Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Lintang dan Regata (3)


__ADS_3

Regata tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana Lintang. Perasaannya berkecamuk, sedih, marah, senang, semuanya bercampur aduk. 


"Bagaimana menurutmu?," Regata balik bertanya setelah tak menemukan kata yang pas untuk menggambarkan keadaannya.


Lintang ingin menggenggam tangan Regata, tetapi perempuan itu masih membuat jarak. Keduanya terdiam memandang ruangan McD yang tampak lenggang.


Lintang meminta Regata menceritakan kelahiran Mia namun Regata menolak. Kemarahan Danu hari itu masih terpatri di benaknya. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu namun ada kalanya ingatan itu mengganggunya. 


Melihat penolakan Regata, Lintang mengalah. Dia paham betul untuk pertanyaan yang satu itu, Regata butuh keberanian dan kekuatan besar untuk menceritakan masa-masa sulitnya.


"Aku tidak mau ada salah paham lagi diantara kita. Setelah ini aku ingin bergantian mengurus Mia. Aku berharap kita bisa memulai lagi dari awal, kalau kamu punya pendapat lain tolong katakan. Aku bukan dukun yang bisa baca pikiran kamu. Kita bukan dua orang asing," ujar Lintang.


Regata mencerna satu persatu kalimat Lintang. Kali ini perasaannya lebih ringan, selama menjalani masa-masa menjadi ibu tunggal Regata terbiasa memutuskan sesuatu sendiri. Kali ini dia harus sadar, ada Lintang ayah biologis Mia tempatnya berbagi cerita selain orangtuanya.

__ADS_1


"Bagaimana caranya memulai dari awal?," tanya Regata.


Regata bukannya asal bertanya. Dirinya mempertimbangkan posisi Lintang yang saat ini tengah mundur dari 3 turnamen penting, selain itu hubungannya dengan Tara belum benar-benar clear, masalah kontrak dan sponsor, belum lagi kasus ayah Regata yang sedang dalam proses penyidikan. Dilihat dari sisi manapun hal ini tidak menguntungkan pihak manapun.


"Aku akan urus semua masalahnya, aku minta izin untuk menemui Mia kapanpun. Jangan segan minta bantuan, biar bagaimanapun aku ayah kandung Mia," ujar Lintang menatap Regata yakin.


Regata merasa pembahasan hari ini cukup. Mereka merasa telah lama meninggalkan rumah dan harus kembali. Lintang menyetir dalam diam, pikirannya dipenuhi rencana-rencana hebat tentang masa depan mereka. Meskipun belum sepenuhnya jelas, tetapi pertanyaan Regata seperti mengisyaratkan lampu hijau. 


Arimbi memandang keluarga kecil itu penuh haru. Dalam hati Arimbi meminta maaf pada Regata, karena mereka harus bertemu di saat-saat sulit. Arimbi menyadari sudah lama Regata tak merasa bahagia. Semoga saja tidak ada perpisahan lagi. Tetapi mengingat Danu yang sedang dipenjara membuat kepala Arimbi mendadak pusing.


Bagaimana mungkin Danu bersikap setenang itu, sementaran kasunya sudah sampai ke tahap penyidikan. Arimbi dengar untuk mencegah Danu melarikan diri ke luar negeri sementara Danu berada di tahanan Polres. 


Lagipula kenapa Danu buat masalah sih! batin Arimbi sebal. Sejak dulu Arimbi menolak keras Danu mencalonkan diri menjadi anggota DPRD. Arimbi tak percaya dengan ucapan Danu untuk menegakkan keadilan. 

__ADS_1


Keadilan yang mana pikir Arimbi, sudah bagus menjadi konsultan dan pebisnis serta menikmati hari tua bersama keluarga. Entahlah …. 


"Mama kenapa?," tanya Regata melihat reaksi ketus Arimbi.


"Enggak mama kayaknya cuma kurang tidur," kata Arimbi memberi alasan.


"Istirahat ma, biar Regata saja yang beresin," kata Regata.


Tak lama berselang Lintang pamit, dia harus berdiskusi dengan asosiasi dan pengacara untuk menyelesaikan masalahnya. 


Regata melepas kepergiaan Lintang dengan berat hati, sambil melambaikan tangan. Lintang tersenyum tipis sambil membalas lambaian Regata dan Mia.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2