
Genta melihat unggahan pernikahan Regata dan Lintang. Seulas senyum terpancar di wajahnya. Genta mengingat-ingat saat Regata menjadi asistennya di rumah sakit.
"Ah sudahlah," batinnya mengusir kenangan tahun lalu.
Regata mengirimkan undangan untuknya dan juga beberapa rekannya termasuk Jenar. Sahabat Regata yang kini menggantikan pekerjaan Regata di kliniknya.
Bertahun-tahun Genta hidup di Manado baru sekarang pekerjaannya terasa membosankan dan monoton. Sempat terpikir olehnya untuk pindah ke Semarang atau Jakarta bersama ibunya.
"Ibu gak betah di Jakarta, sumpek," ujar mamanya saat Genta mengutarakan niatnya untuk pindah agar pengobatan mamanya lebih gampang.
Ibunya sempat mempertimbang Semarang, kota asal ayah Genta. Rumah di sana tidak terurus sementara pajak terus saja dibayar oleh Genta.
Sebagai seorang ibu, Sarira paham betul kegelisahan anaknya. Mungkin saja putranya merasa sudah waktunya untuk mengurus peninggalan ayahnya.
Memang suaminya, ayah Genta semasa bukanlah pria yang bijaksana. Mereka awalnya hanyalah pedagang kelontong biasa yang tengah giat-giatnya membuka usaha. Setelah kelahiran Genta, mereka banyak menerima rezeki tak terduga dan bisa memperoleh pinjaman dalam jumlah besar dengan bunga yang manusiawi saat itu.
Kata orang jaman dulu, berkah itu adalah rezeki anak. Usaha mereka semakin berkembang, yang awalnya toko kelontong Prayoga Almarhum suaminya mulai membuka toko-toko lainnya. Seperti toko bangunan dan tekstil.
__ADS_1
Semenjak Genta berusia 3 tahun, Prayoga mulai mengenal rekan-rekan bisnis yang tergabung pada himpunan para pengusaha. Sebagai seorang istri yang sejak kecil diajarkan untuk menurut pada suami, Sarira hanya bisa memberikan dukungan sambil terus mengasuh Genta sendirian.
Genta kecil tumbuh dengan baik meskipun Sarira selalu berbohong saat Prayoga melupakan janjinya untuk mengajak jalan-jalan. Karena Genta cenderung mewarisi sifat Sarira, kebohongan-kebohongan kecil itu, lama kelamaan menjadi kebiasaan yang diajarkan Sarira pada Genta.
Seiring berkembangnya usaha mereka, Prayoga mulai menambah karyawan. Sarira tidak lagi diizinkan bekerja di toko bahkan untuk membelanjakan barang toko sudah dipercayakan pada karyawan-karyawannya.
Sarira cukup sedih, tetapi mengalah demi menuruti keinginan suaminya.
"Ibu, ayah kapan pulang?," tanya Genta kecil suatu ketika saat pulang sekolah.
"Ayah berangkat ke Jogja tadi pagi. Kamu mau pesan oleh-oleh apa? nanti ayah belikan," ujarku kala itu menghibur anakku.
Genta tidak bertanya lebih lanjut melainkan langsung menuju kamarnya mengganti seragam, cuci tangan, dan makan.
Diam-diam aku mengirimkan pesan singkat lewat handphone nokia kecilku pada Prayoga, agar menyempatkan diri membeli oleh-oleh dari Jogja.
Ketika Prayoga kembali ke rumah, dia hanya menggendong Genta sebentar dan istirahat. Setelah itu pergi ke cabang-cabang toko kami. Kebiasan seperti ini terus berulang, hingga suatu siang salah satu pegawai toko datang ke rumah.
__ADS_1
"Bu Sari, Bu Sari," teriaknya dari teras depan.
Aku tengah menggosok baju di kamar mandi segera berlari ke depan membukakan pintu.
"Bu ke toko sekarang bu," ujarnya dengan nafas terengah-engah.
Perasaanku terasa aneh. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Segera aku berlari ke belakang dapur, memastikan kompor dan lain-lain dalam keadaan mati, menutup jendela dan mengunci semua pintu rumah kami. Aku tidak menghiraukan daster dan sendal kumal yang ku pakai, segera aku menuju ke toko kami.
Tampak olehku seorang pria sedang digiring oleh petugas kepolisian.
"Ada apa ini," tanyaku pada orang-orang yang berkerumunan di depan toko kami.
"Katanya pemilik toko selingkuh sama istri orang, dan suaminya bikin keributan di toko tadi," ujar orang-orang itu.
Kepalaku terasa berat, jantungku berdegup sangat kencang, rasa mual memenuhi perutku. Sesaat aku hilang kesadaran. Satu-satunya suara yang kudengar saat itu adalah suara putraku.
...----------------...
__ADS_1