
Jam menunjukan pukul setengah tujuh malam. Wahyu sedang menikmati kopinya sambil menonton pertandingan babak kualifikasi Denmark Open yang tayang di salah satu website olahraga Denmark.
"Permisi" sebuah suara mengagetkan Wahyu yang sibuk mengatur setting kamera handphonenya.
"Oh ya, silahkan masuk" ujar Wahyu sambil menuju ruang tamu. Kebetulan pintu rumahnya sengaja tidak ditutup, sampai istrinya kembali membeli kecap di warung.
Wahyu mengajak Regata ke ruang televisi karena tidak ingin melewatkan pertandingan bulu tangkis yang sedang berlangsung.
"Maaf ya, saya sambil rekam pertandingan bulu tangkis untuk youtube saya" ujar Wahyu basa basi sambil menceritakan bahwa dirinya membantu rekan-rekan pecinta bulu tangkis agar bisa menonton pertandingan tanpa perlu repot-repot mengunduh VPN.
"Mbaknya siapa, ada perlu apa?" tanya Wahyu sambil sesekali melihat komentar yang muncul di live streamingnya.
"Saya Regata, mamanya Mia" ujar Regata pelan.
Wahyu memandang Regata sejenak. Dia meneliti wajah Regata dan membandingkan wajah tersebut dengan wajah Mia. Tidak mirip.
"Saya dengar anak saya melewatkan bimbingan belajarnya dan berlatih badminton di sini" tanya Regata.
Wahyu mengoreksi pertanyaan Regata. Mia memang berlatih di tempatnya. Tapi putrinya selalu bilang jadwal lesnya berubah dan dia bisa berlatih tanpa khawatir ketinggalan pelajar di tempat lesnya.
Regata sanksi mendengar penjelasan Wahyu. Dia mencari kebohongan dalam nada dan gestur pria itu.
"Kalau boleh jujur Mia tidak memiliki bakat di badminton" ujar Wahyu.
"Awalnya saya hanya mendorongnya untuk berlatih. Tapi kerja keras dan kegigihan Mia mulai terlihat. Sekalipun perkembangannya lambat tapi dia tidak putus asa dan mau belajar. Kalau orang tuanya mendukung saya bisa rekomendasikan klub bulu tangkis yang bagus, mumpung usianya masih muda" ujar Wahyu.
Regata merasa tersinggung mendengar ucapan Wahyu bahwa putrinya tidak berbakat.
Tahu apa pria tua ini, ayah Mia adalah salah satu pebulutangkis terkenal di Indonesia. Kalau dia tahu dia pasti akan menarik kata-katanya. Batin Regata kesal.
__ADS_1
"arghhhh" jerit Wahyu tiba-tiba.
Regata terlonjak kaget dengan teriakan barusan.
"Ini salah satu kelemahan pemain kita. Wahh perlu ada evaluasi dari pelatih, pemain senior kok servisnya error terus" protes Wahyu.
Regata menatap layar laptop di hadapan Wahyu. Lapangan yang redup, angle kamera yang tinggi, dan tidak ada kesempatan challenge sudah bisa dipastikan ini permainan yang dilakukan dilapangan 3, atau yang kebih dikenal dengan sebutan court 3.
Regata memeriksa ponselnya. Dia segera membuka website Badminton Word Federation (BWF) Website resmi milik organisasi internasional badminton.
Dia mengklik menu calendar dan munculah jadwal pertandingan yang sedang berlangsung. Partai awal. Regata melihat daftar pemain di court 3.
Lintang Wiryateja vs Jeremiah Delcano.
Regata mengembalikan atensinya pada laptop Wahyu.
"Mau minum apa, istri saya lagi ke warung biar saya buatkan" tanya Wahyu.
Regata menolak cepat, dia fokus pada layar. Lintang kalah di game pertama. *G*ame kedua poin lawan unggul jauh dari poinnya.
Regata meremas celana bagian lututnya saat Lintang berhasil menyamakan kedudukan.
Regata menutup matanya sejenak. Menormalkan detak jantungnya, saat game ke-2 berakhir.
"Rubber game" ujar Wahyu mengembalikan kesadaran Regata.
Regata ingat tujuannya datang menemui Wahyu, adalah menanyakan tentang Mia dan meminta Wahyu agar tidak bertemu Mia lagi.
Mia harus fokus pada sekolahnya agar bisa menata masa depan yang cerah.
__ADS_1
Wahyu setuju, dia berjanji tidak akan menemui Mia. Wahyu tidak mau ikut campur, atau terkesan menggurui ibu muda itu.
"Jangan sampai ambisi orang tua menghancurkan kehidupan anaknya" ujar Wahyu lirih.
Wahyu mengantarkan Regata ke tempat Regata memarkirkan mobilnya.
"Lho ada tamu rupanya?" tanya istri Pak Wahyu kaget saat berpapasan dengan Regata di halaman rumah.
"Ini mamanya Mia" ujar Wahyu pada istrinya.
"Saya Regata" ujar Regata memperkenalkan diri.
"Masih muda mamanya Mia. Oh ya, Mia murid paling rajin di GOR, tidak pernah telat latihan. Saya yakin bakal jadi atlet junior sukses kalau latihannya di tambah" ujar istri Wahyu semangat.
Maksud hati ingin membanggakan Mia di depan Regata, yang diterima istri Wahyu malah tatapan shock sekaligus wajah 'tidak enak' Regata.
Wahyu yang sejaj tadi memberikan kode pada istrinya agar berhenti berbicara, mendadak pucat. Dia berusaha mencairkan suasana.
"ehmm, sudah hampir jam delapan mah. Mamanya Mia masih ada tugas di rumah sakit" ujar Wahyu asal, dia berusaha menghentikan istrinya.
"Lho kerja apa di rumah sakit, apoteker, perawat, dok…"
"Saya Dokter buk" ujar Regata menghentikan pertanyaan istri Wahyu.
"Bu sudah, mamanya Mia mau pulang. Nanti kapan-kapan mampir ya kalau ada waktu" ujar Wahyu cepat.
"Iya jangan lupa mampir" Regata dapat mendengar suara istri Wahyu saat dia membelokan mobilnya di persimpangan gang perumahan itu.
...----------------...
__ADS_1