Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Formulir Pendaftaran


__ADS_3

Mia keluar dari ruang guru dengan perasaan berbunga-bunga. Senyum sumringah menghiasi wajahnya.


“Semuanya sudah berkumpul?” tanya


Pak Hayon pada Pak Piter guru olahraga yang bertanggungjawab mengurus persiapan lomba olahraga usia dini antar kabupaten.


“Sudah Pak” ujar Pak Piter setelah


menghitung jumlah murid yang ada di ruangan tersebut.


“Selamat siang semua. Hari ini


bapak kumpulkan kalian semua yang rencananya akan jadi perwakilan sekolah kita dalam lomba olahraga usia dini antar kabupaten. Kalau lolos di kabupaten kalian


akan ikut lomba ke Provinsi” ujar Pak Hayon.


“Perlombaannya diadakan setiap hari Sabtu selama satu bulan. Kalian akan bertanding lawan sekolah-sekolah lain. Olahraga yang dipertandingkan ada bola kaki, bola voli, bulu tangkis, lari 100 meter, lari estafet, dan sepak takraw. Kalian yang hadir dalam ruangan ini dipilih langsung oleh Pak Piter dengan melihat bakat dan kemampuan kalian di bidang olahraga”


“Ini formulir pendaftaran. Pulang sekolah kalian wajib minta orang tua atau wali untuk isi dan tanda tangan. Kalau ada orangtua yang keberatan langsung sampaikan ke Pak Piter. Jelas semuanya? Ada yang mau ditanyakan?” tanya Pak Hayon.


“Tidak ada Pak” teriak semua


murid serempak.

__ADS_1


Mia menyimpan baik-baik formulir yang diberika Pak Piter. Pulang nanti dia akan


meminta Bi Nina atau Pak Wahyu yang untuk mengisi dan menandatangani formulir lombanya. Beberapa minggu ini ibunya sangat sibuk di rumah sakit, Mia sering melihat ibunya melewatkan makan malam karena capek, dan pergi tengah malam ke rumah sakit. Ibunya tidak lagi memeriksa nilai pelajarannya secara rutin. Bi Nina bilang ibu kelelahan karena harus bertugas di IGD dan ruang operasi.


“Selamat siang semua” ujar Mia saat tiba di rumah.


Seperti biasa Mia melakukan rutinitasnya berganti baju, mencuci tangan, dan makan.


“Bi Nina aku dapat formuli ikut lomba usia dini mewakili sekolah. Aku ikut lomba bulu


tangkis. Bi Nina tolong bantu isi formulirnya dong” pinta Mia.


“Kamu bilang mama kamu dulu” ujar Bi Nina mengingatkan


Bi Nina bersikeras menolak ide Mia. Bi Nina memahami sikap keras kepala Regata.


Beberapa kali Bi Nina menyayangkan sikap Regata yang terlalu keras pada Mia.


Namun Bi Nina hanyalah asisten rumah tangga yang di gaji Regata. Meskipun usia


Regata dan Bi Nina hanya berbeda empat tahun, Bi Nina tidak berani memberi saran atau sekedar mengingatkan sikap Regata. Lebih baik tidak mengurusi kehidupan pribadi majikannya terlalu jauh.


Harapan terakhir Mia adalah Pak Wahyu. Mia berusaha mencari alasan yang masuk akal agar Wahyu menyetujui untuk menandatangani formulir pendaftaran lomba.

__ADS_1


“Ibu kamu ke mana?” tanya Pak Wahyu sambil membaca lembar formulir pendaftaran.


“Mama sibuk kerja di IGD dan kamar operasi. Kadang perginya pagi sekali dan pulangnya larut malam. Kadang juga mama lagi tidur pas aku pulang sekolah”


Wahyu mengembalikan formulir pendaftaran Mia.


“Kamu harus tetap izin mama kamu, bagaimana pun juga mama kamu orang tua kamu satu-satunya”.


Dengan berat hati, Mia menerima kembali formuli pendaftaran itu.


“Ma, mama sibuk gak” tanya Mia saat melihat Regata sedang bersantai di rumah.


“Besok pagi ada operasi. Kenapa?” tanya Regata


Mia menyerahkan formuli pendaftaran lomba pada Regata dan menjelaskan maksud formulir tersebut.


“Mama gak izinin. Balikin formulirnya ke guru kamu” ujar Regata dingin.


Mia baru akan membantah, namun Regata menatapnya dengan mata melotot. Mia memilih diam dan masuk ke kamar. Dibukanya laci meja belajarnya yang paling bawah dan diambilnya poster Susi Susanti yang tengah memegang emas olimpiade Barcelona tahun 1992. Ditatapnya


poster tersebut dengan mata berkaca-kaca.


Seandainya ayahnya tahu dia ingin jadi atlet bulu tangkis, apa ayahnya akan bersikap seperti ibunya?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2