
"Prit mataku kok perih ya" ujar Tara sambil mengucek-ngucek kedua matanya.
"Tetesin obat mata" ujar Prita tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Prita sibuk mengecek semua sosial medianya sambil menunggu Fendy membalas pesannya. Centang satu. Prita dengan bodohnya mencoba panggilan lewat Whatsapp meskipun tau panggilannya tidak tersambung. Telepon biasa pun sama.
"Bintitan gak sih" tanya Tara lagi.
"Hmm" balas Prita mengiyakan.
"Eh gue gak pernah ngintip orang mandi, ngawur!" balas Tara kesal.
Bintitan di kampungnya sejalan dengan mitos akibat mengintip orang mandi. Kalau benar, maka Jaka Tarub harusnya buta, sudah mengintip, mencuri, berbohong, bahkan sampai nikah double kill pikir Tara. Kalau Jaka Tarub hidup di jaman sekarang bakal langsung dilaporkan ke komnas perempuan, kena pasal berlapis. Cih, cerita rakyat ternyata banyak sisi negatifnya.
Tara meraba-raba kelopak matanya yang mulai membengkak dan berwarna kemerahan. Saking penasarannya, Tara sampai menarik kelopak matanya hanya untuk mengecek ada benjolan yang muncul dari balik kelopak mata atau tidak.
"Prit, woy" panggil Tara
"Kenapa lo, dari kemarin sibuk mulu" tanya Tara sembari mengintip ponsel Prita.
"Gapapa lagi lihat kerjaan aja. Ada banyak tawaran nih, mau diambil semua apa gimana?" Prita mengalihkan pembicaraan.
"Libur Prit, gue butuh healing" rayu Tara
"Tara Widuri, utang lo tu banyak di mana-mana. Cicilan apartemen, mobil, barang branded, belum utang emak lo. Mumpung ada yang nawarin kerjaan ambil aja. Lu harus sadar, banyak artis yang gak laku sekarang. Selagi lo masih produktif, kurangi gaya hidup mewah lo, nabung yang banyak, buka usaha. Ingat kata pepatah
Berakit-rakit ke hulu,
Berenang-renang ke tepian
Sekarang lo kerja sampe mampus sekalian buka usaha, kalau sudah waktunya lo bisa pensiun dengan aman" cerocos Prita.
Tara memutar matanya bosan. Puluhan kali Prita mengingatkan dirinya tentang utang dan segala ***** bengeknya. Hari ini dia sedang berbahagia dengan kemenangan Lintang, dia memilih diam anggap saja Prita adalah angin lalu, pergi dan hempaskan.
"Hey, dengerin gue!" lanjut Prita.
__ADS_1
"Lu punya banyak duit, gue udah nyaranin ikut investasi, dan asuransi kesehatan lo selalu menghindar. Mau sampai kapan lo nginap di kelas VVIP pakai duit sendiri, kuat berapa lo. Sisihkanlah duit lo buat asuransi kesehatan lo, sama nyokap"
"Ntar aja lah kalau sakit" jawab Tara enteng.
Prita kehabisan kata-kata. Bodo amatlah, emang penyakit kalau mau nyerang ngomong dulu? entar kalau sakit jangan nangis cari pinjaman batin Prita.
Keesokan harinya Prita dibangunkan dengan teriakan histeris Tara. Prita yang masih mengantuk segera bangun lalu menuju asal suara, Kamar mandi.
Prita menggedor pintu dan tampak olehnya kedua mata Tara dalam kondisi bengkak parah. Kedua kelopak mata dan kantung matanya menebal menutupi penglihatannya. Wajah Tara seperti orang habis ditonjok. Tara meraung-raung tak terima wajahnya berubah jadi buruk rupa.
Hari itu Prita pontang panting membatalkan jadwal kegiatan Tara, meminta maaf dan mengirimkan bingkisan agar mengurangi kemarahan pihak yang mengundang Tara.
"Yuk ke dokter" ajak Prita prihatin.
"Nggak lah gila!, cepat pesan obat di halodoc. Bisa heboh kalau ada yang tahu penampilanku kayak gini" ujar Tara memikirkan imej dan nama baiknya akan rusak dengan foto wajah bengkaknya.
"Tara" panggil Prita pada Tara yang sibuk melihat pantulan wajahnya di kamera depan Iphonenya.
ckrekk, Prita memotret wajah Tara dan mengirimnya ke dokter umum kenalannya.
Tara berteriak heboh meminta Prita menghapus foto itu. Prita berusaha menenangkan Tara kalau dokter butuh foto wajahnya agar bisa mendiagnosa penyebab bengkak.
"Lo lagi ngegosip ya sama dokternya?" tuduh Tara
"Nih lihat balasan dokternya. Lo nggak mau ditelpon kan, makanya dokter ngirim chat panjang nih lo baca sendiri" ujar Prita terbahak.
Mata bengkak nya karena penumpukan cairan di area mata, terlihat dari bentuknya yang simetris (kalau kena tonjok bengkaknya gak simetris). Penyebab utama karena melihat layar ponsel atau laptop dalam waktu yang lama. Kondisi mata yang sekarang cukup parah, harusnya ditangani sejak bengkak pertama. Cara pengobatannya kompres mata dengan menggunakan es batu dan diberikan foto resep. Menurut dokter ada obat yang tidak bisa dibeli bebas, harus menggunakan resep.
"Udah gue pesan obatnya di apotek, yang kerjasama sama dokternya" ujar Prita
Beberapa menit kemudian obat datang, Tara buru-buru bersembunyi, takut kurir melihat wajah bengkaknya.
"Ngapain lo ngumpet? orang dia cuma di pintu"
Tara keluar dari persembunyiannya, lalu membuka bungkusan obat tersebut sembari memastikan pintu sudah tertutup rapat.
__ADS_1
"Ini gak ada obat suntik?" tanya Tara konyol.
Giliran Prita yang memutar bola matanya.
"Lo tinggal minum aja masih banyak tanya. Mau besok lo shooting dengan wajah begitu?" cibir Prita.
Dua hal didunia yang paling dibenci Tara, satu mencuci piring, dua meminum obat. Sejak kecil Tara selalu minum obat yang diselipkan di buah pisang matang atau buah lainnya yang rasanya manis.
"Kenapa gak disuntik aja sih, malah suruh minum obat. Obat apaan ni harganya di atas 50 ribu?" ujar Tara kaget.
Tara mencocokan nama obat dengan struk.
"Ce-te-ri-zine" eja Tara.
"Mahal amat" protes Tara.
"Lah kemarin katanya sakit dulu baru daftar asuransi. Kalau ikut asuransi, konsultasi dokter sama obatnya ditanggung asuransi" ujar Prita mengejek Tara.
Tara menuruti kemauan Prita dengan iming-iming biaya pengobatan di cover seluruhnya oleh asuransi. Dia mendaftar untuk dirinya juga ibunya.
Tara menekan-nekan kelopak matanya dengan ice pack gel rasa dingin mengurangi perih dan panas di wajahnya. Air mata terus mengalir karena rasa sakit dan juga desakan antara kulit matanya yang membuat jangkauan penglihatan semakin sempit. Dunia terasa kecil, untuk melihat seisi ruangan saja dia harus menegakan kepalanya dan mengangkat wajahnya.
Semua karena haters sialan yang terus merundung Lintang. Komen kemenangan giveaway lah, seandainya gak ini itu, Tara tak tahan untuk membalas satu persatu komen itu. Dia bahkan tak berkedip dalam waktu yang lama. Bola matanya memanas, dia merasa saraf-saraf matanya menegang karena perang komentar.
"Aduh, aduh" teriak Tara menjauhkan ice pack dari wajahnya.
"Kenapa lagi?" tanya Prita yang sedang memesan makanan cepat saji.
Tara menunjuk wajahnya yang melepuh.
"Esnya ditekan-tekan, bukan dibiarkan lama di atas kulit. Ini lap dulu belek lo" Prita menyerahkan tissue basah sambil mengernyit.
Prita sudah bosan berkomentar tentang kebiasaan Tara membalas komentar haters.
Percuma menasehati orang yang jatuh cinta dan penuh obsesi.
__ADS_1
"Finish" sebuah caption story Instagram membuat wajah Prita kembali murung.
...----------------...