
“Mama” suara Mia menggema di ruang keluarga milik Danu Atmaja dan Arimbi Sukoco. Mereka mengawasi video call Mia dan Regata. Mia berteriak kegirangan sedangkan Regata sibuk mengusap air mata. Rasa rindu tergambar jelas lewat sorot mata Regata.
“Kenapa ma, kok nanggis?” tanya Mia khawatir. Wajah cantik ibunya tampak basah dihiasi kedua kelopak matanya yang bengkak.
“Ma-ma kangen sayang” bisik Regata terbata-bata, tak mampu menahan isak tangisnya.
“Gimana lombanya sayang” tanya Regata mengalihkan pembicaraan.
“Juara harapan 3 ma, dapat uang Rp. 1.000.000, medali, sama sertifikat” ujar Mia penuh semangat sambil menunjukkan medali dan sertifikat.
Regata bertepuk tangan memberi Mia semangat sambil menahan tangisnya.
“Mia mama mau bicara sama Oma” ujar Regata setelah melepas rindu melihat wajah ceria putrinya.
Mia berlari ke pangkuan Arimbi yang sejak tadi menyaksikan Regata dan Mia berinteraksi.
“Ma” bibir Regata bergetar saat wajah Arimbi muncul di layar. Arimbi berusaha sekuat tenaga tidak ikut menangis melihat wajah Regata. Arimbi tak kuasa melihat Regata terus tersedu tak sanggup mengucapkan sepatah kata. Tangisan putri semata wayangnya telah mewakili apa yang ingin Regata katakan. Arimbi mengubah video call menjadi panggilan biasa agar Regata lebih leluasa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, Danu yang duduk di sampingnya segera menggendong Mia menjauh dari hadapan Arimbi.
“Ma, pulangin Mia. Dia satu-satunya yang Regata punya sekarang” ujar Regata.
“Sabar sayang, mama lagi usaha bujuk papa kamu. Kamu tahu sendiri sifat papa kayak gimana. Ata, Mia aman di sini” ujar Arimbi.
“Terus aku gimana ma, kenapa papa bawa Mia tanpa persetujuanku ma” Regata merengek pada Arimbi.
“Niat papa kamu baik, Mia akan dapat pendidikan yang berkualitas di sini”
“Ma, aku ibunya. Ibu kandungnya, aku yang paling tahu apa yang terbaik buat Mia. Aku bisa kasih Mia pendidikan yang layak Ma, kami gak kekurangan apapun di sini”
“Tolong Ma, tolong Ata. Dari kecil Ata gak pernah minta apapun. Kali ini Ata mohon, mama tolong balikin Mia. Mia darah daging Ata ma, Ata gak bisa hidup tanpa Mia” tangis Regata makin kencang.
“Kalau kamu ingin Mia kembali, jemput dia di sini”
Tut! Sambungan telepon dimatikan.
__ADS_1
“Pa, apa yang papa lakukan!” hardik Arimbi berusaha merebut ponselnya yang telah berpindah ke tangan Danu.
Mia menatap kakek dan neneknya bergantian. Dia tampak kebingungan. Arimbi dan Danu yang sejak tadi mengabaikan kehadiran Mia kini salah tingkah.
“Mama kenapa?” tanya Mia pada kakeknya.
“Nanti mama jemput kamu ke sini" ujar Danu, nada suaranya melembut.
“Kakek, aku ingin dengan cerita” Mia duduk di sofa.
Danu dan Arimbi saling berpandangan, lalu duduk mengapiti Mia.
“Aku ingin dengar cerita tentang kelahiranku” ujar Mia menatap mereka bergantian.
Helaan nafas Danu terdengar berat, sedangkan Arimbi berusaha mengenang kembali memori itu.
“Saat kamu lahir, kakek gak ada. Hanya ibu sama nenek kamu” Danu menunjuk Arimbi dengan ujung bibirnya.
“Kakek kerja di Jakarta. Kamu lahir di Jogja, di kampung nenek kamu” Mia manggut-manggut. Ketiganya terdiam. Mia tampak ragu, dia menimang-nimang pertanyaan selanjutnya.
“Ada apa?” tanya Danu melihat wajah bimbang Mia.
“Ayah juga di Jogja?” tanya Mia
“Ibu kamu gak cerita?” tanggap Danu cepat.
Mia menggeleng lemah. Kini giliran Arimbi menghela nafas.
“Kalau ibu kamu ke sini, kamu tanyakan saja. Tapi tanyanya harus ada Oma sama Opa” ujar Danu mengajari Mia. Danu mengabaikan lirikan tak setuju Arimbi.
“Pa, mama gak setuju cara papa ngajarin Mia. Biar Regata yang jelasin ke Mia, kita gak perlu mencampuri terlalu jauh” ujar Arimbi memarahi Danu.
“Kamu sama putrimu itu sama saja. Suka menyembunyikan sesuatu, ujung-ujungnya apa? Papa yang harus beresin semua. Usia Mia sudah delapan tahun, mau sampai kapan ditutup-tutupi? Kalau Regata gak mau cerita biar papa aja yang cerita semua” balas Danu.
__ADS_1
Arimbi tak berkutik, dia mengakhiri perdebatan dengan suaminya. Arimbi memejamkan mata membiarkan Danu yang sedang termenung di sampingnya.
“Kakek apa mama marah?” tanya Mia sepulang dari pengumuman lomba. Mereka mengantar Pak Hayon ke bandara setelah memastikan uang hadiah lomba dikirim ke rekening sekolah.
“Kenapa harus marah?” tanya Danu
“Kalau pulang nanti, barang-barang ini taruh di sini aja ya” ujar Mia menunjuk perlengkapan badminton yang terbungkus rapi dalam tas.
“Kamu gak betah tinggal dengan kakek sama nenek?” tanya Danu.
“Betah” ujar Mia senang
“Lalu?” tanya Danu heran.
Mia bercerita tentang dia dan ibunya yang membuat Danu geram. Danu tak menaruh simpati pada lelaki yang Regata akui sebagai ayah kandung cucunya, tapi Danu tak sebodoh itu membandingkan kehidupan Mia dan Lintang. Regata begitu egois memaksa Mia melakukan hal yang tak disukainya, semua ini karena Lintang Wiryateja lelaki yang Regata bela di hadapannya. Di sisi lain Danu merasa Regata belum matang secara emosional saat melahirkan cucunya. Mentalnya belum siap menerima beban sebagai orang tua tunggal, akhirnya Regata keras pada Mia dengan harapan agar cucunya tak bernasib sama seperti orangtuanya, tapi kalau Regata tak jujur tentang kelahiran Mia maka semua usahanya akan sia-sia pikir Danu.
Danu tak dapat memejamkan matanya. Langit-langit kamar yang temaram karena pantulan lampu tidur menjadi pemandangan yang menarik malam itu. Dia sedang berkutat dengan pikirannya sebagai seorang ayah, dan seorang kakek.
“Belum tidur?” tanya Arimbi sambil menengok ke arah Danu yang sibuk menatap langit-langit.
“Kalau Ata datang, apa yang akan papa lakukan?” tanya Arimbi.
“Menurut mama?” Danu balas bertanya.
“Ata bakal diusir” jawab Arimbi.
Danu memejamkan matanya, lalu tidur membelakangi Arimbi.
...----------------...
__ADS_1