Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Kapan?


__ADS_3

Alarm di nurse station bangsal ibu dan anak berbunyi nyaring. Perawat dan bidan yang bertugas di ruangan itu bangun dan mulai membuka jendela serta pintu-pintu agar sitkulasi udara di bangsal itu berganti dengan udara segar.


Cleaning service membersihkan ruangan dan taman di bangsal itu, sedangkan Erna dan tim jaga memeriksa white board bertuliskan tugas yang telah mereka lakukan.


Satu persatu petugas berjalan dari ruang yang satu ke ruang yang lain membangunkan pasien untuk tindakan vulva hyginie dimana pasien dimandikan atau dibersihkan oleh perawat dan bidan yang berjaga. Kebanyakan dari mereka lebih nyaman dibersihkan oleh keluarga tentu dengan edukasi dan pengawasan dari perawat atau bidan.


Tak lupa pula mereka menyiapkan ruangan USG atas permintaan dokter Wina untuk pasien khusus yang akan dikunjunginya pagi ini.


Regata dibantu seorang bidan, mendorong ibu tersebut menuju ruang USG diikuti oleh suami dan bayinya.


Dokter Wina mengecek rekam medis pasien, sedangkan Regata dan bidan yang menemaninya membaringkan pasien di ranjang yang menghadap langsung ke layar USG yang letaknya agak tinggi.


Ruangan yang tidak terlalu besar tersebut difasilitasi satu unit USG 3D dan dua monitor. Monitor besar dapat dilihat langsung oleh pasien dan keluarga sedangkan monitor lainnya yang lebih kecil digunakan oleh dokter.


Dokter Wina menarik kursinya mendekat ke arah ranjang pasien. Dia menggosokkan ultrasound gel di bagian abdomen (daerah sebelah bawah tulang iga. Bagian perut dan sekitarnya). Dokter Wina menggerakan alat transducer ke seluruh are yang  telah dilumuri dengan gel. 


Sejauh penglihatannya di tampilan monitor tidak ada kelainan pada area bagian kandungan dan organ di sekitar abdomen. Dokter Wina menjelaskan maksud dan hasil USG. 


Tidak puas dengan hasil USG nya, Dokter Wina melakukan USG transvaginal.


"Dok USG dua kali, apa gak rugi?" bisik bidan yang bersama Regata.


Pasien yang ada di hadapan mereka adalah pasien kelas II dengan jaminan kesehatan pemerintah. Pembayaran tarif pasien berdasarkan paket diagnosa. Sebagai karyawan rumah sakit swasta, masalah merupakan dilema tenaga kesehatan. Ingin menolong orang lain tapi harus patuh pada aturan perusahaan.


Pasalnya sebanyak apapun tindakan yang dilakukan terhadap pasien tetap dihitung dalam harga paket. Dalam harga tersebut telah dirincikan tagihan pelayanan, dan obat-obatan. Jika harga tersebut melebihi harga paket jaminan kesehatan, maka biaya dibebankan kepada rumah sakit, yang artinya pasien harus membayar kelebihan tagihan dari pelayanan kesehatan tersebut.

__ADS_1


"Semuanya normal, tidak ada kelainan ataupun gejala kanker, tumor, kista. Semuanya bersih" ujar Dokter Wina.


Pasien di hadapannya tampak pucat, tidak fokus, ekspresinya menahan sakit yang luar biasa.


Dokter Wina memeriksa asesmen nyeri pada rekam medis pasien berada di angka delapan. Setelah melakukan edukasi dan berbincang dengan pasien, bidan mendorong kembali pasien ke ruang perawatan.


"Tunggu saya di ruang operasi pagi ini ada SC, saya sudah bilang Genta" ujar Dokter Wina.


Lagi-lagi Regata menghela nafas sambil menuju ruang operasi. 


Regata melihat dokter Genta sedang bersiap. Dia menegur dokter Genta yang dibalas dengan anggukan.


"Dok, dokter Genta tadi semangat. Waktu dokter Wina telepon dokter Genta langsung pasang wajah emosi" ujar Dion perawat kamar operasi.


"ssstt" Regata mengisyaratkan Dion untuk diam.


Operasi caesar selesai setelah operasi usus buntu di ruang I. Dokter Wina dan Regata bergabung di meja asesmen bersama Dokter Genta dan Dion.


"Dok, pasien USG tadi gimana kelanjutannya" tanya Regata memecah keheningan di ruang itu.


"Saya telepon dr. Randy spesialis Radiology. Siang nanti beliau minta pasien diantar ke kliniknya" ujar Dokter Wina menyebut nama rekan sejawatnya.


"Saya butuh second opinion. Saya juga sudah konsul ke spesialis jiwa dan spesialis penyakit dalam. Tadi bayinya sempat menangis minta susu, ibunya yang histeris, sampai infus dicabut, semua makanan dimuntahkan. Saya suruh pindah ke ruangan tersendiri, biar bayi dan pasien lain tidak terganggu" ujar dokter Wina.


"Syndrome baby blues kah dok?" tanya Regata.

__ADS_1


"Iya curiganya mengarah ke situ dan parah juga nyeri perutnya"


"Dion, besok-besok kalau ada pacar jangan buru-buru kawin atau nikah. Tidak semua perempuan siap mengurus anak di usia muda" nasihat Dokter Wina pada Dion yang serius mendengarkan penjelasannya.


"Wah jangan buru-buru kawin dok, senior saya aja belum" ujar Dion melirik jahil ke arah Dokter Genta.


Dokter Wina tertawa keras, Regata melirik Dion horror. Dion senyum-senyum dan wajah Dokter Genta tidak karuan.


Dion sialan! bikin suasana makin absurd. Ingin rasanya Regata menyumpal mulut Dion dengan kassa di hadapannya. 


"Gimana Gen, udah nemu yang cocok? katanya ada asisten baru kerja di klinik kamu" tanya Dokter Wina mengabaikan wajah seram Dokter Genta.


"Baru kerja dua hari udah gak muncul lagi sampai sekarang" jawab Dokter Genta.


Dokter Wina makin terbahak.


"Kamu jangan galak-galak. Asisten aja kabur, gimana mau nyari istri?"


"Ini Regata, ditawarin gak mau" ujar Dokter Genta melirik Regata.


"Udah, udah, sarapan yuk di pantry" ajak Dokter Wina karena suasana di ruangan tersebut makin mencekam.


Mereka bertiga beranjak dari tempat duduk, menuju pantry.


"Dok, kapan saya bisa mulai kerja" tanya Regata pada dokter Genta, sontak membuat ketiga orang tersebut menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Suasana hening seketika.


...----------------...


__ADS_2