Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Ayo Pulang


__ADS_3

Arimbi mulai muak berada di Nanggulan. Bukan karena tempat itu adalah desa kecil, melainkan tidak ada yang bisa dia lakukan di sana. Dia meninggalkan pekerjaan dan suaminya yang entah bagaimana kabarnya hanya untuk bersembunyi, Arimbi menghembus nafasnya kesal.


Tanpa banyak bicara Arimbi mengemasi semua barangnya.


“Ma..,” tegur Regata. Matanya berkaca-kaca.


“Kita tidak bisa seperti ini terus, mama akan berangkat duluan. Secepatnya mama akan kabari kamu dan Mia,” ujar Arimbi.


Mia duduk di atas ranjang. Matanya memperhatikan Arimbi yang sibuk menata pakaiannya. Regata memeluk putrinya erat. Lagi-lagi air matanya tumpah. Regata tak mengerti mengapa akhir-akhir ini dirinya banyak menangis. Seperti kehilangan jati diri, sosok lemahnya terlihat jelas. 


Malam itu Regata memandangi langit-langit kamar hingga akhirnya terlelap. 


*****


Arimbi tiba di Jakarta dijemput oleh Bobby. Lelaki tegap itu sama sepertinya, tak banyak bicara. Arimbi meminta Bobby lewat di depan rumahnya, tak banyak Polisi yang berjaga. Rumahnya tak terawat, tanamannya banyak yang menguning. Rumput-rumput liar mulai tumbuh. 


Arimbi dan Bobby menuju sebuah paviliun yang telah disewa Arimbi. Setelah menghitung-hitung pengeluarannya, lebih hemat tinggal di paviliun dibanding kos apalagi hotel murah. Beruntung aset bawaan miliknya tidak disita karena itu adalah aset pribadi. Lagi Pula selain tanda tangan di dokumen, tak ada bukti apapun yang bisa memberatkan suaminya seperti aliran dana, rekening gendut atau money laundry seperti yang dituduhkan lawan politiknya.

__ADS_1


Arimbi bersyukur mereka hanya punya satu anak dan telah mandiri secara finansial, ditunjang dengan latar belakang keluarganya dan keluarga Danuh yang adalah pengusaha.


Arimbi ingat dia dan Danuh pernah bertengkar hebat ketika tahu Danuh bergabung dengan partai politik dan mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI. Padahal penghasilannya sebagai pengusaha jauh lebih banyak, dibandingkan sebagai anggota DPR. Saat itu Arimbi sempat menuduh suaminya sebagai lelaki paling egois di muka bumi. 


“Untuk apa jadi anggota DPR segala, hah? Usaha kita masih banyak yang harus dikembangkan. Apa untungnya kamu ngurusin hidup orang lain” teriak Arimbi kala itu.


Emosinya tersulut manakala Danu bersikeras tetap pada pendiriannya.


Hubungan mereka sempat memburuk ditambah lagi Danu selalu beralasan tentang pekerjaannya saat ada acara keluarga. Danu yang dulu bersemangat kerja bakti di kompleks perumahannya kini mulai jarang terlihat. Kehidupan sosialnya mungkin saja berkembang di luar sana, tetapi tidak dengan kehidupan sosial mereka yang lama, yang biasa mereka jalankan. 


Arimbi yang lepas kendali selalu mengeluh pada keluarga besarnya. Meskipun semua orang berusaha membuatnya berbesar hati namun Arimbi tetap pada argumennya. Kalau tujuannya untuk memberi kontribusi bagi negara, toh kita tidak pernah terlambat membayar pajak, sering buat kegiatan amal, punya yayasan di bidang kesehatan. 


Ketika mereka sampai, Bobby segera meletakan barang bawaan Arimbi di dalam paviliun. Mereka menuju kantor polisi, tentu saja di sana pasti banyak media kurang kerjaan yang akan kepo dengan kehidupannya.


Arimbi mempersiapkan batin menghadapi apapun yang terjadi di kantor Polisi nanti. Benar saja, banyak reporter berseliweran di depan kantor polisi. Arimbi hanya mengenakan kemeja, celana satin, kets, dan masker. Rambut hitamnya diikat asal-asalan, dia tidak mengenakan aksesoris, tetapi entah kenapa beberapa mata memandang penuh tanya padanya.


Arimbi membuka maskernya, saat suaminya duduk di hadapannya. Tak ada yang berbeda, Danu tetap lelaki klimis tanpa jambang. Meskipun baju tahanan yang diberikan terlihat lusuh, seperti sudah sering dicuci namun Arimbi mengakui wajah tampan suaminya tak berubah.

__ADS_1


Emosi Arimbi kembali meledak. Sumpah serapah keluar dari mulutnya, yang semakin membuatnya jengkel Danu hanya tersenyum. Senyum itu sudah lama tak Arimbi lihat, luruhlah semu amaranya.


“Kalau begitu, Regata dan Mia sudah boleh di bawah ke sini,” tanya Arimbi.


Danu mengangguk. 


Arimbi mencibir, tahu begitu kenapa mereka harus bersembunyi padahal tak ada wartawan yang meliput mereka atau apa yang seperti di tv-tv. Arimbi celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.


“Kasus perselingkuhan anggota DPR lebih meraik,”


ujar Bobby, mengingatkan Arimbi pada gerombolan wartawan yang berdesakan di depan kantor Polisi. Mungkin saja kasus itu yang sedang diusut.


“Waktu habis,” ujar Bobby pelan, saat salah seorang petugas masuk.


Danu mengangguk pelan ke arah istrinya dan Bobby.


“Ayo kita pulang,” ajak Arimbi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2