Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Profesi Baru


__ADS_3

Kantor Nusa Entertainment siang itu dipenuhi sorak-sorai karyawan saat sekretaris kantor menyampaikan bahwa malam nanti ada makan bersama seluruh staf di alamat yang sudah disebar di grup Telegram kantor. Rupanya kabar baik itu datang karena dalam bulan ini Nusa Entertainment menduduki peringkat pertama pencarian google dan trending di sosial media berkat popularitas Tara Widuri salah satu artis yang berada di manajemen itu.


Tara tentu saja senang mendengar popularitasnya kian meroket dan memberikan keuntungan bagi pemilik perusahaan. Bukan hanya tawaran iklan dan sinetron, kini Tara mulai merambah dunia modeling dan presenter. Saking banyaknya tawaran yang datang, Tara terpaksa mengumumkan close endorse sampai waktu yang tak ditentukan. Ada rasa sedih di hatinya saat mengumumkan itu karena bagaimanapun juga tawaran yang sekarang datang berkat kepiawaiannya mengiklankan produk di sosial media. Kalau bukan karena kerjaan pertamanya, pencari talent Nusa Entertainment tidak mungkin menghubunginya.


“Senyum dikit kek yang jobnya makin banyak” ujar Prita.


“Sedih tau, sekarang Instagram gue udah diambil alih tim manajemen” ujar Tara cemberut. Dia terpaksa menutup DM Instagram dan mencantumkan email kerjasama dan kontak manajer di bio Instagramnya.  Prita menghibur Tara. Dia membelikan segelas Moccacino dan Bakpao coklat Family Mart.


Makan malam dipenuhi canda tawa para karyawan. Ada yang membahas pekerjaan ada pula yang membahas gosip terhangat di kalangan artis dan gaya hidup. Tara mendapat ucapan terima kasih silih berganti dari orang-orang yang hadir di situ termasuk Tedja dan Kingston yang spesial diundang ke acara itu.


Tedja menghampiri Tara yang buru-buru mengenakan kacamata hitam, menjauh dari kumpulan orang-orang yang sibuk melahap makanan di tempat itu.


“Ga ada matahari ngapain pakai kaca mata hitam” goda Tedja.


“Gue lagi gak punya energi untuk bertengkar, dan nih lo lihat mata panda gue udah menyebar ke mana-mana” Tara menunjukan lingkaran hitam di bawah mata. Malam itu dia tak menggunakan make up tebal melainkan bedak tipis dan vaseline lip balm yang dioles seadanya.


“Buka deh kacamata lo, berasa ngobrol sama tuna netra” ejek Tedja


Tara yang mudah tersulut emosi melepas kacamatanya sedangkan Tedja di sampingnya tertawa puas. Tara menaikan sudut bibirnya, mencibir tingkah kekanakan Tedja.


“Ok, sorry gue mau negosiasi sama lo” ujar Tedja.


“Apa?” tanya Tara penasaran.


“Sinetron kita banyak yang minat nih, dari situ gue gak bisa tutup mata dong sama fakta kalau chemistry kita membawa banyak keuntungan”

__ADS_1


Perasaan Tara mulai tak enak.


“Bakal lebih menguntungkan lagi kalau di bawa ke dunia nyata”


“Gimmick maksud lo?” tembak Tara.


“Betul” ujar Tedja tersenyum lebar.


“Ogah ah, gue punya pacar” tolak Tara.


Tedja tertawa keras.


“Pacar dari mana, Lintang kan udah bilang ke media kalau hubungan kalian udah game over” ujar Tedja


Ingin rasanya Tara menoyor dahi Tedja, perbedaan tinggi diantara mereka membuat Tara mengurungkan niatnya. Mulut Tedja benar-benar tak sopan.


Tedja melanjutkan khotbah tentang keuntungan dari sisi finansial dan gaya hidup. Tedja juga meminta Tara memikirkan matang-matang ide gimmick ini sebelum mereka melangkah lebih jauh.


“Menurut lo gimana?” tanya Tara pada Prita di dapur apartemennya. Prita sedang mengiris nanas dan apel sambil mendengarkan Tara. Prita setuju dengan ide gila itu karena menguntungkan Tara dalam segi keuangan, biaya apartemen, biaya kendaraan dan pajak, biaya sewa barang bermerk, biaya perjalanan ke luar kota, asuransi, dan tentunya biaya hidup dan pajak untuk ibunya semua ditanggung Tara dan itu tak sedikit jumlahnya.


“Gue takut Prit. Gimmick biasanya Cuma bertahan sebentar sedangkan makan minum gue tergantung dari pekerjaan gue sekarang” Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.


“Lo pikirin baik-baik. Kalau sudah melangkah ntar gak bisa mundur. Mana yang jadi prioritas lo sekarang, uang atau karir yang lama. Kalau lu milih gimmick gue saranin asah kemampuan lo jangan kayak orang bodoh di depan kamera” saran Prita.


Cara meminta Prita menggambarkan posisi keuangannya sekarang. Hidup hemat ala rumahan tak bertahan lama karena mereka berdua tak sempat memasak jika jadwalnya padat, catering pun tak mungkin karena lokasi kerjanya yang berpindah-pindah. Berbagai cara telah mereka lakukan untuk menekan pengeluaran yang perlu namun ada saja hal-hal yang membuat mereka terpaksa mengeluarkan sejumlah uang. Simpanan khusus biaya tak terduga yang telah disisihkan Prita pun sering ludes tak berbekas.

__ADS_1


“Aduh gimana ya, gue juga gak mau pisah sama Lintang” rajuk Tara.


“Emangnya Lintang peduli kalau lo ajak balikan? Sadar, sadar lah Tara. Lo itu udah X dari hidup dia” omel Prita.


“Gue setuju sama Tedja, lo beli barang-barang mahal buat Lintang dan gak ada feedbacknya buat lo. Ngabis-ngabisin duit aja. Ingat tuh kewajiban lo buat nyokap” cerocos Prita.


Tara menopang dagu mengingat-ngingat tentang ibunya. Kalau dipikir selama ini dia tak pernah membelikan ibunya barang berharga seperti yang sering dia kasih ke Lintang. Tidak ada salahnya juga mencoba gimmick toh kalau tak berhasil tak ada yang rugi di antara mereka dan sinetron nya masih lama dari rencana tamat bahkan produsernya berjanji kalau ratingnya naik akan dibuat season 2 dan ditayangkan di televisi berbayar.


Sementara itu di apartemen Airin...


Suara nafas yang tertahan dan erangan-erangan terdengar jelas dari kamar mandi mewah di apartemen baru Airin. Ruangan itu kedap suara sehingga tak seorang pun mendengar aktivitas mereka. Airin tengah merekam kegiatan one night stand nya dengan seorang pria muda keturunan Afro-Amerika. Keduanya larut dalam hubungan badan yang panas. Detik-detik menuju puncak, pria itu menghimpit tubuh Airin ke tembok dan menggerakan pinggulnya cepat. Teriakan Airin semakin kencang, dan tubuh keduanya berguncang hebat. Pria muda itu memuntahkan cairan putih ke bokong seksi Airin.


“Done” ujar pria itu.


Keduanya mandi dan Airin minta direkam sekali lagi, dengan kegiatan yang sama.


Setelah menerima puluhan lembaran merah, lelaki itu meninggalkan apartemen Airin. Airin mengunggah potongan videonya di sebuah situs porno. Jumlah bayaran yang diterima sangat fantastis bahkan lebih besar dari uang 50 juta yang Tara berikan, dan uang dengan jumlah itu bisa dia dapatkan dalam waktu kurang dari satu bulan asalkan dia konsisten mengupload konten porno.


Airin tentu saja senang. Profesi barunya telah membawa dia mencoba lebih banyak brondong dan tentu saja brondong lintas negara yang tenaganya bukan kaleng-kaleng. Brondong lokal terlalu cerewet dan banyak permintaan padahal tubuh dan skill di ranjang tidak begitu hebat. Lebih mudah baginya bercinta dengan pria luar, tak banyak menuntut, tak keberatan di rekam.


Klik this link to see my full video tulis Airin di bawah video berdurasi dua menit yang baru saja diunggahnya dengan judul provokatif, agar menarik minat penonton.


Ikon pesan masuk memperlihatkan ada pesan baru yang dikirim ke akunnya. Airin hati-hati membuka pesan itu karena banyak spam yang berujung pencurian konten. Ternyata pesan itu berisi tawaran dari sebuah agensi porno. Tawaran work from home live streaming khusus konten 25+. Airin menuju website live streaming itu dan ternyata website itu berisi berbagai jenis live dari berbagai genre soft hingga gore. Airin bergidik saat dia coba menonton konten yang sedang live berisi konten BDSM level dewa yang dipenuhi penyiksaan. Pantas saja bayaran yang ditawarkan lebih besar dari konten yang diunggahnya tapi Airin menolaknya dengan alasan pembayaran sebuah live dicicil dalam kurun waktu satu bulan.


...----------------...

__ADS_1


 


 


__ADS_2