
"Kan sudah ibu bilang, hati-hati kalau main," ujar Regata sambil mengobati dagu gadis kecilnya yang tampak berdarah. Ada luka gores kecil di dagu putrinya, Mia.
Mia terjatuh saat kejar-kejaran dengan teman sebayanya di kampung itu. Mia meringis saat Regata membersihkan lukanya dengan antiseptik. Gadis kecil itu menahan tangis saat Regata menekan-nekan bagian luka gores itu.
"Sini," panggil eyang putrinya pada Mia.
Mia duduk di samping eyang putri, sambil mendengarkan lakon Ken Arok di radio tuanya. Mia melihat antena radio itu tampak berkarat, sesekali suara yang keluar dari radio itu bagai kaset rusak.
Berbulan-bulan di tempat itu membuat Mia terbiasa dengan debu, sarang laba-laba, serangga-serangga kecil hingga nyamuk. Kaki dan tangannya tampak bekas luka karena setiap digigit nyamuk, Mia akan menggaruk kasar bekas gigitan tersebut.
Regata terus menggerutu sepanjang hari. Sejak ibunya, Arimbi ke Jakarta 2 hari yang lalu nomor Arimbi selalu sibuk dan semakin susah dihubungi.
Rasa bosan yang bertubi-tubi menyerang Regata. Kadang kala dirinya bercermin sangat lama hanya untuk melihat rambut yang kusut dan bercabang, wajahnya yang kusam, tulang lehernya yang tampak menonjol. Regata merasa tak mengenali pantulan tubuhnya.
__ADS_1
*****
"Bangun," ujar Regata mengguncangkan tubuh Mia.
Pagi itu Regata harus bangun lebih pagi karena dinamo sumurnya rusak. Mereka harus menimba air di bak air yang terletak di tengah kampung. Mia, Regata dan keponakannya masing-masing memegang 2 jerigen. Antri bersama beberapa warga yang mengisi penuh gerobak mereka dengan jerigen air.
Ingin rasanya Regata mengeluh dan berbaring di rumah seharian. Namun dia tak tega melihat eyang putri yang rabun saja, masih berusaha memilah batu dan padi diantara butiran beras.
Baru dua kali bolak-balik, Regata merasa pinggangnya hampir patah. Tempayan air minum dapur baru terisi setengah. Regata tak tega melihat Mia ikut menimba air.
Keringat membasahi baju hitamnya yang tampak melar. Tak terhitung berapa kali sudah Regata mengusap keringat di wajahnya dengan ujung baju yang lusuh itu.
"Kalian istirahat, biar mama saja yang lanjutkan," ujar Regata
__ADS_1
Mia duduk di samping eyang putri. Mengipasi wajahnya dengan robekan kardus, sedangkan Regata bersiap menimba lagi. Meskipun setengah tempayan sudah terisi namun rasanya tak tenang kalau tempayan itu tak terisi penuh. Kebutuhan memasak bukan hanya mencuci beras pikirnya.
Seandainya saja ayah tak terjerat kasus, Regata tak mungkin berakhir menyedihkan di desa. Mia tak mungkin putus sekolah. Anak gadisnya itu hanya bisa membaca buku pelajaran bahasa Indonesia. Regata ingat buku bersampul hijau itu tak lagi dipakai pada zamannya, tetapi di dalamnya penuh cerita menarik.
Regata kembali tertatih kerumahnya. Tumpahan air membasahi kakinya yang tampak kecoklatan bercampur debu dan keringat. Jantungnya berdegup kencang melihat sebuah mobil sedan parkir di depan rumah eyang putri.
Regata mendengar suara tawa Mia. Cepat-Cepat Regata masuk ke dalam rumah. Suara itu berhenti, semua mata tertuju pada Regata yang muncul.
"Lintang," ujar Regata lirih.
Lintang menatap Regata dengan tatapan bengis. Sorot matanya memancarkan kekecewaan yang begitu dalam. Mia berada dalam dekapan Lintang, menolak melihat wajah Regata.
...----------------...
__ADS_1