
“Dadah mama” ujar Mia dengan senyum
manisnya.
Regata melambaikan tangan lalu pergi
meninggalkan Mia yang berjalan masuk ke tempat les.
Setelah dinas malam, jadwal selanjutnya
adalah libur selama dua hari sesuai dengan sistem shift yang berlaku di rumah sakit tempatnya bekerja.
Mia mengamati mobil ibunya hingga
menghilang dari balik kaca tempat lesnya. Setelah memastikan ibunya benar-benar
hilang Mia segera menuju Wahyu GOR untuk berlatih bulu tangkis.
Wahyu menatap Mia heran, hari ini bukan
jadwal latihan Mia namun anak itu muncul dengan senyum sumringah di tempat latihan.
“Datang sendiri” ujar Mia cengar cengir
saat Wahyu menanyakan dengan siapa dia kemari.
“Mama kamu tahu?” tanya Wahyu lebih
lanjut.
Mia menggeleng dengan wajah sedih.
“Ya sudah, cukup kali ini saja lain kali
__ADS_1
gak boleh lagi” ujar Wahyu saat melihat wajah sedih Mia.
Mia bergabung dengan teman-temannya dan mulai berlatih. Service Mia mengalami
peningkatan. Dari sepuluh kali berlatih, dua diantaranya berhasil dilakukan Mia dengan benar.
“Sudah mulai bagus, dipertahankan biar
kamu gak ketingalan dengan teman-teman lainnya” ujar Wahyu saat sesi istirahat.
Wahyu Purnomo adalah salah satu Veteran
perang yang turut dalam misi operasi Nanggala di Timor Leste, yang dulu bernama Timor Timur. Setelah pensiun, Wahyu yang menikahi istrinya wanita asli Manado memutuskan untuk menghabiskan masa senjanya di Manado dibanding pulang ke daerah asalnya, Magelang.
Wahyu menggunakan sebagian tabungannya untuk mendirikan GOR sederhana, sebagai bentuk kecintaanya terhadap olahraga badminton. Harapannya agar GOR miliknya bisa menjadi langkah awal putra-putri Manado bersaing di dunia bulu tangkis.
“Kalau latihan di sini, sudah coba pukulan service termasuk cepat. Di klub-klub besar, atlit bulu tangkis wajib mengikuti program latihan fisik yang banyak untuk melatih ketahan fisik” cerita Wahyu tentang pengetahuannya seputar latihan bulu tangkis.
“Kenapa harus melatih ketahan fisik?”
“Jadi atlet itu, selain teknik main yang
bagus fisik kamu juga harus kuat. Otot lengan kamu harus kuat untuk pegang
raket, pukulan, dan main dalam waktu yang lama. Otot betis dan kaki kamu juga harus kuat untuk lari” ujar Wahyu
“Pemanasan dan pendinginan juga harus
kamu lakukan untuk mencegah cedera sebelum mulai pertandingan. Kelincahan juga perlu dilatih. Kalau kamu fisiknya tidak kuat kamu akan kalah dengan atlet-atlet dari Negara lain. China, Jepang, dan Malaysia tiga Negara itu saingan terberat Indonesia dalam olahraga bulu tangkis. Sekarang Taipei, Thailand, dan India sudah mulai menunjukan permainan yang berkualitas.”
Mia mendengarkan dengan seksama
penjelasan Wahyu.
__ADS_1
“Sayang sekali kamu dididik di tempat
latihan yang sederhana ini. Kalau orang tuamu mengizinkan, saya bisa berikan
rekomendasikan klub bulu tangkis yang bagus”
“Kalau berlatih di GOR ini tidak bisa
ikut pertandingan?” tanya Mia lagi.
“Hanya untuk pertandingan antar RT” ujar
wahyu tertawa.
“Tempat ini bukan klub resmi untuk latihan bulu tangkis, cuma gedung olahraga. Klub bulu tangkis itu harus diakui, harus ada pelatihnya, harus ada administrasi yang terpenuhi untuk bisa jadi sebuah klub”
Mia mencoba mencerna kata-kata yang Wahyu ucapkan.
“Intinya tempat ini hanya gedung untuk berolahraga, kalau mau ikut pertandingan harus jadi atlit di klub resmi”
Selama perjalanan pulang, Mia merenungi
ucapan Pak Wahyu. Satu-satunya klub bulu tangkis yang dia tahu adalah klub PB
Djarum yang telah banyak mendidik atlet professional.
“Matematika memang sulit, kalau kamu
terus belajar akan jadi mudah dan menyenangkan” ujar Regata melihat puterinya yang tampak berpikir keras.
Mia tersada, dan pura-pura mengangguk
membenarkan perkataan ibunya.
__ADS_1
...----------------...