
Lintang menatap Danu penuh amarah. Bibirnya gemetar, rahangnya terkatup. Ingin rasanya dia menumpahkan amarah pada Danu, ayah Regata. Namun amarahnya menguap tak kalah Danu menatapnya nanar.
"Di mana Mia?" tanya Lintang dingin.
"Sebaiknya kamu jangan pikirkan mereka dulu. Mereka ada di suatu tempat yang aman," jawab Danu lemah.
Rahang Lintang semakin beradu. Genggaman tangannya di bawah meja semakin erat. Bertahun-tahun dia hidup dalam kebingungan dengan sikap Danu dan Arimbi. Ketika dia selesai membaca surat Regata semuanya berubah. Kemarahan semakin menjadi-jadi ditambah rumor kehamilan, semuanya terasa jelas di pikiran Lintang.
Mia gadis kecil itu mewarisi keahliannya. Dia tak merasa asing ada di dekat gadis itu. Hal-hal kecil yang dia temukan bersama Mia membangun ikatan emosional yang sulit digambarkan. Hampir saja dia menjadi gila saat melihat Regata dan Genta bercanda ria. Kali ini dia sedikit lega, Regata masih miliknya.
"Kedatanganmu ke sini bisa membuatmu dalam masalah. Uruslah dulu masalah pribadimu. Semuanya sudah jelas, kamu adalah menantu kami," ujar Danu rendah. Dia memandang mata sipir dan penjaga yang ada di ruangan itu, menatap mereka penuh curiga.
Meskipun orang yang ada di dalam ruangan ini telah dibayar oleh Danu namun Danu tak bisa sepenuhnya terlena dan percaya begitu saja. Uang, bisa membeli apapun.
Jam besuk Lintang telah berakhir, dia segera pergi dari tempat itu. Selama perjalanan Lintang teringat pertemuannya dengan Genta.
__ADS_1
Hari itu saat Mia pertama kalinya merengek bertemu Lintang di klinik, Genta merasa ada yang aneh pada Regata. Perempuan itu tampak tak tenang, gelisah, dan gugup. Di mata Genta reaksi Regata terlihat seperti berusaha menghalangi Mia. Berkat bujukan Genta, Mia dan dirinya berlari menyusul Lintang.
Genta masuk ke ruangan dokter dan meminta kontak Lintang. Lintang awalnya ragu namun Genta mengatakan ingin memberitahu rahasia Regata terdengar menarik di telinga Lintang. Mereka saling bertukar nomor.
Setelah itu Genta hilang bagai di telan bumi. Saat rumor kehamilan itu merebak, Genta menghubunginya dan mereka bertemu di apartemen pribadi Lintang. Saat itu Genta bercerita tentang kehidupan Regata di Manado.
Satu persatu benang kusut berhasil terurai. Kronologinya terlalu jelas tentang Regata dan Mia. Saat itu yang ada di pikiran Lintang hanyalah Mia. Dia tak peduli lagi pada Regata. Jika Regata memilih tetap pada pendiriannya maka Lintang akan memperjuangkan hak asuh Mia.
Lintang menatap langit Jakarta yang mulai kelabu. Mendung di sore hari tampak jelek baginya. Seburuk suasana hatinya. Lintang bisa sedikit bernafas lega karena kasusnya tertutupi dengan kasus korupsi Danu.
Apa aku akan menjadi ayah jahat yang mengorbankan anaknya? Siapa lagi yang akan jadi panutan Mia kalau bukan ayahnya?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Mia … gadis kecilnya pernah mati karena sikap ibunya. Kali ini dia tak boleh mati karena kesalahanku batin Lintang.
__ADS_1
Lintang sedang merenung, tiba - tiba ponselnya berbunyi. Nama Bisma tertera di sana, panggilan video call whatsapp.
"Kenapa?" tanya Lintang datar.
Wajah Bisma terpampang di layar. Sepertinya Bisma sedang berada di sebuah hotel.
"Gue buat vlog baru. Like ya," kata Bisma sambil cengar-cengir.
"Kedepannya gue bakal sibuk banget. Minta tanda tangan gue sekarang selagi gue masih selo," ujar Bisma.
Lintang mengerutkan dahinya. Bisma akhir-akhir ini mulai tak nyambung bicaranya. Mungkin saja beban berat ganda putra membuat Bisma jadi ngelantur. Lintang mengiyakan saja agar cepat. Setelah basa basi sebentar, Bisma mengakhiri teleponnya.
Suasana di sekeliling Lintang mendadak sepi.
...----------------...
__ADS_1