Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Sesak


__ADS_3

Danu Atmaja digiring keluar rumahnya. Tampak mobil patroli, polisi, hingga satpam kompleks berada di sekitar rumahnya. Tanpa banyak tanya, Danu menyerahkan diri. Air mukanya normal, tak ada rasa gelisah di wajahnya. 


"Pak, pak, apa benar bapak melakukan korupsi?" tanya seorang wartawan sambil menyodorkan voice recorder tepat di bawah dagunya.


Danu memilih bungkam. Mengabaikan belasan blitz kamera yang mengarah pada wajahnya. Meskipun tanpa perlawanan, tangannya tetap diborgol mencegah dirinya melarikan diri.


Sepanjang perjalanan Danu menikmati indahnya ibu kota di malam hari. Sudah lama dia tak menikmati udara subuh, jalan yang lengang dan melihat bangunan lain yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


Kendaraan semakin diperlambat, mereka tiba di kantor polisi. Danu diperiksa dalam ruangan tertutup, diinvestigasi seolah dia adalah pelaku pembunuhan. 


Tak satupun bukti dibantah oleh Danu. Semua dokumen berisi tanda tangannya. Selama lebih dari 6 jam Danu berada dibawah intimidasi aparat. Tak satupun suara keluar dari mulutnya.


Hari itu silih berganti orang-orang datang mengunjunginya. Entah menawarkan bantuan hukum dan lain sebagainya. Danu tetap acuh, baginya saat ini adalah saat terbaik mengambil keputusan secara logis. Dia berusaha menjaga pikiran dan hatinya.


Sementara itu, di tubuh fraksi Partai Koalisi Nasionalis (PKN) partai tempatnya bernaung, terjadi pergantian jabatan yang dilakukan secara tertutup. Bobby yang mendapat kabar itu, segera memberitahu Danu melalui salah seorang bawahannya yang mengantarkan makan ke ruang tahanan tempat Danu berada.

__ADS_1


Terjawablah sudah kecurigaan Danu selama ini. Sekretarisnya yang adalah orang partainya adalah dalang dibalik penangkapannya. Bukan hanya itu, bahkan teman satu partainya tega mengkhianatinya demi uang dan kekuasaan.


"Jalankan rencana kita," perintah Danu singkat. Lewat sebuah ponsel tua yang disewanya dari seorang sipir.


Sementara itu, Arimbi, Regata, dan Mia bersembunyi di nanggulan. Berusaha menjalani aktivitas sebagai masyarakat desa, dibawah kewaspadaan.


"Kita bakal aman di sini," ujar Arimbi pada Regata yang mulai menaruh curiga pada warga sekitar.


Isu Lintang belum juga mereda. Tak ada bantahan ataupun klarifikasi yang jelas dari manajemen Lintang dan PBSI. Satu persatu akun anonim muncul membeberkan ciri-ciri wanita yang mirip Regata.


Ketika membaca berita hoax tentang Lintang, emosinya meningkat. Seluruh tubuhnya terasa keram. Nafasnya memburu, ada rasa sesak yang tak mampu diatasinya. Tiap malam dirinya tak bisa tidur nyenyak.


Mia pun tak terurus. Seringkali gadis kecil itu mengeluh ototnya sakit karena tak pernah melakukan kegiatan rutinnya.


Sedangkan Arimbi berada diambang kebingungan. Sudah dua hari dia tak dihubungi Bobby. Kekhawatirannya semakin meningkat. Suami, anak, dan cucunya tak baik-baik saja. Meskipun GERD nya kambuh, Arimbi tak bisa mengeluh. Semuanya kacau, mereka sedang tak baik-baik saja.

__ADS_1


"Ma, aku harus gimana?" tanya Regata di hari ketiga mereka tinggal di tempat itu.


"Sabar sayang, kita pasti dapat kabar setelah ini," ujar Arimbi pada Regata.


Regata terdiam, sambil memeluk diri Mia. Putri kecilnya balas menatap wajah Regata berusaha meyakinkan ibunya bahwa badai pasti berlalu.


"Ma, jangan sedih," bisik Mia pada Regata.


Air mata Regata tak terbendung. Kegelisahannya luruh bersama bisikan putrinya. Dia harus percaya bahwa semuanya pasti akan berakhir.


Di Jakarta …


Sidang belum diputuskan. Penyidik sedang mengumpulkan bukti, namun lawan politik Danu semakin menggebu. Mereka menuntut ganti rugi uang rakyat, dan juga pembekuan aset pribadi.


Danu sedikitpun tak gentar, ancaman dan teror terus datang untuknya bahkan tanpa diduga, sore itu Lintang muncul di hadapannya dengan wajah tak menentu. Raut wajah Lintang tampak lelah namun sorot matanya garang, seolah menuntut keadilan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2