
“Permisi dok” sapa Regata
Dokter Genta mengisyaratkan Regata duduk sementara dirinya sibuk membalas pesan.
Regata duduk dengan perasaan was-was. Pertama kalinya Regata melihat Dokter Genta *s*ecara langsung. Dokter Genta memiliki kulit pucat, gaya rambut cepak dan lumayan berotot. Regata dapat melihat otot-otot yang menonjol dari lengan
kemeja Dokter Genta. Regata meneliti perawakan Dokter Genta, untuk pria yang setahun tahun lagi akanberkepala empat, Dokter Genta terlihat dewasa dan menawan.
*t*uk! Dokter Genta meletakan ponselnya di meja.
“Selama bertahun-tahun saya bekerja di rumah sakit ini belum pernah ada dokter jaga yang memulangkan pasien saya!”
“Tadi pagi saya rujuk pasien untuk dioperasi siang ini, lalu kamu pulangkan begitu
saja! Kamu kira nyawa manusia ada sembilan? Kalau sampai pasien saya
kenapa-kenapa saya akan seret kamu ke pengadilan” ujar Dokter Genta tanpa jeda.
“Dok saya..”
“Kamu harusnya instrospeksi dan persiapkan diri kamu ke pengadilan bukan menyela omongan saya. Kamu kira saya main-main dengan perkataan saya. Pokoknya sore ini pasien yang sama akan menginap dan besok jadwal operasi kamu harus muncul di kamar operasi” ujar Dokter Genta meninggalkan Regata yang masih terbenggong dengan ucapan Dokter Genta.
Setelah Regata melakukan crossccheck kesana kemari ternyata ada misskomunikasi antara keluarga pasien dan petugas administrasi. Pasien berusia empat belas tahun datang bersama orangtua dengan membawa rujukan dari klinik Dokter Genta. Tentu saja petugas pendaftaran wajib menanyakan jenis asuransi yang digunakan. Pasien mengaku tidak memiliki jaminan, BPJS baru saja diurus dan akan terbit setelah empat belas hari pengurusan. Keluarga pasien memutuskan untuk pulang tanpa menunggu konfirmasi petugas administrasi. Jadilah Regata yang bertanggungjawa atas segala keruwetan hari itu,karena Dokter Genta sendiri yang berniat membayar biaya rumah sakit pasien tersebut.
Sejak saat itu nama Regata yang selalu Dokter Genta sebut jika merujuk pasien,
__ADS_1
mengatikannya visite pasien, membantunya selama operasi bahkan saat Regata libur atau dinas malam Dokter Genta akan selalu mencarinya.
Regata tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan permasalahan hari itu. Dokter Genta terus mengomelinya jika ada yang tidak beres dengan pasiennya, padahal bukan kesalahan Regata atau diluar jam dinas Regata. Benar-benar menyebalkan!
Pagi itu Regata bangun pukul 05.00 WITA,
dia melewatkan sarapan dan hanya meninggalkan pesan di pintu kulkas kepada Bi Nina yang memang pulang pergi dari rumahnya, ke rumahRegata serta membawa duplikat kunci rumahnya.
Regata menuju kamar Mia, mencium kepala
putrinya lalu berangkat.
Regata tiba di ruang operasi lima belas
menit sebelum Dokter Genta datang. Suasana ruang operasi menjadi sepi saat
Dokter Wina sedang melakukan operasi Caesar.
“Regata ambil bisturi” perintah Dokter
Genta
Regata mengambil bisturi, pisau operasi
yang dipakai untuk membedahbagian yang akan dioperasi pada set operasi yang telah
__ADS_1
tersusun di baki khusus.
Sepanjang operasi Dokter Genta terus
mengingatkan perawat kamar operasi akan pentingnya nyawa manusia. Hal yang
menurut Regata tidak perlu diomongkan berulang kali, karena semua yang ada
diruangan itu telah melakukan sumpah semasa sekolah dulu, bahwa nyawa manusia sangat berharga, harus didahulukan dan ditolong.
“Jadi Dion, melayani itu dengan tulus.
Jangan cemberut atau marah. Harus sabar. Pasien bisa lari kalau raut wajah kamuaja udah nggak enak dari awal. Ini rumah sakit swasta, pelayanan baik dan efisien itu yang utama” ujar Dokter Genta sambil melirik Regata, yang serius melihat Dokter Genta melakukan tindakan bedah.
“Iya benar dok” ujar salah seorang di
tim operasi, disambut gelak tawa yang lainnya.
Regata tidak ambil pusing dengan omongan
Dokter Genta, dalam hati dia berharap operasi ini segera selesai sehingga dia
tidak punya alasan berada lebih lama di sini.
Dokter Genta menatap sorot mata serius
__ADS_1
Regata dari balik masker operasinya. Dokter Genta berusaha melucu agar suasana di kamar operasi tida terlalu tegang. Tampaknya dia tidak punya bakat melucu, Regata tidak tertawa mendengar candaanya.
...----------------...