
Sebuah baki berisi nasi pulen beserta lauk yang dipesan telah berada di hadapan mereka. Ada cumi asam manis, capcay, kepiting, ikan tuna dan menu-menu lainnya yang tidak Gent ketahui namanya. Genta melihat karbohidrat, protein, lemak yang disajikan bersama. Dia berpikir sejenak kemudian mengangkat bahunya. Tidak masalah, sudah lama dia tidak makan sebanyak ini.
Genta mulai menggulung lengan kemejanya dan bersia memisahkan kaki-kaki kepiting.
"Om Genta suka kepiting?" tanya Mia sembari menyendok capcay ke piringnya.
"Iya. Sudah lama om gak makan kepiting" ujar Genta.
"Mama gak suka kepiting. Kata mama makanya ribet dan berisik" ujar Mia.
Genta tertawa. Ya manusia tidak sabaran itu, lihat saja mukanya di ruang operasi kesal melulu. Genta membayangkan Regata bersikap yang sama pada kepiting-kepiting lezat di hadapannya.
"Kenapa om tertawa" tanya Mia menatap lekat Genta.
"Lanjutkan ceritamu tentang kamu dan mamamu" ujar Genta
__ADS_1
Mia menceritakan bahwa Regata melakukan sesuatu dengan cepat dan Mia harus mencontohnya. Bangun harus cepat, belajar harus cepat, jalan, makan pun harus cepat. Kata mama kalau tidak cepat-cepat akan ketinggalan dari yang lainnya.
Genta memberitahu Mia bahwa tidak semua hal harus dilakukan dengan cepat, nanti bisa berbahaya bagi kita dan orang lain. Mia juga bercerita bahwa Regata tidak suka kalau dirinya tidak pintar berhitung dan olahraga dan mamanya berharap agar saat dewasa nanti dia bisa menjadi dokter.
Semakin lama mereka berbicara, semakin kuat feeling Genta bahwa alasan Regata menerima pekerjaannya karena dia harus memiliki biaya tambahan sementara tempat kerja yang lain menawarkan gaji yang lebih kecil dibanding di kliniknya.
Sebenarnya bukan urusan Genta tapi entah mengapa Genta merasa Regata terlalu memaksakan kehendaknya pada putrinya. Alasannya pun tidak masuk akal.
Genta diam - diam memperhatikan Mia yang makan dengan lahap di hadapannya. Genta yakin Regata pasti super hemat, dan jarang mengajak putrinya makan di luar. Ya tabungan masa depan memang berguna, tapi kenapa dia tidak menyisihkan penghasilannya untuk bersenang-senang dengan Mia, bahkan makan ice cream pun banyak aturan. Sekali lagi ini bukan urusannya tetapi hati kecilnya menolak untuk mengabaikan cerita putri kecil dihadapannya.
"Boleh" ujar Genta games.
"Habis ini kita makan ice cream" ajak Genta.
Mata Mia semakin berbinar.
__ADS_1
Mia aku yang jemput, Bi Nina lagi di rumah sakit umum, suaminya kecelakaan.
Pesan singkat dari Dokter Genta terpampang di layar. Tujuh panggilan masuk dari Bi Nina, tiga panggilan masuk dari dr. Jenar. Regata segera menuju tempat suami Bi Nina dirawat. Dia memeluk Bi Nina berusaha menenangkan wanita yang telah bekerja selama delapan tahun dengannya.
Regata meminta agar suami dan keponakannya dipindahkan ke ruangan VVIP, dia akan membayar semua biaya rumah sakit. Regata menemani Bi Nina sambil terus mengirim pesan pada dr. Genta menanyakan putrinya yang tentu saja diabaikan dr. Genta.
Jam menunjukan pukul 18.00 WITA saat Genta dan Mia tiba di rumahnya. Regata menunggu di gerbang. Tatapannya horor memandang seragam Mia yang lusuh, dan ada noda di bagian dadanya. Dokter Genta pun tak kalah lucunya. Lengan baju yang digulung hingga ke siku, dan punggungnya yang tampak basah karena keringat.
"Ini buat kamu" Genta menyodorkan sate padang, taro milk tea, dan sekotak brownies.
Regata ingin marah, namun rasa lapar seketika memenuhi perutnya. Dia lupa kapan terakhir kali dia makan karena terlalu panik seharian ini.
"Hari ini kamu gak usah ke tempat praktek, jadi makannya pelan-pelan saja" ujar Genta.
Genta segera pamit karena wajah kesal Regata seolah menyuruh dia segera pergi, agar Regata dapat makan dengan tenang.
__ADS_1
...----------------...