
"Sabar Sa..!!" Bang Sanca panik karena Esa mengamuk tidak tahan dengan rasa sakitnya.
"Kenapa Abang biarkan Bang Garin pergi??" pekik Esa marah besar.
"Abang nggak biarkan Garin pergi. Suamimu yang sableng itu yang tidak dengarkan Abang bicara Sa" jawab Bang Sanca membela diri.
"Abang nggak usah tanggapi Esa, dia sedang kesakitan Bang" kata Fia mencoba menengahi perdebatan itu.
"Aaahhh terserah lah. Abang bicara apapun juga pasti tidak akan pernah benar"
...
Bang Sanca terpaksa memapah Esa karena Fia sedang menggendong putrinya.
"Suamimu mana to Sa?" gumam Bang Sanca.
"San.. lama sekali kamu. Bagaimana Esa???" tanya Bang Garin tanpa rasa bersalah.
"Swempruuull.. Esa ini istri siapa? Kenapa harus aku yang kerepotan menjaganya?????" protes Bang Sanca.
"Khan kamu yang bilang, aku di belakang saja..!!"
"Itu maksudnya kamu duduk di bangku belakang sama Esa, aku yang kemudikan mobilnya" kedua pria itu masih berdebat dengan lancarnya di depan ruang UGD.
"Suami dari ibu Fia..!!" tanya seorang perawat.
"Saya..!!" jawab kedua pria itu bersamaan hingga keduanya saling menatap.
"Lhooo.. kok Fia?????" Bang Sanca segera berlari menghampiri perawat.
//
"Kamu kenapa sayang???" Bang Sanca sampai menangis melihat Fia tak sadarkan diri sedangkan si inces ada dalam gendongan Bang Ibra yang juga cemas melihat Fia.
"Apa Fia sakit Bang? tanya Bang Ibra.
"Setau Abang nggak. Apa dia sengaja menyembunyikan sesuatu kalau dia sakit?"
Tak lama dokter datang dan membawa hasil cek. Bang Sanca meminta dokter memeriksa kondisi Fia, seluruh nya tanpa terlewat satu pun.
"San.. kita bisa bicara sebentar?"
:
"Astagfirullah hal adzim.. sakit asmanya meningkat Bang??"
"Iya San. Jadi perawatannya juga harus ekstra ketat" jawab senior Bang Sanca.
"Ngomong-ngomong.. itu anak pertama mu?" tanya dokter.
"Anak kedua saya Bang. Saya sudah ada seorang putra yang sekarang ada dalam asuhan mertua saya. Ada apa Bang?" tanya Bang Sanca.
Dokter menepuk bahu Bang Sanca sembari mengurai senyum simpati.
...
Bang Sanca sesekali masih menghapus air matanya. Rasanya tak sanggup membayangkan kesakitan Fia selama ini sampai tadi Bang Sanca sempat memaki-maki Bang Ryan dalam sambungan telepon.
"Apa Abang nggak berhak tau keadaan Fia? Kenapa hal seperti ini harus di sembunyikan dari Abang??" Bang Sanca sungguh tidak menyukai alasan apapun dari Bang Ryan soal masalah dalam diri Fia.
"Abang nggak tau harus bagaimana lagi Ibraa. Ryan benar-benar keterlaluan"
__ADS_1
"Maaf Bang. Saya juga benar-benar nggak tau soal masalah ini"
Tak lama dua orang perawat mendorong brankar Fia.
"Di rawat sampai besok ya Pak..!!"
"Iya.. terima kasih" Jawab Bang Sanca
...
"Aaawwhh Abaang.. perut bawah Fia sakit sekali" Fia menggelinjang meremas perutnya.
"Iya sayang.. sabar ya..!! Sakitnya hanya sebentar" Bang Sanca mencium perut Fia. Hatinya begitu sakit dan tidak tega.
"Ada apa sih Bang?" tanya Fia yang benar-benar masih belum sanggup menceritakan apapun yang terjadi pada Fia. Ia bukan tidak ingin mengatakannya.. hanya saja ia masih menunggu waktu yang tepat.
"Nggak ada apa-apa. Ya wajar lah, istri sakit masa Abang nggak kepikiran" jawab Bang Sanca.
***
"Sabar San..!! Ini ujian rumah tangga" kata Papa Zaldi yang datang mengunjungi Fia dan Bang Sanca.
"Apa papa bawa inces juga?"
"Jangan pa. Tolong jangan bawa anak-anak lagi. Jauh dari El sudah membuat hati saya sedih, apalagi Papa mau membawa inces. Mereka berdua kekuatan saya pa" mata Bang Sanca memerah mengurai rasa sedihnya yang begitu dalam.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Papa Zaldi.
"Saya sudah pesan assisten rumah tangga untuk membantu meringankan pekerjaan Fia. Ibra yang carikan. Ibra satu.. saya satu" jawab Bang Sanca.
"Apa Fia setuju??"
"Saya nggak ada pilihan lain pa"
...
Bang Garin mendorong kursi roda menemui Fia untuk berterima kasih. Esa merasa sangat bersalah karena demi menolong dirinya, Fia sampai sakit seperti ini.
"Apa kabarmu Fi?" tanya Esa dan menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Aku sudah nggak apa-apa Sa. Hanya perutku nyeri sekali" ucapnya jujur pada Esa.
"Mungkin efek kamu terlalu lelah" jawab Esa yang juga tidak tau apa yang terjadi pada Fia.
"Iya mungkin ya...!!"
"Oya.. Aku lihat cantik mu donk Sa..!!"
Esa pun membuka selimut penutup bayinya lalu menunjukkan pada Fia.
"Iiihh.. mirip kamu banget Sa" kata Fia.
"Jangan sampai mirip Abang. Bisa ku musuhi kalau sampai ini anak cewek mirip papanya" jawab Esa sembari melirik Bang Garin.
***
"Bibi sama saya, Mbak Wulan sama kamu..!! Nggak apa-apa khan?" tanya Bang Sanca.
"Nggak apa-apa Bang. Nanti Wulan juga bisa sama Abang kalau Abang terlalu sibuk" jawab Bang Ibra.
Bi Anis dan Mbak Wulan akhirnya ikut dalam keluarga Bang Sanca dan Bang Ibra.
__ADS_1
~
Bibi langsung bisa akrab dengan El dan Rara begitu juga dengan Wulan.
Mobil Bang Sanca sudah melaju, Bang Ibra membukakan pintu mobil untuk Ola tapi tak di sangka Wulan menyelinap masuk di bangku depan dan duduk sambil menggendong Nasya.
Melihat tingkah Wulan, Bang Ibra seketika kesal dan tidak suka.
"Kamu di belakang, istri saya menemani saya duduk di depan..!!" tegur Bang Ibra.
"Oohh iya pak" Wulan hanya tersenyum sambil sesekali mencium wajah Nasya.
Ola pun segera masuk ke dalam mobil.
~
"Mau makan apa sayang?" tanya Bang Ibra, tangannya menggenggam jemari Ola.
"Lagi pengen makan sambal kerang. Boleh Bang?" jawab Ola.
"Maaf pak, saya nggak suka kerang. Bagaimana kalau soto saja" sambar Ola.
"Ya sudah Bang. Soto saja" kata Ola.
Senyum di wajah Bang Ibra mendadak hilang berganti kesal.
"Nggak jadi sambal kerang nih?" tanya Bang Ibra sekali lagi pada Ola.
"Nggak jadi deh Bang. Lain kali saja" jawab Ola.
Bang Ibra melirik dari spion dalam, Wulan tersenyum bahagia. Memang ini adalah hal kecil, tapi membuatnya tidak nyaman dan merasa janggal.
//
"Suka? Abang dengar ada soto yang lebih enak dekat kompi" kata Bang Ibra sembari memandangi wajah Ola.
"Tapi Wulan suka yang ini pak. Menurut Wulan soto ini yang paling enak" sambar Wulan.
"Istri saya nggak biasa makan disini meskipun resto besar. Belum tentu kedai kecil rasanya tidak enak" jawab Bang Ibra.
Ola mengusap paha Bang Ibra, seperti biasa.. sentuhan kecil sang istri akan selalu membuatnya luluh.
"Nanti mampir ke supermarket bisa? Ola mau beli perlengkapan dedek"
"Oke cinta" Bang Ibra mengecup kening Ola.
"Waahh.. pas banget Bu. Wulan mau beli make up"
Wajah Bang Ibra kembali datar dan Ola sangat mengerti akan hal itu. Ola bergelayut manja dan berbisik di telinga Bang Ibra.
"Sayang.. jangan marah-marah donk. Nanti malam Ola mau donk di sayang Papi Ibra"
Seketika mood Bang Ibra berubah.
"Pasti cantik ku. Apa sih yang nggak buat mu sayang" jawab Bang Ibra berbisik balik.
.
.
.
__ADS_1
.