
“Tidurlah, besok baru kita bicara” ujar Danu membelai rambut Regata.
Regata menengadahkan wajahnya menatap Danu. Wajah ayahnya nampak lelah. Uban di rambut ayahnya tak mampu menyembunyikan kenyataan bahwa umur ayahnya telah bertambah.
Regata menghapus air mata di wajahnya. Danu memandangi wajah putrinya, caranya menghapus air mata sama seperti saatnya kecil. Tak ada yang berubah di mata Danu, Regata tetap putri kecilnya.
Arimbi ikut bergabung bersama mereka. Regata bergantian memeluk kedua orangtuanya, dalam hati mohon ampun atas segala perbuatan yang telah dia lakukan dari kecil hingga saat ini.
****
Regata menatap gedung olahraga tempat Mia berlatih bulu tangkis. Hari ini Danu dan Arimbi sedang sibuk mengurusi pekerjaan mereka. Mereka makan malam bersama di rumah. Regata tak punya kegiatan lain selain menemani Mia selama seharian penuh. Danu dan Arimbi mendaftarkan putri kecilnya mengikuti homeschooling agar mudah mengatur waktu latihan.
Mia menuntun Regata menuju lapangan tempatnya berlatih. Mia dilatih secara privat oleh pelatih yang usianya sudah sangat tua. Wanita berpostur kurus dan nampak bungkuk itu di dampingi asistennya. Wajah pelatih itu tak asing. Regata mencari-cari di mana wajah itu pernah dilihatnya.
__ADS_1
Selama latihan berlangsung, Regata mengamati Mia. Menurut Regata putrinya cukup lincah untuk anak berusia delapan tahun. Latihan hari ini adalah drilling bagi pemula. Mia dilatih ulang dengan metode yang lebih terstruktur.
Pelatih melempar kock dari tempat yang tinggi di tribun penonton, Mia memukul bola yang dilemparkan berulang-ulang. Kock yang dilempar akan sangat berguna bagi pemula karena laju kock lebih lambat pukulan lebih terarah.
Setelah pelatih merasa cukup dengan teknik itu, Mia diizinkan istirahat selama tiga menit. Mia menegak air mineral dan mengelap keringat yang mengalir hingga pergelangan tangan dan kaki.
Pukulan selanjutnya pelatih berdiri di seberang net. Bola lambung yang dikembalikan Mia di pukul satu arah mengikuti arah yang dilempar pelatih. Tidak ada variasi dalam pukulannya, langkah Mia pun masih tertatih. Regata mengikuti proses latihan dengan saksama, menerka teknik yang sedang diajarkan kepada Mia. Enam jam berlalu dengan cepat, di pukulan-pukulan terakhir Regata melihat Mia mulai meniup-niup tangannya yang memegang grip raket.
Usai latihan Mia mendekat ke arah Regata.
Regata sanksi. Memang anak usia mereka tidak datang sendiri ke tempat itu melainkan diantar orangtua. Fasilitas mandi terasa kurang nyaman bagi Regata. Regata tak mengizinkan Mia mandi setelah latihan, biar saja keringatnya mengering di badan sampai mereka tiba di rumah.
Regata menarik tangan Mia yang tampak kemerahan. Dibukanya kepalan tangan putrinya yang tampak memerah. Wajah Mia menciut, kapalan di telapak tangan tak mampu disembunyikannya. Ada bagian yang mulai terkelupas dari kulit tangan yang menebal. Regata memaksa Mia membuka sepatunya, memeriksa telapak kaki Mia. Benar saja, telapak kakinya pun kapalan akibat bergesekan dengan kaus kaki dan alas sepatu.
__ADS_1
“Ma, mama gak marah kan?” tanya Mia menggandeng tangan Regata menuju parkiran.
“Sakit gak?” tanya Regata.
“Sakit Ma, pas awal-awal. Sekarang udah biasa aja” ujar Mia.
Putri kecilnya bercerita awal latihan sendi-sendinya terasa ingin lepas. Otot lengan dan otot pahanya terasa sakit. Tak jarang dia merasakan kesemutan setelah latihan namun itu semua dia yakini sebagai proses karena tak ada atlet yang langsung juara tanpa melewati proses latihan yang meyakinkan.
Regata akui Mia semakin pintar. Kualitas latihan dan lingkungan tempat tinggal telah membuka pikiran putrinya menjadi lebih maju.
“Besok latihannya jam enam sore. Paginya sekolah” Mia memberitahu jadwalnya.
Regata tersenyum kecut, hatinya dipenuhi rasa bimbang.
__ADS_1
...----------------...