Bang Ryan mengintip Fia dari balik pintu kaca. Hatinya pun ikut sedih melihat perjuangan Fia hari ini.


"Abang masih cinta sama Fia?" tanya Yuna dengan sinis.


"Ngomong apa sih sayang. Fia itu adiknya Abang. Wajar khan Abang cemas sama adik sendiri" jawab Bang Ryan.


"Tapi Fia bukan adik kandung Abang"


"Iyaa.. memang bukan, tapi dia tetap adik Abang. Kamu nggak usah cemburu. Abang sayangnya sama kamu" Bang Ryan mengecup kening Yuna lalu memeluknya agar rasa cemburu istrinya itu mereda.


"Abang sudah mau punya anak. Nggak sempat pikir perempuan lain. Kamu dan anak kita ini segalanya untuk Abang"


...


"Baang.." Fia merosot pingsan karena tidak tahan dengan rasa sakit pasca operasi.


"Dek.. Aduuuhh.. Abang bilang khan sabar tunggu Abang datang. Nekat betul kamu ini" gerutu Bang Sanca sembari mengangkat Fia ke atas ranjang.


:


Jangankan banyak bergerak, batuk sedikit saja Fia sudah kesakitan.


"Jangan nangis, nanti sesak dek." tak kenal lelah dengan sabarnya Bang Sanca merawat Fia.


Perlahan Fia mengatur nafasnya. Hari terasa begitu lama bagi Fia. Tidak leluasa bergerak dan kesakitan yang belum juga hilang.


"Mau lihat inces nggak? Cantik sekali dek" kata Bang Sanca.

__ADS_1


"Mirip siapa Bang?"


"Hidung dan alisnya seperti Abang tapi mata dan bibirnya sepertimu. Sepertinya Abang jatuh cinta lagi dek. Pintar sekali Abang buatnya" ucap Bang Sanca dengan sombongnya.


"Kok jatuh cinta lagi Bang. Fia bagaimana??" tanya Fia sengaja memasang wajah cemberutnya.


"Jelas cinta donk.. Nggak ada kamu ambyaar Abang dek..!!" jawabnya usil.


...


Malam hari saat semua sedang tertidur.. Papa Zaldi menghubungi Bang Sanca.


"Iya pa. Nggak apa-apa. Fia juga sudah baikan. Nanti saya carikan nama yang sesuai. Saya selipkan nama permintaan Opa buyut" jawab Bang Sanca.


"Ya sudah.. besok Papa, Mama, El sama Ibra sampai sana. Hati-hati jaga Fia" pesan Papa.


"Siap Pa"


***


Suasana kamar begitu ribut saat melihat baby Rara tidur dalam inkubator. Om Ibra gemas sekali mencolak colek baby Rara.


"Ibra.. tanganmu kotor atau tidak" tegur Bang Sanca melihat putrinya jadi bahan mainan.


"Sudah Bang.. steril nih" jawab Bang Ibra.


"Kuku mu??? Awas kalau Rara sampai tergores, habis lah kau" ancam Bang Sanca.


"Sudah Abaaang.. ampuun dah Abang"


"Kenapa bisa lahir tiga puluh minggu. Papa dengar Fia berenang di kolam? Kamu dimana?" tanya Papa Zaldi.


Bang Sanca melirik Fia seolah meminta bantuan istrinya untuk menjelaskan pada Papa Zaldi.


"Fia belajar berenang sama Abang pa. Tapi tiba-tiba perut Fia kontraksi" jawab Fia berusaha menjaga nama baik suaminya.


Tak lama Bang Garin datang membawa buah tangan untuk semua. Memang Bang Garin dan Bang Anjar sudah dekat dengan keluarga Fia maupun Bang Sanca hingga tidak ada jarak di antara mereka.


"Memangnya kamu nggak pemanasan?" tanya Papa Zaldi.


"Ya pemanasan pa. Mungkin anak Abang pengen cepat ketemu papanya" jawab Fia.


"Ya jelas kontraksi Dan. Papanya tembak di tempat. Anaknya kaget lah sampai ngamuk minta keluar."


Seketika pandangan Papa Zaldi, Mama Arnes dan Ibra menatap tajam ke arah Bang Sanca.


"Benar itu San??" tanya Papa Zaldi saking kagetnya.


Bang Sanca berdehem tak nyaman, tak tau bagaimana menyimpan wajahnya yang luar biasa menahan malu.


"Sudah donk pa, jangan di bahas lagi. Fia sudah baik-baik saja" bujuk Fia.


Disana Bang Garin dengan santainya membuka bungkus kripik jagung tanpa rasa bersalah sedikitpun.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2