
Harap kebijakan dalam membaca cerita Nara..!!
🌹🌹🌹
Fia menoleh ke belakang, d sosok om-om punk berdiri di belakang Fia.
"Bawa aja Bang. Bumil satu ini rewel, cerewet, merepotkan, banyak maunya nih bini satu ini"
"Abaang.." Fia menggoyang lengan Bang Sanca dengan manjanya. Ia benar-benar takut melihat sosok om-om punk yang ada di belakangnya.
"Bisa jaga istri saya setengah jam aja saya kasih lima juta. Buat dia nggak rewel, nggak banyak buat kata sandi, nggak tiba-tiba pukul orang. Naahh.. cepat bawa..!!" tantang Bang Sanca semakin membuat Fia gusar apalagi saat Bang Sanca sedikit mendorongnya ke arah om-om punk tersebut.
"Iiihh.. Abang kenapa tawarin Fia sama om-om itu. Kalau Fia di culik gimana Bang?" rengek Fia.
"Masih penakut saja belaga tawarin Abang sama ondel-ondel. Kelas Abang itu tinggi." sergah Bang Sanca.
Si Chelsea meletakan dagunya di bahu kiri Bang Sanca. Tangannya meraba perut sixpack Bang Sanca.
"Chelsea mau laporan bos...!!" Chelsea mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Bang Sanca.
"Paham bos?" tanya Chelsea.
"Paham, tapi saya nggak paham kenapa tanganmu bisa gerilya di badan saya. Saya ini seratus persen doyan perempuan" tegur Bang Sanca geli setengah mati melihat penampilan Gio.
"Si boss mah malu-malu" kata Gio sambil mencubit gemas perut Bang Sanca.
"Astagfirullah hal adzim. Ayo pulang neng..!! Nggak kuat Abang lihatnya. Bisa jadi apa anak Abang nanti" Bang Sanca menarik tangan Fia agar ikut pergi dengannya.
"Fia nggak jadi di kasihkan ke om-om ini Bang?" tanya Fia dengan polosnya.
"Apalagi kamu ini. Kamu mau di bawa mereka? Jadi tukang gosok kamar mandi kamu nanti. Siapa mau pelihara makhluk merepotkan macam kamu kalau bukan Abang" jawab Bang Sanca.
Bibir Fia sudah mencebik sedih menatap Bang Sanca yang memarahinya.
"Hadeeehh.. Begitu saja sudah nangis kok masih niat kerjain Abang. Ilmu cetek wae sok tenan" tegur Bang Sanca kemudian memeluk dan mendekap Fia di dada bidangnya.
Melihat makanan mereka berdua sudah habis, Bang Sanca segera meninggalkan 'rekan' dalam penyamaran. Bang Sanca melihat keadaan di sekitar.
"Booss.. ai lap yu" Om Gio memonyongkan bibirnya menggoda Bang Sanca.
"Astaga.. berani sekali kamu. Kalau nggak ingat ini rame, sudah saya cincang kamu" gerutu Bang Sanca sampai bergidik geli.
:
Bang Sanca melepas jam tangan lalu memakai buff mask di kepalanya. Ia pun melepas celana jeans denimnya, menyimpannya di bawah pedal gas dan menyisakan celana pendek lalu menyimpan peralatan rahasia di tempat rahasia pula. Tangannya menurunkan jok Fia.
"Sembunyi di sela kolong kaki..!!"
"Ada apa Bang?" tanya Fia.
"Ada pemeriksaan polisi, Abang nggak bawa SIM" jawab Bang Sanca sekenanya, ia masih sibuk dengan dompetnya dan ponselnya.
__ADS_1
Fia gemetar di bawah sana, merasa salah karena Bang Sanca tidak membawa SIM.
"Angkat tangan..!! kamu tentara ya??"
"Bukan pak, saya sopir taksi online"
"Mana dompetmu??" tanya pria bertubuh besar di belakang Bang Sanca.
Bang Sanca menyerahkan dompetnya. Pria itu segera memeriksa dan memastikan foto identitas itu sama dengan si pemilik identitas. Setelah beres, pria itu meraba tubuh Bang Sanca mencari sesuatu.
"Oke.. aman.. silakan jalan..!!!" kata pria tersebut .
"Baik pak" Bang Sanca secepatnya masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil dengan kencang.
:
"Ada apa sih Bang?" tanya Fia setelah kembali duduk di tempat semula.
"Nggak ada apa-apa. Abang lupa bawa SIM dan baru ingat.. lupa bayar yang kita makan tadi. Ini Gio protes karena ditagih pemilik cafe nya" jawab Bang Sanca kemudian menyerahkan ponselnya pada Fia.
"Kok bisa Bang? Kasihan Om Gio donk"
"Besok kalau ketemu di kantor Abang bayar. Tenang saja..!!" Bang Sanca mencubit gemas dagu Fia.
Bagaimana ini? Situasinya sudah seperti dugaan ku. Aku nggak bisa jauh dari Fia. Terlalu berbahaya kalau istriku kemana-mana sendirian.
"Bang, ini perut Fia kenapa nggak kelihatan jelas seperti perempuan hamil lima bulan ya?" tanya Fia yang heran saat melihat perutnya sendiri.
Fia bersungut kesal padahal ia serius menanyakan nya.
"Kamu bisa ambil cuti kuliah?"
Fia menoleh heran karena Bang Sanca menanyakan hal itu padanya.
"Kenapa Bang? Abang nggak suka teman Fia yang rata-rata laki-laki atau berat bayar kuliah Fia?"
"Bukan semuanya. Abang hanya pengen manja-manja sama kamu setiap hari" jawab Bang Sanca dengan senyumnya tapi perasaan Fia berkata lain.
"Tapi itu cita-cita Fia Bang sarjana yang menguasai tentang listrik"
"Ya sudah.. kita bicarakan lain kali saja. Sekarang kita kembali ke hotel daann.. Abang pengen makan malam." kata Bang Sanca sambil berbelok masuk ke dalam parkiran hotel.
...
Fia sudah tertidur karena Bang Sanca sudah membuat Fia kelelahan. Ia segera memonitor berita ponselnya.
Bang Sanca berdiri dan mengintip di sela gorden. Ada seseorang yang mencurigakan di pelataran halaman hotel membidik ke arah kamarnya. Bang Sanca segera menyalakan lampu tanda masih ada aktivitas malam.
"Tolong handle di sekitar hotel. Saya jaga black Opal disini" perintah Bang Sanca pada sambungan telepon.
***
__ADS_1
Hari masih pagi, selepas subuh Bang Sanca segera membawa Fia pulang ke rumah. Ia tau istrinya masih belum puas melihat indahnya alam puncak tapi saat ini situasi belum stabil.
"Kenapa pulang sih Bang?"
"Abang kerja to Neng. Abang minta ijin hanya satu hari. Tau diri lah Abang. Yang lain sibuk masa Abang holiday sendiri. Kapan-kapan kita kesini lagi ya. Bawa si baby sama kita" bujuk Bang Sanca.
-_-_-_-_-
Suasana duka masih kental terasa di rumah almarhum Bang Dafa. Terlihat disana Rhea sedang menggendong bayinya di temani Bang Anjar dan Syakila. Putri Bang Anjar sangat senang melihat bayi mungil yang ada dalam gendongan Rhea.
"Bawa pulang ya pa..!!!!" pinta Syakila.
"Adiknya masih tidur sayang. Nanti ya kalau sudah bangun" bujuk Bang Anjar pada putrinya.
"Nggak mau..." pekik Syakila.
"Apa Anggara boleh Abang bawa pulang?" tanya Bang Anjar pada mamanya Anggara.
"Abang bawa saja, Syakila anteng lihat bayi Bang" jawab Rhea.
"Maunya sih Abang buatkan adik buat dia. Tapi mamanya sudah di surga. Ya sabar saja dulu" kata Bang Anjar.
Rhea tersenyum mendengarnya.
"Bi.. tolong bantu bawa Anggara masuk ke kamar saya. Nggak berani saya bawa jagoan" pinta Bang Anjar pada bibi pengasuh Syakila.
Fia hanya mengintip semua adegan itu dari jendela ruang tamunya. Ada perasaan was-was dalam hatinya. Ia tau tak seharusnya ia berpikiran seburuk ini tapi tetap saja saat ini Rhea adalah seorang janda.
"Nggak.. nggak mungkin Abang akan jatuh cinta lagi sama Rhea" gumamnya sambil mengusir pikiran buruknya. Ia mengusap wajahnya menghalau pikiran negatif thinking.
Saat membuka matanya, wajah Bang Sanca sudah ada di hadapannya membuatnya kaget setengah mati. Entah sejak kapan sang suami berada di hadapannya.
"Abaaang.. Fia kaget" pekiknya.
"Hayooo.. mikir apa kamu?" goda Bang Sanca.
Fia memainkan jemarinya seperti biasa saat ia sedang memikirkan dan menginginkan sesuatu.
"Nggak usah mikir macam-macam. Nggak usah cemburu. Lebih baik kamu minta Abang bantu kamu mandikan si Juno. Mauu??" tanya Bang Sanca.
"Pakai selang ya Bang" pinta Fia dengan wajah bersemu merah.
"Abang siapkan pompa jet khusus buat Bu Komandan" jawab Bang Sanca nakal.
.
.
.
.
__ADS_1