Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Arimbi


__ADS_3

Arimbi meletakan sebelah tangannya di dada mengekspresikan rasa lega yang memenuhi hatinya. Hari ini pertandingan Spanyol terbuka telah dimulai. Lintang berhasil melewati babak penyisihan setelah mengalahkan unggulan 12 asal India. 


"Segera pesankan tiket ke Balikpapan, besok pagi saya berangkat" 


Suara Danu suaminya sayup-sayup terdengar dari ruang tamu. 


Arimbi segera mengganti saluran televisinya ke tayangan drama "Diary Seorang Istri" yang tayang setiap malam di salah satu televisi swasta.


"Pantas saja pertelevisian Indonesia gak maju, wong tayangan semuanya begini" komentar Danu sambil mengutak-atik ponselnya.


"Lah papa sebagai anggota DPR harusnya mengusulkan kepada itu, pihak terkait biar tayangannya lebih berkualitas. Masa nonton tayangan olahraga aja harus berbayar?" komentar Arimbi kesal.


"Kan beda mah. Penyiaran itu ada yang menaungi. Mama kan tau sendiri tugas papa berhubungan dengan infrastruktur dan pembangunan daerah tertinggal" balas Danu.


"Besok pagi papa ada urusan di Balikpapan" ujar Danu mengisyaratkan agar Arimbi segera menyiapkan kebutuhan perjalananya.

__ADS_1


"Berapa lama pah?" tanya Arimbi sambil memperkirakan jumlah pakaian yang akan di bawah.


Danu menjabarkan kegiatan yang akan dia ikuti selama satu minggu.


"Mah, handuk sama peralatan mandi gak usah dimasukin" tegur Danu melihat kebiasaan istrinya membawa peralatan mandi.


"Pah, handuk di hotel itu sudah dipakai banyak orang lho. Mending papa bawa handuk sendiri" ujar Arimbi geli membayangkan handuk yang dicuci berulang-ulang dan dipakai lagi oleh banyak orang.


"Mah, papa ini nginap di hotel berkelas. Kebersihan nomor satu mah. Kalau pun handuknya cuci pakai, toh sudah melalui proses steril yang penting handuknya bersih" Danu berusaha memberi pengertian pada Arimbi.


"Baju rumahnya dua pasang aja ma, jangan banyak-banyak cuma dipakai buat tidur"


"Panas lho di sana pa masa bajunya cuma dua pasang?" Dahi Arimbi berkerut dalam.


Pengalamannya berada di Balikpapan cuacanya cerah dan hawanya terasa panas. Belum lagi kegiatan Danu yang banyak berada di lapangan yang artinya suaminya akan banyak berkeringat.

__ADS_1


"Ya udah mama bawa baju kemejanya yang banyak sama jeans dua pasang" ujar Arimbi segera menyusun baju, dalaman, parfum, minyak rambut dan sebuah sisir kecil dalam koper.


"Sunblock pa, biar kulitnya gak terbakar" 


"Gak usah! topi aja" 


Danu dan Arimbi duduk di ranjang dalam diam. Danu sibuk mengutak-atik laptopnya sambil sesekali mengecek ponselnya sedangkan Arimbi membaca pesan masuk di grup istri anggota DPR yang juga sekaligus group arisan.


Galeri group dipenuhi dengan tawaran sewa barang branded. Mulai dari setelan bermerk, perhiasan, tas, sepatu hingga sewa kendaraan. Kehidupannya berubah setelah suaminya menjabat sebagai anggota DPR terutama di masa jabatan kedua.


Saat suaminya masih berstatus pengusaha dulu, lingkup pertemanannya sesama istri pengusaha mendukung usaha suaminya dengan hidup hemat, berpikir untuk mengembalikan modal, pinjaman bahkan mencoba membuka usaha yang lain. Tidak ada satupun diantara mereka yang berpikir untuk membeli barang branded sebelum benar-benar sukses.


Mungkin lingkungan ibu pejabat ya mendukung suami dengan berpenampilan berkelas pikir Arimbi. Dia pun hanya membeli satu atau dua tas bermerk yang dipakainya di acara tertentu. Tak ayal dia juga mendapat cemoohan dari ibu-ibu lain yang tidak sependapat dengan gaya hidup Arimbi. 


Arimbi tidak ambil pusing, toh semua pinjaman suaminya di beberapa bank pasca kampanye telah mereka lunasi, dan sebisa mungkin membeli barang tanpa kredit. Dia bisa tidur dengan tenang tanpa memikirkan hutang apalagi pendapat orang lain.

__ADS_1


__ADS_2