Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
83. Sayang tak terucap.


__ADS_3

Mau apa lagi. Ingin yang bagaimana lagi. Hidupku sudah lengkap. Ada istri yang cantik dan luar biasa, anak yang ganteng dan cantik. Aku nggak mau apa-apa lagi Tuhan. Aku hanya ingin menua bersamanya. Jangan ada lagi prahara dan tangis sedih dari istriku.


Bang Sanca membuang puntung rokok di tangannya. Ia menghela nafas panjang. Semakin hari, rasa sayangnya pada Fia semakin bertambah.


"Hhh.. sudah hampir pagi nih. Sudah waktunya menemani kedua gadisku" la segera bangkit dan masuk ke dalam rumah.


***


"Kita pergi ke klinik ini untuk apa Bang?"


"Abang mau periksakan kandunganmu." jawab Bang Ibra kemudian membantu Ola untuk turun dari mobil.


:


"Perempuan ya pak. Bayi dan ibunya sehat, hanya berat badan bayi kurang sedikit pak" kata dokter.


"Alhamdulillah.." ucap syukur itu meluncur begitu saja dari bibir Bang Ibra seolah yang sedang ia lihat itu adalah bayinya.


"Iya dok.. terima kasih banyak. Nanti saya kejar berat badan bayinya"


Ola tersenyum getir, biasanya ia hanya memeriksa kan kandungannya di bidan dekat rumah. Itu pun hanya sendirian saja. Saat ini yang begitu membuatnya sedih adalah, untuk pertama kalinya ia melihat rupa sang bayi dalam layar USG tapi ia melihatnya bukan bersama suaminya melainkan dengan pria yang belum ia kenal.


//


"Ini pasti cantik" kata Bang Ibra sambil memasukan baju bayi perempuan yang lucu.


"Bang.. keranjangnya sudah penuh. Jangan ambil lagi" Ola merasa tidak enak karena ia tidak membawa uang sama sekali, lagipula Bang Ibra terlalu baik untuknya, ia tidak ingin menjadi beban untuk pria itu.


"Nggak apa-apa. Abang suka kok. Kamu belum persiapan baju bayi khan? Maaf.. Abang sempat lihat isi tasmu. Anggap saja ini hadiah dari Tuhan untuk kesabaranmu. Rejeki itu bisa lewat dari siapa saja"


"Ola takut istri Abang marah kalau tau Abang berbuat hal seperti ini, terlebih.. Ola janda Bang. Ola tidak mau ada salah paham hanya karena Ola" jawab Ola.


"Apa Abang terlihat setua itu? Abang belum menikah" Ucap jujur Bang Ibra.


"Ayo cari lagi untuk si dedek..!!"


Bang Ibra tersenyum bahagia sekali seakan lupa dengan beban hidupnya beberapa waktu ini.


Ternyata indah sekali menyadari akan punya seorang anak gadis. Pantas saja Abang begitu bahagia saat tau Fia mengandung anak perempuan.

__ADS_1


....


"Mau apa dek? Es krim ya? Apa mau jus buah?" tanya Bang Ibra saat mereka menuju mall selanjutnya.


"Sudah Bang.. Jangan terlalu baik sama Ola. Ola nggak mau bergantung sama Abang."


"Abang sudah bilang jangan banyak menangis. Kalau memang ini jalan yang harus kamu lalui.. terima lah dek. Ini takdirmu. Kalau masa lalumu menyakiti hatimu.. lupakan..!! Masih ada masa depan panjang yang harus kamu lalui." Bang Ibra menghapus air mata Ola.


"Kamu punya rasa sakit yang begitu dalam, begitu pula Abang yang baru saja kehilangan kekasih yang paling Abang sayangi. Tapi mau bilang apalagi.. semua adalah takdir. Apa rasa perih itu akan selalu kamu bawa?"


Ola ikut menghapus air matanya.


"Abang bukannya tidak suka dengan wanita yang suka menangis, tapi hati Abang merasa tidak tahan melihatnya. Abang merasa bodoh saat melihat wanita menangis di hadapan Abang. Sebenarnya apa gunanya Abang? Membuat wanita menangis itu bukan sebuah prestasi"


Senyum tipis Ola begitu mendinginkan hati Bang Ibra.


Mata pria selalu berkelana melihat cantiknya wanita di luar sana. Tapi saat melihatmu.. perasaan Abang tak bisa di kendalkan. Apa secepat itu hati ku mendua? Kenapa aku memainkan perasaanku saat bersama Ola?


"Jadi.. mau apa?"


"Ola.. pengen jus jahe" pinta Ola menunduk malu.


:


"Enak.. terima kasih ya Bang"


"Sama-sama" Bang Ibra menelan saliva nya susah payah seakan merasa pedas dan getir di kerongkongan.


"Bumil mah ada aja maunya. Gimana Bang Sanca kemarin ya? Ngelus dodo dek" gumamnya pelan.


"Apa Bang?" tanya Ola.


"Nggak.. sudah cepat habiskan"


Tak lama ada dua orang wanita berdiri di hadapan Ola dan Bang Ibra.


"Benar-benar wanita sial, tak tau malu. Bukannya merenung dan menyadari kesalahanmu, sekarang malah berduaan dengan laki-laki lain. Dasar tak tau diri. Jadi ternyata ini pria selingkuhan mu. Kasihannya putraku yang malang" kata Ibu mertua Ola.


"Iya ma. Kenapa waktu itu Mas bisa memilih wanita macam ini. Sial tujuh turunan keluarga kita. Wanita tak tau di untung. Sudah dapat suami tentara masih tidak bersyukur" kata kakak ipar Ola.

__ADS_1


"Waah..waaahh.. santun sekali ucapan Ibu dan kakak seorang tentara ini" tegur Bang Ibra menarik lengan Ola ke belakang punggungnya.


"Siapa kiranya mantan suami Ola?"


"Dasar pria tidak berguna, tak tau kau anak ku itu tentara.. pangkatnya juga Serka anumerta"


"Untung saja putramu itu sudah almarhum. Kalau saja dia masih hidup.. tangan saya yang akan membina nya langsung. Masih bagus dia berjasa pada negara.. masih ada yang bisa di banggakan.. setidaknya dia adalah sampah" Bang Ibra menggandeng tangan Ola berjalan kembali masuk ke dalam mobil.


:


"Astagfirullah hal adzim.. ada ya manusia macam itu di dunia ini. Apa sih hebatnya putranya itu" nafas Bang Ibra terbuang kesal.


"Ngomong-ngomong.. Tentara yang tertembak saat satgas kemarin adalah Sertu Basri. Suamimu si Basri????"


"Iya Bang"


"Matamu buta dek?? Kenapa pilih pria seperti dia?? Apa di dunia ini kekurangan pria sampai kamu nggak bisa membedakan baik dan buruknya?????" ucap keras Bang Ibra.


"Ola hanya anak asisten rumah tangga Bang. Dulu ibu mertua Ola berjanji akan menghapus hutang bapak kalau saya mau menikah dengan Mas Basri yang tidak bisa punya anak. Tapi sebulan setelah menikah.. ternyata Ola hamil. Mereka semua menuduh Ola sudah berselingkuh"


"Bukan main.. lalu darimana mereka tau Basri tidak bisa punya anak?" tanya Bang Ibra.


"Dari bude nya Mas Basri yang seorang paranormal. Jadi mereka buru-buru harus menikahkan Mas Basri agar tidak kelewat sial, apalagi Mas Basri sudah menolak Naila anaknya bude" jawab Ola.


"Luar biasaa.. percaya paranormal yang tidak normal. Mana bisa menikahkan anak bude sama suamimu itu" Rasanya emosi Bang Ibra naik ke ubun-ubun.


"Jangan harap mereka bisa menemuimu dan anak mu itu lagi. Langkahi dulu mayatku kalau mereka berani bertingkah."


"Tapi Bang.....!!"


"Kenapa?? Kamu pikir Abang nggak sanggup menghidupimu dan anakmu?" tanya Bang Ibra tanpa menyadari situasi saat ini. Ucapannya pun terlepas begitu saja.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2