Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Dua Cangkir Kopi


__ADS_3

Regata menapaki tangga spiral di belakang rumahnya. Tangga itu menuju ke lantai dua rumahnya. Ada dua buah ruangan di atas, ruang kerja ibunya dan ruangan lain yang dipakai untuk menaruh alat-alat praktek Regata selama masa studinya dulu, semacam ruang belajar sekaligus gudang yang sudah lama tidak digunakan.


Ruangan milik Regata memiliki jendela kaca tebal yang lebarnya mengikuti design ruangan yang berbentuk setengah lingkaran, sehingga Regata leluasa melihat pemandangan di luar ruangannya apabila dia sudah merasa jenuh atau matanya mulai lelah menatap layar komputer tua miiliknya yang masih terawat.


Danu sudah ada di sana dengan dua cangkir kopi yang masih mengepul. Regata mendekat, duduk di kursi samping ayahnya yang mengarah langsung ke jendela sambil menikmati pemandangan malam di daerah sekitarnya. Jakarta seolah tak tertidur, lampu dan jalan-jalan masih ramai di pukul 10 malam.


“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Danu matanya memandang indahnya lampu di kejauhan.


Regata tahu ini pertanyaan yang tak perlu dijawab karena ayah pasti tahu betul dia tak baik-baik saja. Pertanyaan ini mungkin yang paling cocok sebagai pembuka obrolan mereka malam itu.


“Gak baik-baik aja” jawab Regata dengan suara lemah.


Danu menarik nafas panjang, sebelum mulai ke percakapan selanjutnya. Regata mendengar helaan nafas ayahnya.


“Sudah delapan tahun lewat, anak ayah sudah makin dewasa dan cucu ayah juga semakin besar. Ayah menyesal tidak ada di waktu sulit kalian. Ayah merasa gagal menjadi seorang ayah, emosi mengalahkan logika ayah waktu itu” ujar Danu mengakui kesalahannya.


“Semua sudah berlalu yah, kami berdua baik-baik saja. Mia anak yang penurut dan dewasa, dia bisa mengerti” ujar Regata mencoba mengikhlaskan kejadian di masa lalu.


Keduanya meneguk kopi, membiarkan rasa pahit dan manis kopi mengendap di lidah. Rasa hangat menyentuh tenggorokan, memberi sensasi caffeine yang kental cukup untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.


“Ayah mendaftarkan Mia homeschooling dan privat badminton. Kalau Mia serius, mungkin tahun depan dia sudah bisa ikut seleksi masuk klub elit” meskipun terlambat, Danu tetap memberitahukan pada putrinya. Bagaimanapun juga, Regata tetap punya tanggung jawab penuh untuk masa depan cucunya.


“Kenapa kamu tak mengizinkan Mia mengembangkan bakatnya, diluar sana banyak anak yang punya kesempatan untuk mengembangkan bakat dan mewujudkan cita-citanya?” tanya Danu ingin tahu pendapat Regata.

__ADS_1


“Kemarin telapak tangan dan kaki Mia kapalan. Kulitnya ada yang terkelupas, otot lengan dan kakinya sakit, seluruh badannya kram. Tadi dia tertidur dengan dahi berkerut, pasti semua badannya sakit” ujar Regata yakin.


“Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah keinginan. Ayah yakin, Mia tahu kalau dia harus melewati proses itu” ujar Danu tenang.


Danu sengaja tak berbicara panjang lebar tentang proses itu, Regata tak tahu hari pertama Mia diwajibkan lari dengan jarak 3 Km. Cucunya kelelahan hingga muntah berkali-kali karena lintasan panjang yang harus ditempuh.


“Tapi ayah, masih banyak cita-cita yang lain yang resikonya tak sebesar jadi atlet yah. Ayah tahu sendiri, jadi atlet itu ibarat judi. Harus siap kalah dan menang. Semua atlet juga harus menempuh disiplin yang sama. Ada yang mampu bertahan dan bersaing, ada yang harus menyerah. Belum lagi cedera, pemulihan pasca cedera, dan resiko cedera yang harus ditanggung seumur hidup” ujar Regata, memalingkan wajahnya menatap Danu meminta pengertian lelaki yang dia sebut ayah.


Danu tertawa. Terjawablah alasan dibalik kekhawatiran Regata.


“Karena itu kamu sebagai orangtua harus membiarkan Mia memilih. Biarkan Mia bertanggung jawab pada pilihannya. Tugas orang tua memfasilitasi dan menuntun agar Mia tetap fokus pada pilihannya”


“Kamu ingat, dulu ayah gak setuju kamu jadi Dokter. Ayah berusaha menuntut kamu untuk jadi pebisnis, atau bekerja di bidang konstruksi. Pilihan ketiga yang ayah tawarkan waktu itu sekolah kedinasan Tenaga Nuklir” ujar Danu mengenang tawaran ketiga yang terkesan gila. Arimbi sampai berulang kali mengingatkan Danu bahwa kemungkinan terpapar radiasi sangatlah besar. Regata bisa terkena penyakit kulit bahkan resiko mati muda. Ya, bagaimana lagi di jaman itu prospek lulusan Tenaga Nuklir sangatlah cerah ikatan dinas itu belum seterkenal sekarang dan belum banyak pesaingnya.


“Tapi kamu bersikeras ingin jadi Dokter. Alasanya mulia sekali, ingin mengobati orang sakit” ujar Danu terbahak mendengar alasan klise Regata dulu.


Danu pun mengakui, apa yang terjadi pada Mia sekarang adalah karma akibat sikapnya di masa lalu. Sikap kerasnya pada Regata melahirkan sikap keras lain oleh Regata kepada cucunya. Danu berusaha mengeluarkan Regata dari lingkaran setan, perasaan takut dan asumsi yang belum tentu terjadi.


“Khawatir terhadap masa depan anak sebagai orang tua itu manusiawi, yang tak manusiawi itu menghalangi pilihan anak. Kamu sudah ngobrol sama Mia?” tanya Danu membalas tatapan Regata. Ada keraguan dalam mata putrinya.


Regata tak bisa menjawab pertanyaan itu, tanpa bertanya pun dia tahu Mia tetap pada pilihannya. Kecintaannya pada badminton telah membuat Mia berani berbohong dan diam-diam berlatih tanpa seizinnya.


“Mia sudah bertemu Lintang” ujar Danu

__ADS_1


Regata tegang. Hatinya terasa dicubit saat Danu menyebut nama Lintang. Cepat atau lambat orang tuanya akan membahas masalah ini, dia tak bisa mengelak lagi.


“Kamu udah cerita pada Mia?” tanya Danu ingin tahu.


Regata dilanda kebingungan, sifat perfeksioni menuntutnya agar menyelesaikan satu masalah dulu bersama Mia baru masalah Lintang.


“Ayah paham kamu kesulitan menjelaskannya mungkin bisa kamu diskusikan dengan Lintang” ujar Danu.


Regata mengernyitkan dahinya. Lintang mendapat lampu hijau dari ayahnya sementara Regata tak pernah berpikir Lintang menjadi bagian dari masa depannya.


“Lintang dan kamu punya hak yang sama sebagai orang tua. Memangnya kamu mau Mia dengar tentang Lintang dari orang lain?” tanya Danu


 Regata tak bisa mengelak lagi. Untuk kesekian kalinya dia mendengar pertanyaan itu, kali ini terdengar seperti sindiran. Mungkin memang butuh sindiran yang diucapkan langsung oleh ayah atau ibunya orang yang mungkin akan turun tangan kalau Regata terlalu  lama mengulur waktu.


“Ata bakal jelasin pelan-pelan ke Mia” ujar Regata mengakhiri obrolan malam itu.


Regata singgah sebentar ke kamar Mia. Putri kecilnya tidur menyamping. Keringat yang mengalir dari kepala dan keningnya menyiratkan betapa lelahnya dia hari itu.baru melihat latihan Mia satu hari saja sudah membuat perasaan campur aduk.


Regata menyeka keringat di wajah dan Rambut Mia, memandang wajah putrinya. Dia membuka majalah atlet terbitan PBSI yang pernah Mia berikan padanya. Halaman tengah majalah itu terpampang profil Lintang.


Bagaimana caranya memberitahumu


Bisik Regata pelan. Jemarinya menyentuh gambar Lintang.

__ADS_1


Regata menyimpan kembali majalah itu, lalu meninggalkan kamar Mia. Gadis kecil itu membuka matanya, menerka ucapan ibunya.


...----------------...


__ADS_2