Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Les Tambahan


__ADS_3

Mia mengoyang-goyangkan kakinya bosan.


Dia dan ibunya sedang berada di lobi tempat les bahasa Inggrisnya. Sesuai janji


ibunya, Mia didaftarkan lagi untuk les matematika di tempat tersebut.


Regata sedang berbicara dengan salah


satu tutor di tempat itu, sesekali dia menatap Mia lalu melanjutkan


pembicaraan.


“Kamu sudah mulai les besok, seperti


biasa Bi Nina yang anterin kamu” ujar Regata sambil mengemudikan mobil.


Mia mengerucutkan bibirnya mendengar


perkataan Regata. Les lagi, les lagi Mia benar-benar bosan.


“Jangan bosan dengan les tambahan. Ini


akan berguna bagi kamu di masa depan. Pendidikan itu penting. Mama bilang ini


bukan untuk mama, tetapi untuk kebaikan kamu. Keberhasilan kamu, pendidikan


kamu, itu tanggungjawab mama sebagai orang tua. Mama kerja keras siang malam


untuk memenuhi kebutuhan kamu”


“Kamu lihat, banyak anak-anak di luar


sana yang putus sekolah bahkan tidak sekolah karena mereka kurang mampu. Mereka harus bantu orangtua mereka untuk kerja. Selagi mama bisa berikan yang terbaik untuk pendidikan kamu, kamu harus berusaha sebaik mungkin” ujar Regata panjang lebar mengabaikan wajah cemberut Mia.

__ADS_1


“Ibu Regata bisa bicara sebentar?” tanya Ibu Retno wali kelas Mia saat pembagian rapor


kenaikan kelas semester lalu. Regata tetap berada dalam kelas menunggu suasana


kelas menjadi sepi. Mia sedang menunggu di luar sambil bermain dengan beberapa


temannya.


“Ada yang


mau saya omongkan tentang evaluasi Mia selama duduk di kelas dua” Regata menarik nafas dalam sambil tetap mendengarkan Ibu Retno.


“Mia termasuk anak yang pintar di kelas saya. Prestasinya tidak buruk meskipun ada


beberapa nilai yang saya kasih catatan. Secara keseluruhan yang paling menonjol


adalah pelajaran Kesenian dan Olahraga. Nilainya selalu di atas sembilan puluh.


Berbading terbalik dengan nilai Matematika dan IPA” Regata mengangguk pelan


“Saya harap Bu Regata bisa memberi perhatian lebih untuk nilai yang saya kasih catatan, karena kedepannya jika kurikulum baru berlaku, standar nilai Matematika


kemungkinan ikut naik”


Sepanjang perjalanan pulang Regata sibuk memikirkan nasib putrinya. Dia sadar putrinya lemah di pelajaran berhitung, namun tidak ada salahnya memberi pengertian ke Mia  bawa semua nilainya harus bagus agar bisa berhasil di masa depan.


“Kamu dengar apa yang mama bilang


barusan?” tanya Regata pada Mia yang hanya diam disampingnya.


“Dengar ma” ujar Mia lemah.


Regata mengusap kepala putrinya pelan.

__ADS_1


“Hari ini mama traktir makan es krim


kesukaan kamu. Tapi kamu harus janji sama mama bakal belajar lebih giat”


Wajah Mia kembali cerah. Regata termasuk


ibu-ibu protektif yang tidak mengizinkan putrinya makan es krim sebelum makan


nasi tapi hari ini nasib baik menghampiri Mia ibunya sedang libur dinas dan


mereka bisa menikmati es krim kesukaan Mia berdua.


“Ma, boleh makan dua?” tanya Mia


“Satu aja, kalau kebanyakan nanti


tenggorokan kamu sakit” ujar Regata mengingatkan puterinya.


“Kan ada mama, di kasih obat tinggal


beres” cerocos Mia lagi.


“Kamu tahu sakit itu rasanya gak enak. Kamu gak bisa ngapa-ngapain. Gak bisa ke sekolah, gak bisa main sama teman-teman.


Sebagai Dokter mama sarankan, lebih baik mencegah dari pada mengobati.


Kesehatan itu mahal”


Mia mendengarkan Regata sambil menikmati es krimnya.


“Kalau nilai Matematikamu naik, mama


akan ajak kamu ke tempat es krim yang lebih enak” ujar Regata melihat kilat

__ADS_1


kebahagiaan di mata putrinya.


...----------------...


__ADS_2