
Empat hari lagi tim Indonesia akan mengikuti gelaran turnamen Korea Open S500. Ada dua turnamen lagi setelahnya, Jepang Open S750 dan Hongkong Open S500. Lintang dan skuad utama didaftarkan oleh asosiasi badminton untuk mengikuti gelaran turnamen itu.
Seperti biasa, sebelum pergi ada waktu liburan satu sampai dua hari untuk pemain agar bisa berlibur atau mengunjungi orangtuanya. Pagi itu para pemain yang rumahnya dapat dijangkau dengan jalan darat memilih pulang berkumpul dengan orang tuanya, selain meminta restu ada juga yang berziarah ke makam-makam leluhur dan keluarga. Lintang lagi-lagi tak pulang, dia hanya mengabarkan keberangkatannya dan jadwal turnamen via video call kepada orang tuanya.
Pagi itu Lintang menuju arena badminton tempat Mia berlatih, dia mendapatkan informasi dari asisten pelatih yang juga mantan pelatih pelatnas, yang kini menjadi pelatih di tempat itu. Lintang meletakan tasnya, duduk di tribun penonton sembari menyemangati Mia. Mia tentu saja senang, ada orang lain selain keluarganya di tempat itu dan itu adalah idola baru pecinta badminton.
Arimbi yang baru saja tiba dari minimarket di seberang tempat latihan terkejut melihat Lintang melemparkan senyum padanya sambil mengangguk sungkan. Arimbi duduk di samping Lintang, kali ini dia tak punya alasan kabur atau menghindar dari lelaki tegap di hadapannya. Keduanya menyemangati Mia, Lintang bahkan membantu menekuk kaki Mia saat Mia mengeluh pergelangan kakinya sakit. Nafas Mia terengah, sambil berbaring di lantai Lintang menekuk pergelangan kaki. Lintang membuka sepatu Mia hati-hati memeriksa apakah ada lecet di sana dan benar saja, ada lecet kecil yang berdarah.
Asisten pelatih menginstruksikan istirahat sambil Lintang mengobati kaki Mia dengan obat-obatan yang tersedia di peralatan P3K miliknya. Arimbi memperhatikan Lintang yang telaten dan sabar membalut kaki Mia. Mia tampak bersemangat dan kembali melanjutkan latihan. Lintang meminta izin pada Arimbi membawa Mia jalan-jalan, Arimbi menyetujui ajakan Lintang asalkan dia ikut bersama mereka.
Siang itu mereka bertiga menuju museum olahraga, Lintang menjelaskan sejarah bulu tangkis dan siapa saja yang telah mengukir prestasi olahraga serta fakta-fakta yang ada dibalik pertandingan olimpiade. Mia mendengar dengan cermat sambil melihat dan membaca tulisan-tulisan yang ada di sana.
“Wow Mia Audina” ujar Mia lihat foto peraih medali Olimpiade musim panas 1996 di Atlanta, Amerika Serikat.
Mia antusias bercerita tentang asal mula namanya dan ibunya yang merupakan penggemar badminton.
Tidak salah lagi
“Ibu kamu kemana?” tanya Lintang mengabaikan pandangan melotot Arimbi.
“Mama lagi kerja” ujar Mia.
Arimbi menarik nafas lega.
“Papa kamu?” tanya Lintang lebih jauh.
“Mia lihat sini” ujar Arimbi asal menunjuk apa saja yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Mia mendekat ke arah Arimbi, melihat sebentar lalu kembali fokus pada Lintang.
Lintang kembali menjelaskan fakta lain badminton yang diketahuinya, dan juga mengabari Mia turnamen yang akan datang.
“Om Lintang, aku doain semoga Om sukses dan menang di tiga turnamen itu. Hattrick!” ujar Mia penuh semangat.
Meskipun risih dengan panggilan “Om” Lintang berusaha tersenyum mendengar ucapan Mia. Dia tak menyangka mendekati Mia tak sesulit yang dibayangkan. Mia kecil mudah akrab dan bisa menjadi teman ngobrol yang menyenangkan.
“Sore nanti Mia ada les bahasa Inggris kami tak bisa lama di sini” ujar Arimbi menginterupsi percakapan Lintang dan Mia.
Mia tampak sedih, waktu terasa begitu cepat padahal ada banyak yang ingin dia tanyakan.
“Baik, setelah makan siang saya antar tante dan Mia pulang” ujar Lintang.
Sepanjang jalan Arimbi diam saja, dia memilih duduk di belakang, membiarkan Mia mendengarkan pengalaman bertanding Lintang. Lintang juga menjelaskan kendala non teknis yang sering mereka hadapi seperti cuaca yang berubah dan penyesuaian kondisi tubuh itulah sebabnya masing-masing atlet terbiasa membawa obat pribadi yang dianjurkan dokter.
Danu mengerutkan keningnya saat sebuah mobil Ford Fiesta parkir di jalur parkir rumahnya. Arimbi dan Mia turun dari mobil disusul Lintang yang ditawari Arimbi singgah di rumahnya.
Lintang berjalan mendekat ke teras rumah. Tampak Danu, pria paruh baya yang masih tampak gagah itu mengenakan kaos oblong dan celana pendek memperhatikan mereka bertiga.
“Silahkan masuk” Arimbi mempersilahkan Lintang masuk mengikuti Danu yang terlebih dahulu menuju ruang televisi.
Arimbi mengisyaratkan Lintang ikut menuju ruangan yang berada di dekat dapur itu.
Danu menyalakan televisi sedangkan Lintang duduk canggung di samping Danu, ada rasa segan yang menyelimuti hatinya saat berhadapan dengan Danu. Arimbi dan Mia tidak lagi berada di ruangan itu. Hanya mereka berdua ditemani suara televisi.
Lintang sedang berpikir topik apa yang cocok dibicarakan dengan Danu. Jika dia menanyakan Regata sudah dipastikan Danu bisa langsung menyuruhnya pulang, tak mungkin juga dia menanyakan siapa ayah Mia itu terlalu berani.
__ADS_1
“Kamu sudah telepon Regata?” suara berat Danu membuka percakapan mereka.
“Belum” jawab Lintang dengan suara rendah. Dia bingung akan dia panggil apa Danu, ayah atau pak.
“Saya kirim kamu nomornya Regata” ujar Danu. sedetik kemudian kontak Regata masuk ke pesan Whatsapp nya. Fakta bahwa Danu menyimpan nomornya membuatnya cukup tenang.
“Regata itu keras kepala dan gengsi. Saya tidak minta kamu memakluminya, saya yakin kalian berdua sudah sangat dewasa untuk bertemu dan menyelesaikan masalah kalian” ujar Danu.
Lintang tak mengerti arah pembicaraan Danu, mereka tak punya masalah yang serius untuk dibicarakan, selain keinginan Lintang menyampaikan permintaan maaf karena meninggalkan Regata begitu saja. Tapi mungkin juga ini adalah akar masalah hubungan mereka yang seperti orang asing pikir Lintang.
Lima menit lagi pukul 14.30 WIB, Danu memeriksa jam pada layar ponselnya. Dia mengajak Lintang makan siang di rumahnya, alih-alih menolak karena baru saja makan, Lintang menyambut tawaran Danu dengan senang hati. Hari ini dia ingin melupakan sejenak menu dan porsi diet. Makanan kaya bumbu, santan, berminyak dan apapun yang dihidangkan di meja makan dicobanya satu persatu.
Arimbi senang, Lintang punya porsi makan yang banyak tak seperti orang-orang rumah, yang sering membuatnya kesal dengan porsi makan sedikit dan cenderung pilih-pilih menu padahal kemampuan masaknya dipuji semua ibu arisan.
Pembicaraan Danu dan Lintang tidak lagi seputar Regata, melainkan merambah ke dunia politik mulai dari dana Kemenpora hingga nasib atlet setelah pensiun. Arimbi menikmati pemandangan hangat di hadapannya. Raut wajah Lintang lebih rileks dari sebelumnya dan Danu tampak santai. Lintang mampu mengibangi Danu, obrolan mereka terasa nyambung satu sama lain.
Mia yang sedang mengunyah potongan apel dan nanas sesekali dimintai pendapat oleh Danu dan Lintang meskipun Mia tak tahu apa yang diperbincangkan, gadis kecil itu merekam kosakata baru yang didengarnya termasuk istilah-istilah politik.
Sebelum Lintang pamit pulang, Arimbi menyerahkan sebuah amplop merah muda. Amplop yang tampak kekanak-kanakan itu beraroma manis yang bisa mengundang lalat buah menempel.
“Bukanya kalau kamu sudah sampai” ujar Arimbi menjawab kebingungan yang tampak di wajah Lintang.
Setelah tiba di kamarnya tanpa mengganti baju, Lintang membuka amplop merah muda yang diserahkan Arimbi padanya. Amplop itu berisi lima lembar tulisan tangan pada kertas binder warna-warni, kertas itu sangat populer saat Lintang sekolah dulu.
Lintang membaca judul surat yang ditulis dengan tinta hitam mengkilat.
Ode Untuk Lintang.
__ADS_1