
Satu minggu berlalu begitu cepat, Tara masih mempertimbangkan tawaran Tedja. Lelaki itu terus bertanya keputusannya. Tara yang sedang bingung, berniat menemui Lintang di asrama. Sabtu sore tanpa menghubungi Lintang, dan tanpa ditemani Prita dia menuju asrama tempat Lintang berada. Sebelum mendekat ke arah gerbang, dia melihat mobil Lintang menjauh dari asrama.
Kemana Lintang?
Tanpa buang waktu Tara mengikuti arah mobil Lintang. Ditengah hiruk pikuk jalan kota Jakarta, Lintang mengendarai mobilnya menuju rumah Danu Atmaja, ingin bertemu gadis kecil yang minggu lalu ditawarkan untuk dilatih. Lintang telah siap dengan setelan dan peralatan olahraga di mobilnya. Sepanjang jalan dia membayangkan wajah berbinar Mia, membuatnya semakin bersemangat.
Tara meliuk di antara puluhan kendaraan di jalan, persetan dengan kemampuan mudiknya yang bukur, sekarang fokusnya ada pada mobil dan plat mobil Lintang. Dia tak boleh kehilangan Lintang.
Lintang memasuki sebuah kawasan perumahan. Tara menjaga jarak agar mobilnya tak ketahuan Lintang karena tempat itu dijaga ketat dan lumayan sepi. Tara menyerahkan kartu identitasnya kepada satpam perumahan, satpam itu mengintrogasinya lataran keterangan mencurigakan Tara.
“Pak saya ikut mobil teman saya, itu baru aja masuk” ujar Tara tak sabar dengan segala macam interogasi sementara mobil Lintang semakin menjauh.
“Memangnya mau ke rumah siapa, biar saya tunjukan alamatnya” tanya satpam.
“Itu pak mobil yang barusan lewat, mobil Lintang atlet batminton. Saya pacarnya Tara Widuri artis film Catatan Harian Seorang Pelakor” ujar Tara
“Mbak, yang tinggal di perumahan ini juga banyak artis. Saya harus tahu tujuan mbaknya ke mana” ujar Pak Satpam.
Karena lelah berdebat, Tara tak punya pilihan selain mengatakan dengan jujur dia berniat mengunjungi Lintang dan berakhir mengejar mobil Lintang ke tempat ini. Satpam tak bisa mengizinkan Tara masuk apapun alasannya karena Tara tak punya keperluan dengan penghuni perumahan itu. Satpam pun menyarankan agar Tara menunggu hingga Lintang pulang karena KTP nya dititipkan di pos satpam.
“Masuk mbak, duduk saja di dalam” tawar Satpam yang hari itu berjaga seorang diri.
Tara memarkirkan mobilnya di samping pos satpam menunggu sambil mengutak-atik ponselnya. Sayup-sayup lagu dangdut yang diputar di radio kecil membuat Tara larut dalam kegiatannya.
Tak lama berselang pak Satpam memanggil Tara, menyadarkan wanita itu mobil Lintang telah menuju po satpam. Lintang heran mendapati Tara keluar dari pos satpam, lalu mengetuk kaca mobilnya.
“Gue numpang ya” ujar Tara.
Lintang tak bisa menolak, dipersilahkan Tara menumpang mobilnya dan meninggalkan perumahan itu.
Tara menyandarkan bahunya di kursi mobil mengabaikan raut penuh tanya Lintang. Selama perjalanan keduanya diam, Lintang kebingungan dan Tara kelaparan. Mereka menuju restoran tempat favorit Tara. Restoran keluarga dengan makanan khas nusantara.
“Kamu ngapain ke perumahan itu?” ujar Tara penuh rasa ingin tahu sambil mengambil nasi dari bakul rotan yang disediakan di meja itu.
“Ketemu mantan mertua” jawab Lintang cuek, dia tak berniat berbohong pada Tara.
__ADS_1
Wajah tak percaya Tara tergambar jelas di hadapan Lintang.
Seperti air mengalir Lintang menjelaskan mantan mertua, mantan pacar, dan juga putri pacarnya. Terakhir dia menjelaskan kedatangannya yang tak disambut dengan ramah oleh ibu sang mantan dan juga menghalanginya bertemu gadis kecil yang wajahnya bak pinang dibelah dua dengan mantan pacarnya.
Tara mendengar cerita Lintang dengan saksama sambil makan. Kekecewaan tergambar di jelas di wajah Lintang. Cinta pertamanya belum berakhir tebak Tara.
“Maaf ya gue jadi curhat” ujar Lintang di akhir ceritanya.
“Gak masalah, kita gak pernah ngobrol sepanjang ini. Sekalinya ngobrol pembahasannya malah mantan” ujar Tara tersenyum hambar.
Lintang mengunyah makananya dalam diam, tak berselera mengunyah ayam geprek menu favoritnya.
“Jadi lo gak tau, di mana mantan lo sekarang?” tanya Tara lagi.
Lintang menggeleng lemah, dia belum mendapatkan titik terang tapi dia tidak berniat mundur sampai bertemu Regata dan mendengar langsung cerita Regata. Lintang tak berharap banyak, meskipun tak ada yang berubah setelah mereka bertemu dia tetap punya itikad baik meminta maaf atas keegoisannya.
“Gue iri sama lo” ujar Tara di sela mengunyah makanan.
“Lo masih berjuang buat cari orang yang selama itu tak ada kabar. Kalau gue udah gue hapus tuh mantan dari hidup gue”
“Lo mau gue bantu cari informasi? Gue ahlinya kalau stalking. Bayarannya cukup traktir kopi family mart sebulan” tanya Tara menawarkan bantuan.
“Boleh” tanggap Lintang dengan candaan.
Tara tak bisa mengalihkan pandangannya dari Lintang, senyum dan tawanya menghipnotis Tara. Lintang berhenti tertawa. Dia menatap Tara serius lalu mendekat perlahan, apa mereka akan berciuman? Pikir Tara. Wajah dan telinganya memerah, kesempatan langkah ini tak boleh disia-siakan. Tara menutup matanya sambil membayangkan bibir lembut Lintang.
“hap” sebuah tangan menangkap tangan Lintang yang terjulur ke wajah Tara.
Tara membuka matanya perlahan.
“Hay” sapa Tedja dengan senyum konyolnya.
Wajah Tara berubah marah.
“Apaan sih” Tara menepis tangan Tedja yang menangkap tangan Lintang.
__ADS_1
“Hay, kenalin gue Tedja pacar Tara” ujar Tedja menyodorkan tangannya pada Lintang.
Lintang menjabat tangan Tedja canggung. Tedja menarik kursi dan duduk di samping Tara.
“Kita nggak pacaran ya!” hardik Tara keras. Wajah Tedja dipenuhi makanan yang muncrat dari mulut Tara.
“Bersihin tuh makanan di mulut lo, biar orang lain gak salah sangka” sindir Tedja.
Tara mengusap area bibirnya, ada nasi yang menempel di sana. Dia segera pamit ke toilet, menghindari Tedja yang membuat image cantiknya luntur di depan wajah Lintang.
“Tara Widuri lo bego banget sih ngira Lintang bakal cium lo” ujar Tara memukul-mukul kepalanya sambil menatap pantulan wajah berantakannya di depan cermin.
Sepuluh kali berpikir pun tak masuk akal jika Lintang menciumnya hanya karena Tara terpesona dengan senyumnya.
Bego! Tolol! maki Tara dalam hati.
“Lagian ngapain si Tedja pakai muncul segala” gerutu Tara kembali ke meja. Lintang dan Tedja tampak akrab. Tara akui sikap sok akrab Tedja hari ini berguna mencairkan pembicaraan kaku dirinya dan Lintang.
“Lo gak usah percaya ya, pacaran itu cuma buat gimmick di media” ujar Tara cuek.
“Berarti lo setuju dong kita pacaran?” ujar Tedja.
“Kalian cocok” ujar Lintang memotong pembicaraan.
Refleks Tedja menarik bahu Tara lalu memeluknya lalu mengucapkan terima kasih pada Lintang. Tara berteriak marah pada Tedja, dan menepis tangannya.
“Kalian gak ada kegiatan hari ini?” tanya Lintang
“Libur” jawab mereka serempak.
Tedja menaikan alisnya menggoda Tara karena jawaban mereka yang kompak. Tara membalas dengan kata-kata kasar tapi Tedja tak marah malah semakin membuat Tara jengkel. Lintang menikmati pertengkaran di hadapannya. Pikirannya melayang pada Regata, apa dia dan Regata akan bertengkar seperti ini saat marah? Seingatnya mereka tak pernah bertengkar hebat lebih memilih diam dan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara seolah tak terjadi apa-apa. Kalau bersama Tara, Lintang tak bisa mengimbangi emosi dan sikap Tara.
Meskipun hari itu dia menerima penolakan di rumah orang tua Regata tapi ada hal yang patut di syukurinya, Tara menemukan pasangan yang cocok untuknya dan Lintang berharap itu tak hanya sebagai gimmick.
Tara diantar oleh Tedja sedangkan Lintang pamit kembali ke asrama. Sepanjang perjalanan Tara dan Tedja sibuk bertengkar. Tedja menjahili Tara sepanjang perjalanan, sejenak Tara lupa akan kegalauan hatinya. Cerita Lintang tak memberikan efek patah hati yang dalam baginya. Tidak ada rasa cemburu, tidak ada rasa ingin memiliki yang menggebu, hanya rasa hampa rasa yang sama seperti sebelum mengenal Lintang.
__ADS_1
...----------------...