
Dering ponsel membangunkan Regata dari Tidurnya. Dia melihat panggilan yang tertera pada layar “Kamar Operasi is Calling”
“Halo” sapa Regata
“Dok ini Dion, malam ini ada Cito SC (operasi caesar yang sifatnya segera-red). Dokter Yani Spesialis Anak, minta dokter tolong tangkap bayi. Dokter Yani lagi ikut pertemuan tahunan Dokter Spesialis Anak” ujar Dion cepat.
“Lho Dokter jaga pada ke mana?” tanya Regata .
“IGD lagi ramain dok, ada pasien tabrak lari, dan pembacokan massal dok” ujar Dion setengah memelas.
Regata mengakhiri panggilan tersebut setelah berjanji pada Dion untuk datang ke kamar operasi.
Pukul 02.45 WITA, Regata segera menggambl jaket dan memakai masker. Dia menuliskan pesan pada lembar notes “Mama ke rumah sakit, kunci mama taruh di bawah pot bunga kamboja” tulis Regata, lalu di tempel pada pintu kulkas.
Regata memanaskan mobilnya sebentar lalu berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
Kepalanya sedikit pening karena kaget dan kurang tidur. Regata baru saja mengakhiri shift sore pada pukul 21.00 WITA, rasanya baru saja Regata terlelap dirinya sudah di telepon.
Regata mengingat-ingat dokter yang berjaga di IGD saat overan dinas (pergantian jaga) Dokter Desy dan Dokter Yere. Ckck pantas saja banyak pasien gawat. Setiap Dokter Yere dinas, pasien gawat akan menumpuk di IGD. Dokter Yere sering dijuluki spesialis pasien gawat saking seringnya pasien gawat yang datang di jam dinas Dokter Yere.
Total dokter yang berdinas di IGD rumah sakit itu adalah delapan orang. Diantara ke delapan orang itu Regata yang paling gampang di hubungi, sedangkan dokter lain jarang mengaktifkan ponsel mereka ketika mereka selesai berdinas atau sedang tidak berdinas.
“Selamat pagi Dok, sapa Dion, Reza, Hesti dan seorang bidan dari ruangan bersalin yang tidak Regata ketahui namanya.”
“Pagi, Dokter Winanya sudah ada?” tanya Regata.
Regata segera mengganti pakaian yang dia kenakan dengan pakaian operasi dan mengenakan atribut operasi yang lain.
“Kamu lagi tidur ya pas ditelepon?” tanya Dokter Wina sambil meminta perawat mendorong pasien ke ruang operasi”
“Iya dok saya habis dinas sore” ujar Regata berusaha tersenyum di balik masker operasinya.
__ADS_1
“Maaf ya, saya juga baru diinfokan ada pasien gawat. Tadi sore saya tidak di telepon kalau ada pasien kebidanan saya yang masuk” ujar Dokter Wina menjelaskan bahwa ada human error di jam dinas sore ruang kebidanan padahal dokter di IGD telah mengingatkan bidan untuk melapor ke spesialis kandungan.
“Tadi habis saya marah-marahi bidan di ruang bersalin, kalian itu bagaimana kalau gawat bayi atau ibunya tidak tertolong kalian mau tanggung jawab. Ini nyawa manusia kalian tidak boleh lalai begitu” ujar Dokter Wina memperagakan kata-kata yang dia lontarkan pada bidan di ruang bersalin.
Regata meminta maaf pada Dokter Wina karena dia juga tidak memberitahu Dokter Wina kalau ada pasiennya yang masuk saat jam dinasnya di IGD.
“Nggak Dok, saya hanya mau dihubungi oleh bidan kalau ada pasien saya. Dan saya sudah sering peringatkan mereka jangan nunggu dokter IGD yang telepon, kalian harus telepon saya laporkan juga tanda-tanda vitalnya” ujar Dokter Winta tidak setuju dengan sikap Regata yang meminta maaf.
Sepanjang operasi Dokter Wina menceritakan pengalamannya selama menangani pasien Cito SC. Empat puluh lima menit kemudian, operasi selesai. Pasien di dorong menuju ruang recovery oleh Reza dan Dokter Anestesi.
“Yok makan-makan” ujar Dion sambil menata kotak-kotak makan di ruang makan khusus petugas di Instalasi tersebut.
Ternyata Dokter Wina membagikan makanan berat dan camilan untuk petugas yang terlibat operasi malam itu dan bidan-bidan yang habis dimarahinya tadi. Regata makan dengan lahap, sambil mendengarkan Dokter Wina dan petugas lainnya berbicara.
...----------------...
__ADS_1