
Regata mengecek Mia yang sedang duduk di pantry di temani makan siang dan peralatan menggambarnya. Perubahan hidupnya setelah Bi Nina tidak ada begitu terasa. Setiap pulang sekolah, Mia pasti diantar ke rumah sakit bersamanya hingga jam dinasnya selesai. Terkadang Mia sibuk menggambar terkadang putri kecilnya tertidur pulas di atas meja yang ada di pantry.
Regata tidak berani membiarkan Mia sendirian di rumah, dan dia juga tidak berusaha mencari asisten rumah tangga, selama Bi Nina tidak ada. Sebagai ibu-ibu yang aktif menggunakan media sosial, ada kekhawatiran sendiri di benaknya bahwa asisten rumah tangga mencuri ataupun menjual barang berharga milik majikannya seperti yang viral baru-baru ini. Yang paling mengganggu pikirannya adalah, penculikan anak yang dilakukan oleh asisten rumah tangga. Regata tidak mau membayangkan hal itu terjadi padanya.
Sambil mengerjakan tugas utamanya, Regata mengecek putrinya. Regata menimbang-nimbang sedikit permintaan gurunya agar Mia diikutsertakan dalam lomba menggambar dan mewarnai yang diadakan salah satu penerbit ternama di Jakarta.
“Lu mau Mia berprestasi, kenapa gak dibiarin aja ikut lomba ke Jakarta” tanya Jenar saat Regata meminta pendapatnya.
“Gue takut Mia gak ada yang jagain, terus ketemu orang tua gue, gue belum siap” ujar Regata menyipitkan matanya. Kegelisahan tergambar jelas di wajahnya.
“Lah kan ada gurunya yang dampingi” ujar Jenar gemas.
__ADS_1
“Kita sama-sama pernah di Jakarta Ata. Jakarta itu luas, lagian kalau gak ada yang laporin ortu lu, gak bakal ada yang tahu” ujar Jenar penuh semangat.
“Iya juga ya” ujar Regata menimbang-nimbang perkataan Jenar.
“Jangan sampai lo nyesel. Kesempatan ini gak datang dua kali. Nggak semua anak punya bakat kayak Mia. Kalau aja nih Mia anak gue, udah gue ikutin tuh lomba ke mana-mana dibanding ikut les Matematika” komentar Jenar mendapat tatapan sinis Regata.
Regata kembali menatap putrinya, benar juga apa yang dikatakan Jenar. Regata berusaha mencari alasan yang tepat kenapa dia mengizinkan Mia ke Jakarta. Kondisinya saat ini tidak memungkinkan tiap hari mengantar jemput Mia, meskipun Genta berkali-kali menawarkan bantuan. Baru saja beberapa hari ditinggal Bi Nina, Regata mulai kewalahan mengurus rumah, anak, dan pekerjaanya. Entah apa yang dilakukan ibu-ibu di luar sana yang sama seperti dirinya.
“Gambar apa kamu?” tanya Regata.
“Bagus” ujar Regata singkat.
__ADS_1
Mata Mia berbinar-binar mendengar pujian dari ibunya. Mia meneliti lagi gambar yang belum diwarnai itu. Karena Regata bilang bagus maka Mia berniat mewarnai gambar itu dan memajangnya di kamar Regata.
“Halo Mia, gimana sekolahnya” Genta menyapa Mia.
“Halo om” balas Mia mulai menceritakan kegiatan apa saja yang dilakukan di sekolah hari ini.
Mia melihat interaksi Mia dan Genta yang begitu hangat. Genta yang kaku itu, justru pandai menghangatkan suasana saat bersama anak kecil. Mereka berdua tidak terlihat canggung.
Apa jika bertemu ayah kandungnya Mia akan melakukan hal yang sama? batin Regata.
Oh iya, hari ini semifinal, Lintang satu-satunya wakil Indonesia di tunggal putra yang lolos. Semoga saja hari ini keberuntungan bersama Lintang.
__ADS_1
Regata mengambil ponselnya, mencari sebuah nomor dalam daftar kontaknya.
“Halo selamat siang Bu, ini Regata mamanya Mia. Mia saya izinkan ikut lomba, tolong didaftarkan. Terima kasih” ujar Regata saat suara wali kelas Mia mengatakan akan memberitahu lebih lanjut, apa saja yang perlu dipersiapkan via Whatsapp.