
Minggu siang yang terik Genta dan Mia menghabiskan waktu di Timezone, berbelanja, dan mencoba kuliner terkenal di pusat kota. Sepanjang perjalan Genta memperhatikan pandangan Mia selalu tidak fokus, gadis kecil itu seolah mencari-cari sesuatu. Genta memarkirkan mobilnya di depan gerai Yonex badminton di jalan Yos Sudarso. Mata Mia berbinar bahagia, namun beberapa detik kemudian gadis kecil itu kembali murung.
Genta bisa menebak pikiran Mia dengan mudah.
“Biar om yang bilang ke mama kamu” ujar Genta sembari menggendong Mia masuk ke dalam toko perlengkapan olahraga itu.
“Selamat siang” sapa pria berkumis tipis pada Genta dan Mia.
Genta berkeliling toko itu sambil bertanya jenis raket yang cocok untuk anak seusia Mia, sepatu, tas`raket, setelan olahraga dan perlengkapan lainnya. Genta mendengarkan dengan saksama penjelasan pria itu lalu dibiarkan Mia memilih peralatan olahraga yang direkomendasikan penjaga toko.
“Kamu sudah selesai?”
Sebuah pesan masuk mengagetkan Regata yang sedang asyik melakukan perawatan kuku. sayangnya kuku tangannya tidak boleh dibiarkan panjang dan dicat, sekalipun saat bekerja Regata selalu menggunakan sarung tangan dia tidak bisa memprediksi kapan dirinya dipanggil menjadi asisten dokter bedah.
__ADS_1
Perawatannya masih lama. Belum kuku kaki, rambut, dan berbelanja mungkin kegiatannya akan berakhir lewat dari jam enam sore. Regata sudah berkali-kali menolak tawaran Genta menjemputnya, di bisa saja pulang naik taxi online namun Genta keukeuh ingin mengantar jemputnya. Regata tidak punya cukup tenaga untuk bertengkar dengan pria, kalau dipikir-pikir mengurangi pengeluaran taxi online.
Wajah Genta berseri-seri menyaksikan Mia semangat berlatih. Sebuah ide kecil mendadak muncul di otaknya saat Regata bilang dirinya masih lama. Sekarang baru pukul setengah empat sore dan Mia punya banyak waktu berlatih di GOR Pak wahyu. Genta bersorak-sorai diujung lapangan memberi semangat pada Mia yang sedang berlatih.
“Papanya Mia, minum dulu awas tenggorokannya kering kebanyakan teriak” Bu Wahyu begitu panggilan istri Pak Wahyu yang entah sejak kapan telah berada di samping Genta, menawarkan sebotol air mineral.
Genta segerah menegak air tersebut hingga setengah. Rasa gugup dan senang terpancar dari wajah tampannya. Bu Wahyu mengajak Genta ngobrol dan mulai menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Bukannya mengelak Genta malah antusias menceritakan kesehariannya.
“Mah, ini bukan Ayahnya Mia, ini Dokter bedah, rekan kerja mamanya Mia” Nimbrung Pak Wahyu.
“Jangan diladeni Pak Dokter. Kalau kata anak sekarang terlalu kepo” bisik pak Wahyu.
“Tapi saya juga penasaran kenapa ibunya Mia begitu menentang putrinya berlatih badminton. Kalau soal cedera saya rasa itu adalah resiko seorang atlet. Jangankan lari, jalan saja bisa jatuh. Lagi pula putrinya punya tekad yang besar jadi atlet badminton kenapa tidak kita dukung saja. Saya rasa Dia tidak akan mengecewakan mamanya dengan pilihannya” ujar Pak Wahyu.
__ADS_1
Kedua pria itu terdiam. Genta setuju dengan pendapat Pak Wahyu, sejak beberapa minggu yang lalu dia ingin menanyakan alasan itu tetapi belum menemukan waktu dan kondisi yang tepat. Seingat Genta Regata sangat serius menyaksikan pertandingan badminton di kliniknya bulan lalu.
“Oh ya, Mia kapan berangkat?” tanya Pak Wahyu.
Genta mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu.
“Berangkat ke mana?”
“Ke Jakarta, ada lomba menggambar dan mewarnai tingkat usia dini”
Regata tidak mengatakan apapun padanya, batin Genta. Informasi sepenting ini luput dari perhatiannya, mana bisa begitu. Meskipun Regata tidak menganggapnya penting, tapi Genta akan menolong Mia. Banyak ide besar terlintas di kepalanya dia mulai mencocokan tanggal keberangkatan Mia dan jadwal operasinya. Waktunya tinggal menghitung hari.
Ketiga orang itu sampai di rumah. Regata yang akhir-akhir ini terlihat kusut muncul dengan tampilan baru, rambut warna mocca impiannya tergerai indah. Kuku kakinya dicat dengan sewarna hijau muda yang menambah kesan cerah di antara kulit putihnya. Bi Nina tersenyum kecil melihat penampilan baru majikannya.
__ADS_1
“Om jangan beritahu rahasia kita” bisik Mia sebelum Genta meninggalkan rumah Regata malam itu.