
Prita melihat foto Fendi bersama seorang wanita. Baju yang mereka kenakan sama bertuliskan judul film horor yang sedang digarap oleh tim Fendi.
Wanita itu tersenyum manis dengan salah satu tangannya berada di pundak Fendi. Fendi seperti biasa bersikap cool sambil melipat kedua tangannya di dada.
"No caption needed" tulisan itu tertera pada postingan instagram Fendi. Apa maksudnya? kalimat itu seolah mengisyaratkan bahwa mereka memiliki hubungan.
Pikiran Prita bergerilya kemana-mana. Prita segera mengirim pesan pada Fendi. Pesannya langsung dibaca. Centang biru dua, namun tidak ada tanda-tanda Fendi akan membalas pesannya.
Prita menjauh dari lokasi shooting. Dia masuk ke dalam mobil, menyalakan lampu, dan mulai menelepon Fendi. Pada dering ketiga, Fendi menjawab teleponnya. Tanpa basa basi Prita memberondong Fendi dengan banyak pertanyaan. Fendi dengan santai menanggapi bahwa wanita itu adalah rekan satu timnya dan caption itu jelas mengatakan bahwa mereka adalah crew, tidak ada maksud lain.
Prita berusaha mempercayai kata-kata Fendi. Dia tidak mau bersikap gegabah, yang akhirnya akan membawa penyesalan bagi mereka berdua.
"Kamu sakit?" tanya Tara saat Prita kembali ke lokasi shooting.
Prita menggeleng.
"Kita menginap disini. Hari ini hari terakhir kita di lokasi shooting" ujar Prita memperingati Tara.
Waktu menunjukan pukul 03.00 WIB. Baik Prita maupun Tara sibuk dengan ponselnya masing-masing. Mereka saling melirik.
"Gak tidur lo, besok kan lo harus nyetir" tanya Tara.
__ADS_1
"Lo ngapain belum tidur. Besok lo harus bikin konten Tik Tok" Prita bertanya balik.
"Besok gue gak ada jadwalkan?" tanya Tara lagi.
"Gak besok lo full di rumah, tapi harus ngoten"
Mereka berdua saling berpandangan. Mata mereka saling mengisyaratkan satu sama lain. Besok tidur panjang.
Tara sibuk membalas komentar haters Lintang, sedangkan Prita jiwa FBI-nya mulai bergelora, bergerilya menstalking satu persatu followers dan orang yang di follow Fendi.
Pokoknya Prita harus tahu akun perempuan itu, sampai ketemu.
Lama kelamaan mata mereka mulai mengecil karena rasa kantuk, sekaligus rasa pedih yang menyerang mata akibat terlalu lama menatap layar ponsel dan akhirnya keduanya terlelap.
*****
"Mba, bangun mbak udah siang" panggil sebuah suara sambil mengguncang badan Prita dan Tara pelan.
Tara dan Prita kaget. Penampilan mereka kucel, penuh keringat dan awut-awutan.
"Udah jam berapa mba" tanya Prita.
__ADS_1
"Setengah tujuh mba. Yang lain udah pada pulang dari satu jam lalu. Tinggal crew yang lagi beres-beres"
Tanpa banyak cingcong Tara dan Prita segera berpamitan dan menuju mobil. Prita mengendarai mobil ngebut, agar segera sampai di rumah. Badan mereka serasa remuk dan rasa pening menjalari bagian kepala keduanya.
"Prit…" panggil Tara.
"Kenapa?" tanya Prita sambil menyibak gorden apartemen mereka membiarkan cahaya pagi menembus melalui jendela kaca.
"Nyokap gue minta transfer 50 juta" ujar Tara pelan.
"Nyokap lo udah gila ya? kenapa sih lo gak putus hubungan aja sama dia?" tanya Prita gemas. Untuk kesekian kalinya mama Tara minta ditransfer sejumlah uang dengan angka yang tidak masuk akal, hampir tiap minggunya.
Sekali dua kali Prita memaklumi, sekarang bagi Prita ini sudah keterlaluan. Mamanya tidak pernah sekalipun menanyakan kabar anaknya, atau setidaknya berlaku layaknya seorang ibu. Setiap kali telepon, pasti yang dibicarakan adalah uang. Mamanya pun tak segan memaki Tara bila keinginannya tidak dipenuhi.
"Prit lo tau kan dia keluarga gue satu-satunya" suara Tara melemah.
Prita menyerah. Dia segera mentransfer 50 juta ke rekening Airin, ibu Tara.
"Terima kasih" bisik Tara lemah.
...----------------...
__ADS_1