
Kekalahan Lintang di babak perempat final kembali mengundang cibiran dan kecaman netizen. Tak henti-hentinya ujaran kebencian memenuhi akun PBSI. Tidak ada yang mau memaklumi bahwa lawannya adalah pemain veteran asal Cina yang meskipun sudah berkepala tiga tetap menjadi lawan tangguh bagi pemain muda. Di Tengah pro kontra kekalahan Lintang, sebuah berita mengejutkan muncul mengatakan bahwa Lintang melakukan tindakan asusila menghamili mantan pacarnya, dan menolak bertanggung jawab demi karirnya di dunia badminton.
Berita itu sontak menyeret nama banyak pihak. Lintang yang kelimpungan jelas menjadi pihak yang paling menderita. Tak ada bukti kuat namun kronologi yang dijelaskan dalam thread cuitan akun anonim sama persis dengan waktu dirinya dipanggil kembali ke pelatnas untuk kedua kalinya pasca degradasi.
Tagar #bannedlintang menjadi trending topik nomor satu hari ini. Dalam keadaan terdesak,Lintang dipaksa mundur dari dua turnamen setelah Korea Open dengan alasan cedera. Penerbangan pertama pagi itu, membawa Lintang kembali ke tanah air lewat jalur VIP dan pengamanan tanpa diketahui awak media.
Regata menggigit ujung jarinya, tangannya gemetar. Sejak dini hari ponselnya terus berdering dan banyak pesan masuk dari nomor tak dikenal. Teror-teror itu membuatnya tak mampu berpikir logis, untung saja saat itu tepat dengan hari liburnya sehingga dia tak perlu meminta izin pada bagian personalia.
“Halo ma” suara Regata tertahan sambil berbisik, bahkan di kamarnya sendiri dia merasa takut.
“Sayang kamu pulang sekarang, papa udah beli tiket buat kamu. Gak usah peduliin kerjaan kamu biar papa yang urus” ujar Danu yang langsung menyambar ponsel begitu tahu Arimbi menelpon putrinya.
“Siapin pakaian kamu. Bi Nina udah papa kasih pesangon dan rumah itu biarin aja dulu. Gak usah mikir yang lain segera kamu bersiap, Pak Wahyu udah papa minta buat antar kamu ke bandara” ujar Danu cepat.
Regata tak sempat mandi dan berdandan. Dia memasukan barang yang menurutnya penting. Masker, kacamata, topi, hoodie, jeans, dan sneaker membalut tubuhnya. Tak lama berselang Pak Wahyu datang menjemputnya dan mereka meninggalkan rumah itu dalam keadaan tertutup rapat, hanya lampu teras dan lampu samping rumahnya yang dibiarkan menyala.
Pak Wahyu tak banyak bicara, sepanjang perjalan lelaki itu melewati rute yang tak biasa dilewati Regata menuju bandara. Regata bersama Pak Wahyu digiring seorang petugas pria bertubuh tegap yang tak lepas dari earphonenya. Dia membawa Regata menjauh dari kerumunan penumpang menuju sebuah pesawat kecil yang diparkir paling ujung, jauh dari pesawat lainnya.
“Hati-hati” bisik Pak Wahyu sebelum Regata mengucapkan terima kasih dan berpamitan.
Selama penerbangan perasaan Regata tak tenang. Dia sudah mengganti nomor ponselnya dan dengan panik menghapus semua akun pribadinya. Dia tak menerima telepon selain dari nomor ayah dan ibunya.
Pria yang bersamanya di bandara ikut menemaninya dalam penerbangan ke Jakarta. Dia menyerahkan sebuah kotak nasi dan surat kecil yang mengatakan bahwa makanan itu aman dimakan.
Regata tak punya pilihan selain mempercayai pilot, co-pilot dan lelaki yang ada di hadapannya. Dia membuka masker lalu melahap makanan itu sampai habis. Selama perjalanan Regata tak berani memejamkan matanya. Berjaga-jaga agar tak lengah.
Setelah pesawat yang ditumpanginya landing, Regata turun dari tempat duduk tak diikuti oleh lelaki yang mengantarnya ke bandara melainkan lelaki itu hanya memintanya mengikuti arahan petugas yang telah dipersiapkan untuk menjemputnya, melewati lorong khusus yang amat sepi bahkan jika dia terbunuh di lorong itu tak ada seorang pun yang dapat menemukannya
Lorong satu arah itu mengingatkan Regata pada jalan keluar dari bioskop, membawanya ke parkiran di sana sudah berdiri sosok yang sudah lama tak dilihatnya.
__ADS_1
“Om Bobby!” pekik Regata tertahan.
Lelaki yang di sapa Bobby itu hanya mengangguk sekilas, meminta Regata mengikutinya naik ke mobil dan bergerak hati-hati meninggalkan tempat itu.
Wajah Regata penuh tanya namun dia menahan diri, Bobby berbeda dengan ajudan ayahnya yang lain, lelaki itu banyak menyimpan rahasia keluarga mereka. Bobby menurunkan Regata di jalan yang melewati ladang ilalang di belakang rumahnya. Ada plang bertuliskan Tanah milik sebuah paguyuban yang entah kenapa tak pernah mengurus lahan tanah yang lumayan besar itu. Bobby membawa koper kecil dan ransel milik Regata, membiarkan Regata memegang ujung bajunya sambil menghindar parit-parit kecil di sepanjang jalan. Ladang ilalang itu tampak cantik menjelang sore hari, capung dan serangga kecil lainnya terbang mengitari Regata dan Bobby.
“Ayo cepat!” ujar Bobby membuat Regata mempercepat langkahnya. Mereka tiba di sebuah gerbang yang memiliki tiga lapis pintu. Entah apa maksudnya pintu itu namun Regata menduga ayahnya telah memperhitungkan kemungkinan seperti ini sebelumnya.
Bobby menyerahkan ransel dan koper Regata meminta gadis itu segera mengunci gerbang dari dalam sedangkan Bobby sendiri meninggalkn gerbang itu menuju tempat mobilnya di parkir.
“Ata” ujar Arimbi berbisik ketika putri semata wayangnya tiba di ruang keluarga rumah itu.
Tampak oleh Regata, Danu, Arimbi dan Mia berdiri cemas di sana. Regata berlari memeluk Mia yang tampak kebingungan. Sepertinya gadis kecil itu tak diizinkan beraktivitas di luar rumah sampai rumor itu mereda.
“Malam nanti kalian pulanglah ke Jogja” ujar Danu menatap Arimbi, dan Regata. Menurutnya rumah mertuanya saat ini akan menjadi tempat yang aman bagi ketiga orang yang sangat di khawatirkannya.
Ingin rasanya Regata membantah, namun Arimbi mencegah tindakan putrinya.
Regata tentu saja menolak. Dia tak punya keinginan untuk makan bahkan untuk memejamkan matanya saja tak mungkin. Rumor itu semakin menggila,ditambah lagi dengan pengakuan ibunya kalau surat di amplop merah muda telah sampai ke tangan Lintang.
Regata menatap wajah kedua orang tuanya meminta penjelasan bagaimana mungkin rahasia yang disimpan rapat bisa terbongkar dengan sangat jelas. Dia bergantian menuntun penjelasan pada ayah dan ibunya keduanya menggeleng dan mengaku bahwa mereka tak tahu, sorot mata mereka meyakinkan Regata bahwa bukan Arimbi dan Danu pelakunya.
Regata tampak frustasi. Berita di televisi sepanjang hari itu mengungkap rumor tentang hubungan Lintang bahkan mantan pelatih dan klub tempat Lintang berlatih satu persatu membeberkan perilaku Lintang semasa dulu. Sementara pihak PBSI belum membuat konfirmasi resmi seolah tutup mulut atas kejadian itu.
Tepat pukul sepuluh malam, Arimbi, Regata, dan Mia tiba di Nanggulan Kulon Progo, Kampung Arimbi. Regata mengamati sebuah rumah limasan yang di depannya terdapat halaman luas, di sekeliling rumah itu tumbuh pohon pisang dan pohon mangga dan beberapa jenis pohon lainnya yang tidak Regata ketahui.
Seorang perempuan renta menyambut Arimbi dan bercakap-cakap dalam bahasa Jawa krama. Dia memandang Regata lalu tersenyum, guratan wajahnya nampak jelas. Gigi wanita itu sudah menghitam, rambutnya putih dan jalannya membungkuk.
“Ini Eyang Putri, kamu masih ingat?” tanya Arimbi pada Regata.
__ADS_1
Arimbi meminta Regata dan Mia meletakan barang-barang bawaan mereka di kamar yang sudah dipersiapkan Eyang Putri. Kamar itu lebih gelap dari bayangan Regata. Tak memiliki lampu yang cukup terang, atap-atap genteng yang tinggi membuat Regata sedikit takut jika ada yang jatuh saat mereka tidur.
Arimbi bercerita Eyang Putri adalah adik bungsu nenek Regata alias ibu Arimbi. Eyang putri dulunya adalah dukun yang membantu persalinan di kampung dan memilih tidak menikah. Saat Regata masih balita dia sering di bawa ke tempat ini untuk diurut tubuhnya oleh Eyang putri dengan segala jenis ramuan kampung yang diracik khusus oleh Eyang putri.
“Sementara kita tinggal di sini sampai ayah mengizinkan kita kembali ke Jakarta” bisik Arimbi.
Regata berusaha memejamkan matanya, sedangkan Arimbi masih mengobrol dengan eyang putri. Entah apa yang mereka obrolkan yang jelas semuanya dalam bahasa Jawa.
Pukul lima pagi Arimbi mengguncang tubuh Regata menyuruhnya bangun. Dengan mata setengah tertutup Regata duduk di ranjang dan menyibakkan kelambu. Tampak olehnya Arimbi berurai air mata.
“Kenapa ma” tanya Regata membangunkan Mia yang tidur di sampingnya.
“Ayah, a-yah ditangkap karena kasus penggelapan dana pembangunan ibu kota” ujar Arimbi.
Seketika dunia terasa terbalik.
...----------------...
__ADS_1