Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Rencana Lintang


__ADS_3

Pesta telah selesai. Semua keluarga sudah berpamitan. Sesuai kesepakatan kedua keluarga inti, Mia akan tinggal di Bandung bersama kakek neneknya. Menurut keluarga, saat ini suasana di Bandung lebih memungkinkan untuk membesarkan Mia. Sedangkan Lintang, Arimbi, dan Regata kembali ke Jakarta. Danuh telah berangkat lebih dahulu bersama tim yang diperintahkan untuk menjemputnya.


Sepanjang jalan ke Jakarta, Lintang dan Regata sibuk membicarakan tentang rencana-rencana hebat mereka. Sedangkan Arimbi hanya sesekali menyahut jika ditanya.


Arimbi sibuk melihat laporan yang dikirimkan Yayasan Thalasemia padanya, serta laporan dari rumah sakit. Aset-aset tersebut atas nama Regata. 


Pasca penahanan suaminya, banyak pendonor mempertanyakan keberlanjutan yayasan. Beruntungnya pengunjung rumah sakit tetap stabil dan tidak ada kendala terkait klaim asuransi, dan pelayanan.


Arimbi sibuk menyiapkan rundown rapat pertemuan dengan dewan Yayasan dan pendonor. Memang sedikit terlambat, sejak rumor dan penahanan merebak, Arimbi segan termasuk perihal memastikan keberlanjutan Yayasan.


"Mom, are you ok?," tanya Regata khawatir.


"Mami lagi pusing susun materi untuk rapat sama dewan Yayasan," jawab Arimbi cepat.


Arimbi sudah lama tak bergaul dengan teman-temannya di Yayasan, meskipun selalu dilaporkan perkembangan pasien dan donor-donor yang masuk tetap saja Arimbi merasa kewalahan.


Regata menawarkan bantuan untuk memeriksa laporan rumah sakit agar Arimbi bisa fokus dengan rapat yang akan digelar minggu depan.

__ADS_1


Arimbi menurut saja, lalu mengirim laporan rumah sakit pada Regata. Arimbi tak menuntut Regata untuk tahu lebih dalam toh Regata harus pelan-pelan belajar sebelum ambil alih di manajemen rumah sakit tersebut.


****


Mereka bertiga tiba di Jakarta, di salah satu kawasan perumahan kelas menengah. Lintang mengarahkan Regata dan Arimbi ke ruang tamu dan memperkenalkan isi ruangan itu. Rupanya Lintang sudah menyewa jasa angkut memindahkan barang-barangnya dari paviliun yang meraba sewa ke rumah pribadi Lintang.


"Selamat datang di rumah kita," kata Lintang pada Regata dan mertuanya.


Mereka segera membereskan barang-barang yang dibiarkan menumpuk di ruang televisi.


Keduanya hanya mengangguk.


"Mau jalan-jalan gak keliling kompleks," tawar Lintang.


Regata mengangguk bersemangat.


Keduanya berjalan pelan mengitari kompleks perumahan itu.

__ADS_1


"Gimana kelanjutan karir kamu?," tanya Regata sambil menggandeng tangan Lintang.


"Sebenarnya banyak tawaran yang datang dari Eropa. Ada yang nawarin jadi pemain ada juga yang nawarin jadi pelatih di level junior. Aku masih nunggu kepastian dari PBSI karena sekarang statusku masih pemain pelatnas," kata Lintang.


"Kamu sendiri niatnya bakal gimana?," tanya Regata lagi.


Sebagai istri, Regata merasa perlu melihat rencana-rencana Lintang. Keputusan Lintang akan menentukan dimana Regata akan berkarir. Mereka pernah terpisah untuk waktu yang lama, saat ini pun Mia harus dititipkan di Bandung, bagaimana kalau Lintang memilih ke luar negeri? batin Regata.


"Usiaku 28 tahun, dan staminaku masih bagus masih bisa bermain lebih lama. Lagi pula aku belum sumbangin medali emas untuk Indonesia baik di level teratas ataupun di turnamen beregu," jelas Lintang.


"Target semua pemain emas Olimpiade, itu udah kayak cita-citanya semua atlet dan aku sedang berusaha untuk sampai ke sana," ungkap Lintang.


Regata melihat ada binar kebahagiaan di wajah Lintang saat berbicara tentang tujuannya. Badminton bukan lagi sekedar profesi bagi Lintang, tetapi sudah jadi tujuan hidup lelaki itu. 


"Jangan pernah ragu dan putus asa ya, sekarang sudah ada aku, Mia, keluargaku, keluargamu. Kita selalu ada dibelakang kamu," ujar Regata sembari membenamkan wajahnya di lengan Lintang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2