Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Pengakuan Mia


__ADS_3

"Trinitas! Trinitas! Trinitas!" teriak anak Sekolah Dasar Trinitas tempat Mia bersekolah. Hari ini perlombaan pertama diawali dengan sepak bola dan bola voli.


Mia iku bersama rombongan suporter dari sekolah. Mereka berangkat menggunakan bis sekolah ada yang ditemani oleh orang tuanya memakai kendaraan pribadi.


Bi Nina menyusul ke lapangan. Dia mencari keberadaan Mia di antara lautan manusia yang berada di lapangan wali kota tempat diadakan lomba.


"Masih lama? hari ini ada les Matematika" ujar Bi Nina mengigatkan Mia saat melihat putri majikannya berada di barisan paling depang suporter voli.


"Satu babak lagi Bi, babak pertama kami udah menang" pinta Mia.


"Nggak. Bisa telat kita kalau masih nonton babak ke dua" ujar Bi Nina memperhatikan pelatih yang memberi instruksi pada pemain bertanda waktu istirahat sedang berlangsung.


Bi Nina menari Mia keluar dari kerumunan suporter menuju parkiran.


"Kita makan di luar ya" ajak Bi Nina pada Mia.


Tanpa banyak bicara mereka menuju KFC terdekat. Bi Nina memesan dua paket combo meal super besar. Mata Mia berbinar melihat ayam crispy di hadapannya. Jarang-jarang dirinya bisa makan enak karena mamanya bilang kita tidak pernah tahu makan diluar pengolahannya bagaimana bersih atau tidak, makanan baru atau tidak. Ribet juga punya mama seorang Dokter.


Mereka berdua mencuci tangan lalu mulai makan. Mia makan dengan lahap.

__ADS_1


"Mau kentang goreng gak?" tanya Bi Nina mumpung mereka punya kesempatan makan di luar.


Mia mengangguk cepat.


Bi Nina memesan kentanh goreng dan membayarnya di kasir.


"Kemarin kamu telepon siapa pakai Hp Bi Nina"


"Oma" jawab Mia cuek sambil.mencomot kentang goreng.


"Kamu dapat nomornya dari mana?"


Mia menceritakan secara rinci bagaimana dia mendapatkan nomor ibunya.


"Bi Nina jangan bilang mama dulu ya" ujar Mia memelas.


Bi Nina dilema. Sejak bekerja di keluarga ini Bi Nina berusaha menutup mata dan telinga terhadap kehidupan pribadi majikannya. Bi Nina pernah melihat Regata diam-diam menangis setelah menelepon seseorang Bi Nina juga tahu Regata mengikuti perkembangan bulu tangkis. Bi Nina mengambil kesimpulan Regata tidak setegar itu hanya karena alasan yang tidak pernah dia jelaskan, Mia menjadi korban.


Bi Nina ingat suara khawatir ibu majikannya tadi malam. Jelas sekali wanita itu tidak pernah berkomunikasi dengan Mia. Dia hanya diberitahu bahwa cucunya telah berusia delapan tahun dan sekarang duduk di kelas tiga sekolah dasar.

__ADS_1


Bi Nina merasa berada di persimpangan antara menutupi kebohongan Mia, membantu Arimbi dan juga mematuhi Regata. Sebagai seorang ibu dan juga seorang anak Bi Nina paham betul kerisauan ketiga orang ini.


Dokter Regata mungkin saja anak orang kaya yang memilih pergi dari rumahnya karena suatu alasan. Mungkin karena "kecelakaan" di luar nikah lalu diusir dari rumahnya.


Duh, pikiran Bi Nina ngelantur kemana-mana. Kenapa kehidupan orang kota penuh intrik dan drama. Padahal baginya bisa makan dan tidur hari itu adalah sebuah kenikmatan yang harus ia syukuri.


Bi Nina menyadarkan dirinya sendiri, benginilah jadinya karena sering menonton drama di televisi.


"Bi, janji ya jangan bilang mama dulu" ujar Mia menatap Bi Nina dengan mata bulat jernihnya.


Mia menyodorkan kelingking kirinya sebagai tanda perjanjian.


Bi Nina menautkan kelingkingnya pada jari Mia.


Mia tersenyum memamerkan lesung pipinya.


"Pinjam Hp lagi dong Bi" ujar Mia cengengesan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2