
"Dok, tolong dok ada pasien gawat di bangsal ibu dan anak ruangan Anggrek nomor 1A"
"Baik saya ke sana"
"Dokter Iwan, saya ke ruang Anggrek 1A ada pasien gawat di sana" ujar Regata pada teman dinas malamnya Dr. Iwan yang sedang menulis asesmen.
Regata berlari menuju ruang yang dimaksud perawat yang baru saja menelponnya.
"Mana pasiennya?" tanya Regata pada perawat yang bertugas.
Mereka mengarahkan Regata pada ruang kelas yang dimaksud.
Tampak sang ayah menjauhkan bayi yang baru berusia 0 hari dari ibunya.
Ibu sang bayi sedang meronta-ronta kesakitan. Dia memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya.
Regata mengambil tindakan menenangkan pasien yang sedang dipegang oleh dua orang keluarganya.
Regata berusaha mengajak pasien berkomunikasi sembari memperhatikan wajah, tingkah laku, makanan, obat, dan muntah yang berserakan di dekat ranjang.
__ADS_1
"Dok saya rasanya ingin mati dok. Kepala saya ingin pecah dok, perut saya sakit sekali, saya juga gak tahan bayi saya terus menangis" rengek ibu tersebut.
Setelah pasien sudah agak tenang, Regata menjelaskan bahwa sang ibu butuh istirahat. Dia meresepkan obat pereda nyeri. Obat pereda nyeri tersebut memiliki efek mengantuk sehingga pasien bisa tidur malam ini.
"Bapak bisa ikut saya sebentar?" bisik Regata pada suami sang ibu.
Sambil menggendong bayi, dia mengikuti Regata ke ruang dokter yang ada di bangsal itu.
"Saya bawa status pasiennya" ujar Regata pada penanggung jawab tim jaga di ruangan itu.
"Perkenalkan Pak, saya Regata Saraswati dokter umum yang malam ini bertugas di IGD. Saya tadi sudah melihat kondisi istri bapak dan rekam medisnya. Kemungkinan istri bapak terkena sindrom pasca kehamilan. Saya akan kontak Dokter Wina sebagai dokter yang merawat istri bapak. Selanjutnya bapak bisa konsultasi dengan dokter saat visit besok" ujar Regata.
"Dok, apa depresi pasca kehamilan hal yang wajar dialami seorang ibu? saya tidak berada di posisi istri saya, dan kemarin istri saya melalui proses persalinan caesar" ujar bapak tersebut.
Pertanyaan bagus. Regata kagum di usia yang masih muda, delapan belas tahun. Bapak satu anak di hadapannya mampu ambil alih mengasuh anaknya, saat kondisi istrinya sedang tidak stabil.
"Tidak semua perempuan mengalami depresi pada masa kehamilan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kondisi ibu, mulai dari faktor psikis ibu,kesiapan ibu untuk mengandung dan melahirkan, faktor lingkungan, tempat tinggal, faktor ekonomi, dan lain-lain" ujar Regata.
Regata dan pasien tersebut ngobrol-ngobrol sebentar sebelum akhirnya mereka pamit melanjutkan kegiatan masing-masing.
__ADS_1
Regata menghubungi dokter Wina menceritakan kejadian dan menjabarkan asesmen tanda-tanda vital pada dokter Wina. Dokter Wina berjanji besok pagi sebelum menuju RSUD dia akan datang melihat kondisi pasien.
"Erna ini saya kembalikan status pasien. Saya sudah telepon dokter Wina, besok pagi beliau datang visit pasiennya" ujar Regata pada Erna kepala tim jaga. Erna sigap membuat catatan pada white board, yang terpasang di dinding nurse station.
"Kasihan ya dok, dua-duanya masih delapan belas tahun. Suaminya cleaning service di kantor camat, istrinya teman SMA nya dulu" ujar Erna.
Regata manggut-manggut mendengar cerita Erna. Regata bernostalgia kisahnya melahirkan Mia. Memang kita tidak bisa menduga kondisi orang lain saat masa kehamilan dan melahirkan.
Regata cukup bangga pada dirinya bisa melewati masa-masa susah saat pertama kali jadi ibu. Karena itu, Regata tidak pernah memandang remeh perempuan dalam kondisi hamil dan pasca melahirkan yang butuh perhatian ekstra. Bukan karena mereka cengeng, melainkan mereka sendiri pun tidak mampu mengendalikan perubahan emosi, rasa sakit, belum lagi melewati masa menstruasi pertama setelah melahirkan. Rasanya hampir pembalutnya penuh dan harus segera diganti.
"Gimana dok udah aman?" tanya dokter Iwan menyela percakapan mereka.
"Pasiennya sudah tidur" tunjuk Regata ke arah pintu kamar pasien tersebut.
"Gak ada pasien dok di depan?" tanya Erni.
"Ada banyak, makanya saya nyusul Regata ke sini. Regata hp nya ditinggal, kalian dihubungi gak ada yang angkat. Yuk Regata buruan ditungguin" ujar dokter Iwan sembari berjalan kembali ke IGD.
"Saya pergi dulu" pamit Regata.
__ADS_1
...----------------...