
Suasana lokasi shooting hari itu cukup ramai, setelah drama terbarunya berjudul Catatan Hati Pelakor, Tara dan Tedja melanjutkan kegiatan mereka dengan shooting iklan jual beli online. Tara yang ogah-ogahan haru melakukan beberapa kali take adegan demi hasil iklan yang kelihatan natural dan tentunya menarik minat penonton.
“Cut, cut” ujar sutradara menghentikan sementara adegan. Sutradara sibuk memberikan arahan pada kedua talent itu.
“Ke, gue pergi bentar ya. Kalau Tara tanya, bilang gue balik ke kantor lagi ada urusan” ujar Prita pada Ineke, lelaki kemayu yang tergabung dalam tim wardrobe.
Prita melajukan mobilnya menuju salah satu theater film yang menayangkan pemutaran perdana film horor berjudul Dursila. Prita bergabung bersama para fans yang akan menyaksikan rilisnya film itu. Tiga puluh menit lagi film dimulai, Prita menengok kanan kiri mencari seseorang di antara crew film yang mengenakan baju dan ID Card khusus. Fendi tak tampak di antara mereka.
Prita sengaja datang tanpa memberitahu Fendi, lelaki itu bahkan tak mengabari kepulangannya dan tak menghubunginya selama hampir satu bulan. Prita pun gengsi menanyakan kabar lelaki yang acuh tak acuh menjawab hubungannya dengan rekan wanita satu timnya.
Sampai film di mulai Fendi tetap tak muncul. Kemana dia batin Prita. Prasangka buruk berputar di otaknya ditambah lagi wanita yang sempat Prita stalking sosial media yg tak kunjung muncul, dengan berat hati Prita meninggalkan tempat itu.
“Dari mana aja lu” tanya Tara, wajah juteknya melempar tatapan penuh curiga pada Prita.
“Kantor” jawab Prita tak bersemangat.
“Lo kalau mau bohong pinter dikit lah, gue telpon ke kantor gak ada tuh lo datang ke sana” cerocos Tara.
Prita diam seribu bahasa, pikirannya sedang tak fokus dia juga tak punya tenaga meladeni omelan Tara. Semenit yang lalu story ig perempuan itu foto popcorn dan dua minuman, dan tangan yang tak luput dari pandangan Prita. Tahi lalat di punggung tangan itu jelas milik Fendi. Setinggi apapun gengsi Prita, dia akhirnya luluh dalam rasa penasaran. Kejujuran Fendi satu-satunya yang Prita harapkan saat ini.
__ADS_1
*****
“Lo udah lama nunggu” tanya Fendi basa basi. Dia duduk di hadapan Prita.
Keduanya minum kopi di warkop pinggiran kota, warung itu tak ramai dikunjungi orang lampu kuning remang-remang menambah kegalauan hati Prita tak kala Fendi muncul tanpa rasa bersalah.
“Gimana filmnya” tanya Prita datar. Dia melipat tangan di dada memperhatikan Fendi yang sejak tadi sibuk mengutak-atik ponselnya.
“Ini lihat penontonnya melebihi target di hari pertama” ujar fendi antusias.
“Kamu kok pulang gak bilang sih” Prita menyeruput kopinya.
“Sibuk Prit, gue gak bisa leha-leha setelah syuting. Gue ikuti juga proses editingnya sampai final” ujar Fendi meyakinkan Prita.
Kening Fendi berkerut, mereka beradu pandang. Wajah Fendi tampak gugup.
Prita menyodorkan tangkapan layar status perempuan itu. Fendi menatap sejenak tangkapan layar itu lalu menghembuskan nafasnya berat.
“Terus mau kamu apa?” tanya Fendi.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Prita bingung. Fendi bertanya seolah Prita yang kedapatan selingkuh, sorot mata Prita mengundang seribu tanya.
“Siapa perempuan ini sebenarnya” tanya Prita.
“Bukannya pertanyaan ini sudah pernah aku jawab, kami mengerjakan project film ini bersama” jawab Fendi.
Naluri Prita mengatakan bahwa perempuan ini adalah selingkuhannya. Firasat itu sangat kuat. Fendi yang Prita kenal tak akan pernah memberikan spoiler atau postingan yang akan mengundang gosip. Bahkan Tara pun tak tahu Prita dan Fendi berpacaran karena mereka sepakat, hubungan yang baru seumur jagung ini lebih baik tidak dipublikasikan dulu. Fendi dan Prita tetap intens berhubungan via pesan singkat dan telpon di tengah kesibukan mereka. Prita dapat memaklumi jika Fendi berada di pedalaman atau tempat yang notabene tak punya jaringan internet dan telpon yang memadai, setidaknya Prita adalah orang yang akan Fendi hubungi setibanya di rumah.
Prita kembali menyeruput kopinya, sedangkan Fendi membiarkan gelas kopi itu tetap utuh tanpa sedikitpun menyentuhnya.
“Ok, gue jujur gue ada rasa sama dia” Fendi buka suara, memecah keheningan antara mereka.
Rasa pahit di lidah Prita semakin pekat. Dia tak menyangka Fendi akan berterus terang.
“Dia selalu ada buat gue, dia pengertian, bisa mengimbangi sifat gue dan yang paling penting dia selalu ada waktu buat gue. Gue nyaman curhat sama dia dan feeling gue lebih ngena ke dia” ujar Fendi dalam.
Semua yang ada dalam hubungan Fendi dan Prita terjadi atas kesepakatan bersama. Prita cenderung keras kepala, sedangkan Fendi adalah kebalikannya. Mereka berdua saling melengkapi di berbagai sisi, namun itu saja tak cukup membuat Fendi bertahan. Prita teringat anekdot yang mengatakan orang yang setia akan kalah sama orang yang selalu ada. Prita sampai pada satu kesimpulan, Fendi lelah dengan hubungan mereka berdua dan mungkin jalan terbaik adalah berpisah.
Fendi pamit setelah mengutarakan semua yang ada dalam benaknya dan meminta Prita mengakhiri hubungan mereka, jika Prita tetap berharap pada hubungan ini maka hanya ada luka dan kecewa yang akan Prita terima.
__ADS_1
Prita duduk termenung, mengabaikan panggilan masuk dari Tara yang sejak tadi bergetar di ponsel yang ditelungkupkan di meja itu. Prita tak sanggup menumpahkan semua emosi yang dia rasakan. Pikirannya buntu, dia duduk dalam diam sambil menyeruput kopi milik Fendi yang telah dingin.
...----------------...