Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Perang Dingin


__ADS_3

Senin adalah hari yang paling dihindari pekerja kantoran tak terkecuali Regata yang ogah-ogahan bersiap setelah tiga kali Bi Nina membangunkannya. Pagi itu IGD terlihat lebih ramai dari biasanya. Ada pasien observasi, ibu hamil, dan dua orang korban tabrak lari yang lukanya belum selesai di jahit. Regata masuk ke IGD ruangan itu dipenuhi darah dan bekas kaki yang masih basah. Cleaning service sedang mengangkut sampah medis dan sampah non medis, bau sampah memenuhi memenuhi ruangan itu.


“Ugh! Mengapa hari ini begitu bau" omel Regata. Dia meletakan tasnya di loker lalu memeriksa ponselnya, Jenar yang berada di sampingnya segera mengambil sneli dan memeriksa pasien yang sedang antri. Beberapa detik kemudian Regata duduk di mejanya dan memeriksa rekam medis yang sudah menumpuk.


Seorang perawat datang mengabari bahwa ada salah seorang pasien yang mengalami penurunan kesadaran. Pasien itu adalah pasien yang berada di jalur merah yang berarti harus diprioritaskan. Pasien berusia 80 tahun itu, saturasinya terus menurun sedangkan ruang perawatan di ICU terbatas hingga pasien ditangani sementara di IGD.


Ditengah kesibukan IGD Regata pamit ke kamar mandi. Teman-teman dinasnya hanya mengangguk sekilas sambil wara-wiri menolong pasien gawat. Salah satunya terpaksa meminta pasien lain menunggu karena keterbatasan tenaga.


Sudah lebih dari tiga puluh menit Regata tak muncul di meja kerjanya sedangkan pasien terus bertambah. Jenar yang masih memantau pasien gawat sambil melakukan sejumlah tindakan terlihat resah. Diruang perawatan luka, dua dokter dinas malam belum menyelesaikan tugasnya menjahit dan merawat luka pasien sedangkan jam dinas mereka telah berakhir dan harus melakukan overan jaga.


Regata duduk diatas toilet menonton pertandingan badminton, padahal jadwal tanding Lintang masih di urutan ke-8.


“tok, tok” ketukan halus di pintu toilet mengagetkan Regata yang fokus menonton pertandingan yang sengaja dihilangkan volumenya.


“Dok, masih lamakah? Ada pasien yang antri” ujar suara di balik pintu.


“Iya sedikit lagi” Jawab Regata sengaja menekan tombol flush closet.


Tak ada jawaban, namun Regata mendengar suara langkah kaki menjauh.


Regata segera mengantongi ponselnya di saku sneli yang dipakainya, berkaca sebentar di cermin toilet lalu menuju nurse station.

__ADS_1


Regata melihat Jenar bersama yang lainnya mendorong brankar menuju ICU. Ada pasien yang ditinggal sendiri bersama perawat yang merawat lukanya. Regata mengabaikan tumpukan rekam medik pasien lalu menuju ruang perawatan luka. Sesampainya disana dia melihat perawat Jesnita dipenuhi percikan darah karena tendon kaki pasien putus. Jahitan yang dilakukannya terlepas berulang kali. Jesnita tampak frustasi, dia mengabaikan Regata yang nampak biasa saja.


“Dok, bisa tolong bantu jahitkan tendonya” ujar Jesnita menekan setiap katanya, persetan jika Regata merasa tersinggung dengan sikapnya.


Regata mengangguk sambil berusaha menjahit tendon yang terus bergerak-gerak. Regata melakukannya dengan hati-hati, menjahit, membersihkan hingga membalut luka pasien dengan baik.


“fiuh akhirnya selesai juga” ujar Regata menyeka keringat yang menempel di dahinya.


Regata menuju meja kerjanya sambil mengutak atik ponsel. Semua mata mengarah padanya saat dia datang, dia melihat cibiran tim jaga. Masing-masing melengos pergi dengan wajah masam.


Regata mencoba mengajak mereka berbicara namun tak satupun berniat menjawab pertanyaannya. Dari group IGD dia akhirnya tahu pasien di jalur merah dengan penurunan kesadaran tidak berhasil diselamatkan dan meninggal.


“Jen, ku antar pulang” tawar Regata.


“Ya ampun tau gak, tadi pagi IGD lagi ramainya bisa-bisanya dr. Regata ke toilet lama banget mana pasien numpuk tambah pasien gawat gak habis pikir deh” suara seseorang menghentikan langkah Jenar.


“Diare kali makanya lama” sambung yang lain.


“Gak tau, tapi gak ada bunyi air. Masa habis ku panggil langsung ada bunyi flush, habis itu keluar” ujar suara lain. Nada suaranya terdengar skeptis.


“Kalau saja dia ikut bantu, pasien gawat tadi gak bakal meninggal. Masalahnya yang dinas empat dokter. Tiga-tiganya sibuk ngurusin pasien gawat, dr. Jenar malah sambil pantau pasien yang tendonnya putus, sama pasien anak-anak yang kena DBD” 

__ADS_1


Jenar menyalakan mesin motornya membuat kumpulan yang sedang berbicara itu mendadak bubar dan mengucapkan sampai jumpa besok.


*****


Kemenangan Lintang di dua laga awal tak membuat Regata senang, pasalnya dia dipanggil ke ruang personalia ditegur dan diadili karena sikapnya belakangan ini. Puncaknya pada kelakuannya kemarin. Semua saksi yang dipanggil terpisah mengatakan kalau Regata bertanggung jawab terhadap dinasnya maka dia tidak sengaja berlama-lama di toilet dan hanya menangani satu pasien selama tujuh jam shift dinasnya.


Regata keluar dari ruangan itu dengan wajah merah padam. Dalam hati dia merutuki sikap tim jaga kemarin. Kalau dia tidak membantu menjahit tendon pasien, pasien itu akan kehilangan banyak darah dan mati. Jelas sekali Jesnita tak kompeten berada di IGD, menangani satu pasien saja tak bisa. Lagi pula dia baru kali ini membuat kesalahan kecil kenapa semua unit begitu heboh, sedangkan dokter lain membuat masalah kadang tidak diberi peringatan keras. Regata merasa kemarahannya memuncak.


Setelah hari itu, suasana hati dan lingkungan kerjanya semakin memburuk di mata Regata. Regata memulai perang dingin dengan Jenar, menurutnya Jenar biang dari teguran yang dia terima dan Jenar satu-satunya yang melihat dia membawa ponsel dalam saku snelinya. Selain itu kedekatan Jenar dan Genta membuat Regata terganggu. Mereka saling melempar lelucon receh selama operasi berlangsung dan Jenar mulai mahir mencairkan suasana operasi bersama Genta. Tak hanya itu Regata melihat Jenar menjadi asisten operasi yang jauh lebih baik dibanding dirinya, dan... Genta tak lagi membutuhkan bantuannya di kamar operasi.


“Apa sebaiknya aku resign dan balik ke Jakarta aja ya” gumam Regata suatu malam.


Regata mengingat perlakukan dingin rekan kerjanya. Mereka sering kali mengucilkannya dalam pergaulan, tidak mengajaknya ngobrol, bahkan senyum hangat mereka tak lagi Regata temukan setiap dinas. Regata pun mulai jarang ikut kegiatan di tempat kerja dan lebih memilih pulang setelah overan jaga selesai.


Regata kembali menimbang usul ayahnya. Tapi dia juga galau karena SIP baru yang sudah diurusnya dan surat perpanjangan kontrak yang belum ditanda tanganinya. Dia masih meminta waktu ke bagian personalia sampai lusa, alasannya karena dia harus berkonsultasi dengan orang tuanya.


Regata mengacak rambutnya frustasi, dia tak tahu kemana harus menumpahkan semua isi kepala dan hatinya. Rasa gengsi yang besar membuatnya tak mau menghubungi Jenar atau Genta, dia menunggu dua orang terdekatnya itu mengajaknya bicara duluan dan dia berencana bersikap acuh seolah tak terjadi apa-apa.


 


...----------------...

__ADS_1


 


 


__ADS_2