Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Packing


__ADS_3

Tedja tertawa keras melihat raut wajah Tara. Lelaki itu segera meluncur ke ruangan di mana Tara, Prita, dan Kingsley berada. Jangan tanya dari mana pria menyebalkan itu mendapatkan passwordnya. 


"Move on say, move on," goda Tedja.


"Udah move on kalee," balas Tara sewot.


Seperti biasa Tara sibuk mengecek komentar di youtube yang menayangkan streaming itu. Teringat kembali mata bengkaknya karena dry eye seharian membalas komentar haters.


"Hiiii," ujar Tara bergidik mengingat kembali matanya waktu itu persis seperti habis ditonjok.


"Kapan kita balik ke Jakarta?," tanya Tara.


"Secepatnya," jawab Prita.


"Jadwal lo udah ada nih 1 bulan kedepan," jawab Prita sibuk melihat kalender, menandai tanggal-tanggal penting.


Tara bersyukur waktu bersama Tedja akhirnya selesai juga. Ia melihat jadwal kegiatannya, dalam sebulan ia menerima kurang dari 10 endorse. Ada kelas akting 2 minggu sekali dan kelas bisnis. Seperti yang Prita jelaskan, Tara gak bakal selamanya jadi artis dan suatu saat Prita akan resign. 


"Nih," Tedja menyodorkan Taro Milkshake pada Tara dan ikut duduk di sampingnya.


Tara tentu tak menolak minuman kesukaanya, dan membiarkan Tejda duduk di sampingnya. Tara melihat Tedja sibuk dengan gamenya.


Prita dan Kingston tentu saja menyingkir dari sana, dan lanjut berdiskusi tentang pekerjaan di dapur yang letaknya di sebelah ruang televisi.

__ADS_1


"Kata manajer lo, lo banyak nolak kerjaan," tanya Tara setelah melihat jadwalnya.


Tedja menjawab pertanyaan Tara dengan anggukan.


"Kenapa?," tanya Tara penasaran.


"Gue sibuk," balas Tedja singkat tanpa mengalihkan perhatian dari layar gadgetnya.


Tara beranjak menuju dapur meninggalkan Tedja sendirian dengan gamenya.


"Akhirnya hari ini bisa menghabiskan waktu dengan tenang," ujar Kingsley. Selama perjalanan mereka Tara dan Tedja selalu meributkan hal yang tak penting. Hari ini keduanya bisa akrab tanpa adu bacot.


"Besok sore ya, kita pulang. Gue udah hubungi kantor. Sekarang lo packing barang-barang lo biar ga ada yang ketinggalan. Gue gak mau ya besok ada drama ketinggalan barang," ancam Prita.


"Galak amat lo jadi manager, kan Princess jadi sedih," sindir Tedja ikut bergabung.


Tedja mengekori Tara menuju kamarnya. 


"Heh ngapain lo?," nada suara Tara meninggi.


"Ya lu mau ngapain?," Tedja balas bertanya sambi berusaha mengintip isi kamar Tara.


Kalau Tara tak ingin di hadapannya adalah Tedja Aribawa, emosinya pasti sudah meledak. Tapi kali ini Tara tidak ingin kalah, dia mendorong Tedja masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Tedja yang kaget hampir saja terjatuh. Untunglah otot kakinya sudah terbentuk sempurna dan keseimbangannya sudah terlatih. 


"Bantuin gue packing," ujar Tara judes.


Tedja menurut dia duduk di lantai, sedangkan Tara mengeluarkan semua isi lemarinya dan dibiarkan berserak di lantai. Tara menggeser pakaiannya dengan salah satu kakinya lalu meletakan koper diantara barang-barang itu.


Tedja yang gemas melihat kelakuan Tara segera merebu koper tersebut dan meletakkannya di atas ranjang.


"Ih kotor tau, masa koper di taruh di atas tempat tidur?," protes Tara.


"Trus maksud lo, gue harus duduk di atas daleman lo," bacot Tedja.


"Ya bersihin kopernya dulu kali," balas Tara.


Mendengar keributan itu, Prita dan Kingsley heboh menuju kamar Tara.


"Gitu dong Tedja, ada gunanya. Bantuin Princess biar cepet," sindir Prita.


Tedja menahan tawa.


"Iya gue bantuin, ntar Princess bantuin gue packing juga," kata Tedja.


"Kenapa pada manggil Princess sih, emang gue se-Princess itu ya?," tanya Tara menekan kata Princess.

__ADS_1


Ketiganya memandang Tara dengan ekspresi mau muntah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2