
Mia mengoyang-goyangkan kakinya bosan.
Dia dan ibunya sedang berada di lobi tempat les bahasa Inggrisnya. Sesuai janji
ibunya, Mia didaftarkan lagi untuk les matematika di tempat tersebut.
Regata sedang berbicara dengan salah
satu tutor di tempat itu, sesekali dia menatap Mia lalu melanjutkan
pembicaraan.
“Kamu sudah mulai les besok, seperti
biasa Bi Nina yang anterin kamu” ujar Regata sambil mengemudikan mobil.
Mia mengerucutkan bibirnya mendengar
perkataan Regata. Les lagi, les lagi Mia benar-benar bosan.
“Jangan bosan dengan les tambahan. Ini
akan berguna bagi kamu di masa depan. Pendidikan itu penting. Mama bilang ini
bukan untuk mama, tetapi untuk kebaikan kamu. Keberhasilan kamu, pendidikan
kamu, itu tanggungjawab mama sebagai orang tua. Mama kerja keras siang malam
untuk memenuhi kebutuhan kamu”
“Kamu lihat, banyak anak-anak di luar
sana yang putus sekolah bahkan tidak sekolah karena mereka kurang mampu. Mereka harus bantu orangtua mereka untuk kerja. Selagi mama bisa berikan yang terbaik untuk pendidikan kamu, kamu harus berusaha sebaik mungkin” ujar Regata panjang lebar mengabaikan wajah cemberut Mia.
__ADS_1
“Ibu Regata bisa bicara sebentar?” tanya Ibu Retno wali kelas Mia saat pembagian rapor
kenaikan kelas semester lalu. Regata tetap berada dalam kelas menunggu suasana
kelas menjadi sepi. Mia sedang menunggu di luar sambil bermain dengan beberapa
temannya.
“Ada yang
mau saya omongkan tentang evaluasi Mia selama duduk di kelas dua” Regata menarik nafas dalam sambil tetap mendengarkan Ibu Retno.
“Mia termasuk anak yang pintar di kelas saya. Prestasinya tidak buruk meskipun ada
beberapa nilai yang saya kasih catatan. Secara keseluruhan yang paling menonjol
adalah pelajaran Kesenian dan Olahraga. Nilainya selalu di atas sembilan puluh.
Berbading terbalik dengan nilai Matematika dan IPA” Regata mengangguk pelan
“Saya harap Bu Regata bisa memberi perhatian lebih untuk nilai yang saya kasih catatan, karena kedepannya jika kurikulum baru berlaku, standar nilai Matematika
kemungkinan ikut naik”
Sepanjang perjalanan pulang Regata sibuk memikirkan nasib putrinya. Dia sadar putrinya lemah di pelajaran berhitung, namun tidak ada salahnya memberi pengertian ke Mia bawa semua nilainya harus bagus agar bisa berhasil di masa depan.
“Kamu dengar apa yang mama bilang
barusan?” tanya Regata pada Mia yang hanya diam disampingnya.
“Dengar ma” ujar Mia lemah.
Regata mengusap kepala putrinya pelan.
__ADS_1
“Hari ini mama traktir makan es krim
kesukaan kamu. Tapi kamu harus janji sama mama bakal belajar lebih giat”
Wajah Mia kembali cerah. Regata termasuk
ibu-ibu protektif yang tidak mengizinkan putrinya makan es krim sebelum makan
nasi tapi hari ini nasib baik menghampiri Mia ibunya sedang libur dinas dan
mereka bisa menikmati es krim kesukaan Mia berdua.
“Ma, boleh makan dua?” tanya Mia
“Satu aja, kalau kebanyakan nanti
tenggorokan kamu sakit” ujar Regata mengingatkan puterinya.
“Kan ada mama, di kasih obat tinggal
beres” cerocos Mia lagi.
“Kamu tahu sakit itu rasanya gak enak. Kamu gak bisa ngapa-ngapain. Gak bisa ke sekolah, gak bisa main sama teman-teman.
Sebagai Dokter mama sarankan, lebih baik mencegah dari pada mengobati.
Kesehatan itu mahal”
Mia mendengarkan Regata sambil menikmati es krimnya.
“Kalau nilai Matematikamu naik, mama
akan ajak kamu ke tempat es krim yang lebih enak” ujar Regata melihat kilat
__ADS_1
kebahagiaan di mata putrinya.
...----------------...