
"Dokter Regata" panggil Dokter Genta mengalihkan fokus Regata dari pertandingan bulu tangkis yang sedang berlangsung di salah satu stasiun internasional khusus olahraga.
Regata segera menuju ruangan dokter Genta.
"Tolong resepnya dikasih ke Fahmi" ujar Dokter Genta menyerahkan lembaran resep pada Regata.
"Ibu silahkan tunggu di luar sambil resepnya dibuatkan" ujar Genta pada pasiennya.
Regata menuju ruang tempat apoteker Fahmi berada, dia sibuk menggerus obat untuk pasien balita yang baru saja melakukan operasi dua hari yang lalu.
"Selamat bergabung dok" sapa Fahmi untuk kesekian kalinya.
Regata hanya bisa tertawa. Pria yang baru dikenalnya kemarin itu, langsung menceritakan semua kegiatan di klinik seolah mereka adalah teman lama yang baru saja bertemu.
Sikap Fahmi yang ramah dan friendly menyelamatkan Regata dari sikap canggungnya pada Genta.
Sejak percakapan di ruang operasi, Genta jauh lebih ramah pada Regata. Genta mentolerir kesalahan Regata dengan alasan Regata masih butuh banyak belajar.
__ADS_1
Genta bahkan membayar separuh gaji Regata di muka alasannya agar Regata merasa bertanggung jawab dan tidak kabur meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Regata juga mendapat kemudahan lainnya, yakni dinas pagi di rumah sakit berkat lobi dokter Genta.
Regata tidak menampik saat Jenar secara halus menyindirnya bahwa dokter Genta melakukan KKN hingga dokter lain mendapat imbas lebih banyak jadwal jaga di malam dan siang hari.
Sindiran Jenar Regata anggap sebagai lelucon sesama sahabat meskipun 100% fakta. Regata memilih tidak ambil pusing dengan omongan rekan-rekan sejawatnya. Saat ini dirinya sedang butuh uang tambahan untuk menunjang hidup dan kebutuhan anaknya. Anggap saja rezeki yang dia dapat adalah anugerah karena sering jadi korban kemarahan dokter Genta.
Fahmi telah selesai mengemas resep beserta etiket obatnya. Dia memanggil satu persatu pasien dan keluarganya, menjelaskan resep yang diberikan oleh Genta.
Klinik Dokter Genta termasuk klinik yang lumayan ramai. Buka dari pukul lima sore hingga pukul sembilan malam. Hanya ada dua karyawan yang bekerja untuk dokter Genta, Regata dan Fahmi. Otomatis beban kerja mereka berdua bertambah karena itu dokter Genta menawarkan gaji tinggi.
"Suka bulu tangkis dok?" tanya Fahmi saat pasien sedang sepi.
Regata sedang menunggu giliran Lintang bermain di babak 16 besar. Masih dua pertandingan lagi sebelum giliran Lintang.
Fahmi terpaksa ikut menonton pertandingan bulu tangkis karena tampaknya Regata sedang fokus dan tidak ingin diganggu.
"Wah pemain ini rangking satu dunia sektor ganda campuran dari Cina"
__ADS_1
Suara berat yang mengomentari pertandingan membuat Fahmi dan Regata saling berpandangan.
"Siapa jagoanmu Re?" tanya Genta.
Regata mengerutkan keningnya. Dia punya sapaan baru Re, dari dokter Genta. Sapaan yang asing di telinganya.
"Saya jagoin yang juara dok" ujar Regata masih dengan kening berkerut.
"Lho ada ya, orang yang nonton badminton tapi gak ada pemain favoritnya?" tanya Genta tak percaya.
"Semua pemain Indonesia dok" ujar Regata.
Dokter Genta tertawa. Dia bergabung bersama Fahmi dan Regata sibuk berkomentar tentang teknik permainan.
Regata menyadari sikap aneh dokter Genta. Genta jadi lebih kalem, sabar, banyak tersenyum dan banyak bicara. Sisi lain Genta yang tidak Regata ketahui. Ada perasaan tidak nyaman menggerogoti hatinya saat Genta duduk di sampingnya.
Tak terasa jam menunjukan pukul sembilan malam. Hari ini kurang dari 20 pasien, mereka bersiap untuk pulang. Ada rasa tidak rela meninggalkan televisi itu, karena Regata memutuskan berhenti berlangganan televisi kabel dan internet demi memangkas pengeluaran perbulannya.
__ADS_1
"Mau saya temani nontonya?" tanya Genta membuat Regata refleks bangun dari kursinya dan segera bersiap menutup klinik dan pulang.
...----------------...