Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Kesempatan


__ADS_3

Rapat anggota DPR telah usai beberapa menit yang lalu, Danu mengaktifkan kembali ponselnya memeriksa pesan dan panggilan masuk. Diantara deretan pesan, ada pesan masuk dari istri dan anaknya. Rapat penting ini terpaksa diadakan malam hari mengingat mereka tak punya kesempatan melakukan rapat di keesokan harinya karena ada tugas lain yang menanti.


Sekretaris Danu membawa berkas penting untuk ditandatanganinya, berkas penting itu tentang proyek pembangunan ibu kota baru yang telah Danu baca siang tadi dan dia meminta agar beberapa berkas di lengkapi dan beberapa hal yang dianggap tidak perlu segera dihapus dan diganti.


Danu melirik jam tangannya, hampir pukul tiga dini hari. Dia segera menandatangani berkas yang lumayan banyak menggunakan tanda tangan asli dan cap basah tanpa difotocopy karena itu adalah dokumen penting yang harus segera diantar besok pagi.


Setelah selesai, Danu bersandar di kursi putar miliknya. Dia memejamkan mata berusaha tidur sejenak karena waktu dan kondisi tidak memungkinkan dia bolak ke rumah dan kantor, itulah sebabnya dia selalu menyiapkan baju ganti dan keperluan mandinya di kantor.


*****


Hari sabtu telah tiba, hari ini Lintang menghubungi Arimbi ibu Regata, namun tak ada jawaban. Dia mengendarai mobilnya menuju kediaman kedua orang tua Regata. Satpam di gerbang mempersilahkan Lintang masuk setelah memeriksa tidak ada yang mencurigakan di dalam mobil Lintang.


Sebelum pintu diketuk, Lintang melihat Arimbi sedang menggunting daun-daun kering di samping halaman rumahnya. Dia mendekat dan menyapa Arimbi. Arimbi tentu saja tak kaget dengan kehadiran Lintang, karena kemarin dia sengaja tak menjawab telepon pria yang adalah ayah cucunya.


“Selamat sore tante” sapa Lintang sopan.


“Oh ya, silahkan duduk” ujar Arimbi mempersilahkan Lintang duduk di kursi yang disediakan di teras samping rumahnya yang mengarah langsung ke taman miliknya.


Arimbi membiarkan Lintang duduk, ditemani teh hangat dan camilan yang disuguhkan asisten rumah tangga. Lintang tak sabar menunggu Arimbi selesai menggunting tanaman-tanamannya. Dia menyusun kata-kata pembuka yang cocok untuk menanyakan Regata sekaligus menuntaskan rasa penasarannya.


Arimbi melihat Lintang, lelaki muda itu tampak kikuk dia tak menyentuh teh dan camilan melainkan fokus melihat Arimbi. Arimbi menyerah, dia meletakan gunting taman dan duduk di hadapan Lintang.


“Ada apa” tanya Arimbi tanpa basa-basi.


“Anu... tante beberapa waktu lalu saya lihat Regata di klinik dr. Edgar. Boleh saya ketemu Regata?” tanya Lintang, wajahnya penuh harap.

__ADS_1


“Regata gak ada” jawab  Arimbi singkat.


“Boleh minta nomor teleponnya?” tanya Lintang lagi.


“Ada hal yang ingin saya tanyakan langsung pada Regata”


Seperti biasa Arimbi menggunakan bermacam-macam alasan mencegah mulut embernya salah membocorkan rahasia Regata. Lintang pun tak mau kalah, berbagai macam bujuk rayu dia lemparkan pada wanita yang dulu hampir menjadi calon mertuanya.


“Saya lihat Regata bersama seorang pria, wanita tua dan anak kecil, anak perempuan” ujar Lintang lemah.


“Kalau memang dia telah berkeluarga tak apa, saya hanya ingin mengucapkan maaf dan berpisah dengan benar” ujar Lintang


Apanya yang baik-baik saja, selama delapan tahun tersiksa sendirian, karena keluarga Regata belum memberikan lampu hijau, tentu aku juga harus memperbaiki diri. Regata datang dari keluarga terpandang dan penuh prestasi tak pantas rasanya kalau aku hanya jadi menantu yang biasa-biasa saja batin Lintang.


Lintang masih di sana bernegosiasi agar mendapat informasi tentang Regata tapi tak berhasil hingga Danu muncul bersama Mia. Lintang meneliti Mia yang langsung berlari ke arahnya.


“Lintang juara All England kan?” tebak Mia sambil mendekat.


Lintang senang anak kecil dihadapannya mengenal dirinya. Lintang menyapa gadis kecil itu, wajahnya mirip Regata. Tak perlu bertanya pun Lintang bisa menebak ini anak Regata, tapi wajahnya tak mirip lelaki yang dia temui di klinik tampaknya gen Regata lebih mendominasi.


“Boleh minta tanda tangannya?” tanya Mia


“Boleh” ujar Lintang senang, kehadiran anak kecil ini mencairkan suasana canggung diantara mereka.


“Mia, habis ini kamu harus mandi dan istirahat” tegur Danu dingin.

__ADS_1


“Dari mana Kakek kenal Om Lintang?’ tanya Mia pada Danu.


Air muka ketiga orang itu berubah, antara aneh, lucu, terkejut bercampur jadi satu. “Om” kedengarannya agak...


“Kamu habis latihan? “ tanya Lintang melihat perlengkapan olahraga Mia sambil membubuhkan tanda tangan di tas raket dan jersey Mia.


Mia mengangguk lalu menceritakan kegiatan latihannya. Danu dan Arimbi melihat interaksi keduanya dalam diam. Lintang menawarkan melatih Mia di akhir pekan dan waktu liburnya Danu menolak tegas dan segera membawa Mia pergi dari hadapan Lintang.


“Kakek....” rengek Mia matanya berkaca-kaca.


“Om Lintang harus kembali ke asrama. Lain kali baru kita ketemu lagi” ujar Danu.


“Kakek, sebentar saja” ujar Mia dia masih ingin bertanya tentang pekerjaan Lintang namun Danu terus mencegahnya.


“Om Lintang harus izin ke mama kamu dulu” ujar Danu akhirnya. Kalimat itu mengalir begitu saja dari mulutnya tanpa bisa dicegah.


Mia tak berkutik. Gadis kecil itu menyerah memilih menuruti perintah kakeknya.


Sepulang dari rumah Regata, perasaan Lintang semakin menggebu. Lelaki macam apa yang dinikahi Regata. Regata dan suaminya pasti sangat sibuk sampai hari sabtu pun membiarkan putrinya hanya bersama kakek dan neneknya. Gadis kecil itu, Lintang melihat celah di sana, celah agar dia dan Regata bisa bertemu.


 


...----------------...


 

__ADS_1


__ADS_2