Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Lalai


__ADS_3

Satu minggu sebelumnya


“Gimana keadaan ibu dr. Genta?’ tanya Regata pada Jenar  yang baru mengirimnya pesan bahwa ibu dr. Genta, tante Hilda terjatuh di tempat jemuran di rumah mereka. Regata pernah beberapa kali ke rumah Genta dan menurut Regata tempat cuci serta jemuran, didesain menggunakan lantai keramik khusus yang permukaannya kasar.


“Sudah dirujuk ke RSUD” ujar Jenar.


Sebelum mengakhiri panggilannya, Regata meminta Jenar agar tetap mengabarinya kondisi terbaru tante Hilda karena pesannya kepada dr. Genta masih menunjukan centang satu.


Setelah Genta berhasil dihubungi, lelaki itu menceritakan kronologi terjatuhnya tante Hilda. Tempat yang menurut orang normal aman, belum tentu untuk orang tua yang memasuki usia senja. Penglihatan mereka sudah kabur dan anggota tubuh yang lain telah mengalami penurunan fungsi itulah alasan mereka masuk kategori resiko jatuh.


Genta juga mengatakan dia menolak ibunya dirawat lebih lama di RSUD dan memilih melakukan periksa lengkap ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Setelah kolaborasi pemeriksaan oleh dokter bedah dan saraf. Pemeriksaan lengkap pun dilakukan hasil pemeriksaan menunjukan adanya bagian yang cedera dan mengalami perdarahan. Perawatan spesialis rehab medik, menjadi tujuan akhir dari rangkaian pengobatan tante Hilda.


“Dok, bersyukur tante Hilda bisa menempuh perjalanan jauh” ujar Regata lega saat Genta bilang mereka tiba di Jakarta dengan selamat, sebelum perjalanan ibunya di diberi obat pereda nyeri. Genta mengaku pasrah saat dokter mengatakan ada kemungkinan ibunya akan menderita stroke, atau mengalami kelumpuhan. Semua resiko itu di luar kendalinya.


“Ata telponan sama siapa?” tanya Danu. Danu dan Arimbi, keluar mengintip Regata yang duduk di teras samping rumahnya.


Arimbi melihat gelagat Regata yang sedang memberikan penguatan. Tak mungkin itu keluarga pasien atau teman kerjanya. Raut wajah Regata malu-malu mungkin saja itu ...


Danu menyenggol Arimbi, memberi kode agar mereka segera menyingkir dari tempat itu karena Regata telah menutup telepon.


“Siapa mah” tanya Mia ingin tahu sambil mengunyah irisan apel yang diberi sedikit perasan jeruk nipis.


“Dokter Genta, mamanya masuk rumah sakit. Jatuh waktu jemur baju” ujar Regata.


“Oh, aku juga belum nelpon Om Genta” ujar Mia.


Arimbi dan Danu saling berpandangan curiga.


“Genta itu siapa?” tanya Arimbi sewot. Ada nada curiga dalam suaranya.


“Teman kerja mama, sering bawain aku makan” ujar Mia


“Itu Dokter mitra, sub spesialis bedah vaskular dan endovaskular yang kerja di rumah sakit. Aku kerja sampingan di tempat prakteknya” ujar Regata.


Danu dan Arimbi menatap Regata curiga.

__ADS_1


*****


Lintang POV


Langkahnya terhenti tak kala melihat sosok yang amat dikenalnya sedang bercengkrama dengan seorang pria yang sedang mendorong kursi roda wanita tua.  Di Sampingnya ada anak perempuan kecil mengenakan setelan olahraga.


Wajah anak itu tak asing, mirip seperti anak yang digendong ayah Regata waktu itu. aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Regata tampaknya menjalani hidup dengan baik setelah hilang tanpa kabar.


Sejenak aku ragu untuk melangkah, aku bisa saja membatalkan janji dengan dokter tapi kenapa? Apa karena kehadiran Regata membuatnya enggan datang ke tempat itu atau kenyataan bahwa Regata hidup bahagia?


Aku ingin menyapanya, menanyakan kabarnya dan kenapa dia hilang begitu saja saat itu. Tapi rasanya tak pantas jika aku langsung menodongnya dengan berbagai pertanyaan di hadapan orang asing yang aku tak tahu siapa mereka.


Aku memantapkan langkahku berjalan melewati ruangan lenggang itu. Wajah Regata berpaling menatapku, kami beradu pandang barang sedetik. Wajahnya menatapku kaku. Bukan itu yang aku harapkan, setidaknya dia menyapaku atau sekedar basa-basi memperkenalkan orang yang ada bersamanya.


Lidahku kelu, namanya tak mampu ku sebut tak ada kata yang keluar dari mulutku yang ada hanya ekspresi yang sama kakunya. Lewat ekor mata ku perhatikan wajah cantiknya berlalu. Cih, memangnya apa yang aku harapkan? setelah pergi mengejar mimpiku aku tak memberi kepastian pada Regata. Tidak ada kata perpisahan dan menunggu, saat itu aku terlalu yakin tidak ada orang lain di hubungan kami. Aku duduk di kursi yang disediakan di depan ruang pemeriksaan. Pikiranku kacau balau, berkali-kali aku mengatur nafas membuang pikiran negatif yang ada di otakku. Kalau memang ini akhir dari cerita kami aku harus ikhlas melihat Regata bahagia.


 


Regata POV


“Ma, mama itu Lintang mah, juara All England kemarin. Main di SEA Games juga” ujar Mia heboh sambil menoleh ke belakang, mencari sosok yang pernah muncul di majalah badminton.


“Kenapa gak sekarang aja, mumpung orangnya ada. Jarang kan ketemu atlet di luar pelatnas” suara Genta nimbrung percakapan kami  mencari sosok yang dimaksud Mia.


Aku mati-matian mencegah kedua orang itu dengan alasan Lintang pasti capek dan datang ke klinik untuk pemeriksaan. Tentu saja kehadiran Mia di sana akan mengganggu aktivitasnya.


“Titip ibu sebentar”’ ujar Genta, dan tante Hilda tidak keberatan ditinggal bersama Regata sedangkan Genta dan Mia berlari ke dalam mencari sosok Lintang.


Aku menggigit kuku jariku, perasaan cemas dan takut memenuhi pikiranku. Aku tak menyimak cerita tante Hilda padahal tadi aku basa-basi minta diceritakan kronologi yang sebenarnya telah kudengar dari Jenar dan Genta.


“Itu mereka” ujar tante Hilda


Genta dan Mia muncul dengan wajah muram.


 “Gimana, ketemu?” tanyaku cepat.

__ADS_1


“Gak bisa di ganggu, lagi konsul dan treatment” ujar Genta.


Syukurlah mereka tak bertemu, aku tak perlu bertanya panjang lebar.


Sebelum berpisah Genta dan tante Hilda mengucapkan terima kasih. Aku melihat Mia melambaikan tangannya wajah murungnya semakin bertambah. Sepanjang perjalanan dia hanya diam sambil melihat pemandangan di sekitar jalan. Sedangkan aku mendengarkan musik hiphop kesukaanku sambil bersiul kecil.


...****************...


Pertemuan dengan Regata masih menyisakan tanda tanya bagi Lintang. Dia mencari Regata di sosial media dan semua tempat di internet, yang didapatnya hanya akun facebook yang sudah empat tahun tak aktif dan namanya tercatat sebagai alumni di kampusnya. Setiap akhir pekan mereka diizinkan meninggalkan asrama sampai pukul 09.00 malam, Lintang akan datang ke rumah Regata apapun hasilnya akan dia terima dengan lapang dada.


Sementara itu di rumah Regata sedang dikejutkan dengan telepon dari bagian personalia rumah sakit tempatnya bekerja. Surat Izin Praktek (SIP) Regata akan segera berakhir dan dia diminta segera memperpanjang SIP. Regata ingat sekarang, namanya sudah diperingati dalam sistem sejak tiga bulan yang lalu bahwa SIP akan segera berakhir, tanpa SIP dia tidak bisa melakukan tindakan pada pasien surat penting itu adalah mati dan hidup tenaga kesehatan.


Regata mencari rute penerbangan keesokan harinya. Tersisa satu tiket di penerbangan pukul 02.30 WIB dini hari nanti. Tanpa pikir panjang dia memesan tiket itu secara online, jam menunjukan pukul 20.00 WIB sebaiknya dia segera mengemasi barang-barangnya.


“Ma, baju-baju aku masih ada yang dijemur gak?” teriak Regata.


Arimbi yang sedang berada di ruang kerjanya keluar melihat Regata hilir mudik mengangkat pakaiannya yang setengah kering. Arimbi mengomeli Regata dan memintanya menunda keberangkatannya.


“Gak bisa mah, ini mendesak banget” ujar Regata


Arimbi tak menghubungi Danu karena tahu suaminya sedang rapat bersama fraksi lain dan ponselnya pasti dalam mode pesawat.


“Kamu duduk tarik nafas dulu, baru diatur barangnya, Jangan grusa-grusu nanti ada yang lupa” Arimbi mengingatkan sambil melipat pakaian Regata.


“Lagian ngapain sih beli banyak barang. Tinggalin aja yang kurang penting, kan nanti kamu balik ke sini lagi” Arimbi mengomentari Regata yang mengemas semua barang.


Regata bimbang, perlengkapan make up menurutnya barang berharga yang harus dibawa dan isinya memenuhi dua tas sedang belum lagi koper yang berisi baju, dan sepatu. Arimbi yang geram memaksa Regata meninggalkan sebagian besar barangnya dan bilang bahwa barang-barang itu akan dipaketkan ke alamat Regata. Waktu semakin dekat dengan keberangkatan, Arimbi dan Mia membantu Regata memapah kopernya ke garasi.


Tepat pukul 21.30 WIB mereka berangkat menuju bandara, mengantisipasi jika macet setidaknya mereka punya banyak waktu sebelum keberangkatan. Setelah melewati perjalanan panjang mereka tiba di bandara pukul 01.45 WIB.


“Duh baterainya tinggal 45% lagi” ujar Regata


“Mah chargerku mana?’” tanya Regata sambil membuka ranselnya.


“Lah kan tadi udah mama kasih ke kamu, katamu taruh di meja” ujar Arimbi

__ADS_1


Regata berhenti membongkar tasnya dia tak bisa marah karena itu adalah kelalaiannya sendiri, dengan wajah kesal dia memindahkan semua barang ke troli dan pamit asal-asalan pada Arimbi dan Mia.


...----------------...


__ADS_2