Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Visum


__ADS_3

"Gimana pasiennya Dokter Wina yang waktu itu?" tanya Regata pada Erna, saat jam makan siang.


"Besok siangnya langsung dirujuk dok. Dokter jiwa sudah periksa. Kata Dokter Wina dokter jiwanya bilang, itu bukan kategori penyakit kejiwaan. Dokter penyakit dalam, sarannya dirujuk biar dapat penanganan yang lebih efisien" ujar Erna.


Renata manggut-manggut sambil membayangkan kondisi terakhir ibu muda itu.


Ponsel Regata berdering tampak penggilan dari IGD tertera di layar ponselnya.


"Halo Dok, ada pasien korban pembacokan, sudah kami dorong ke ruang tindakan"  ujar suara di seberang.


"Baik, saya ke sana" ujar Regata sembari berpamitan pada Erna.


Regata memakai handscoon dan masker, lalu menuju ruang tindakan. Ada Vanya yang sedang membersihkan luka pasien. Tampak wajah pasien lebam. Sudut bibirnya pecah, ada luka robek lima senti di lengan kanan, ada tulang di tungkai kakinya yang menonjol dan bengkak di sekitarnya. Regata memeriksa bengkak tersebut. Pasien menjerit keras saat jari-jari Regata meraba bengkak tersebut. 


Regata mengganti posisi Vanya membersihkan luka. Dia meminta Vanya memasang belat di tungkai kaki yang dicurigai mengalami patah.


Setelah pasien dibersihkan Regata segera bertemu keluarga yang mengantar. 

__ADS_1


"Dok, identitas pasien sama tanda-tanda vitalnya sudah saya isi" ujar salah satu perawat menyerahkan rekam medik pasien.


Ragata mewawancarai pengantar dan keluarga pasien untuk kronologi lengkap kasus pembacokan tersebut.


Mereka pun mulai bercerita bahwa korban adalah selingkuhan dari istri salah satu anggota Polisi yang berdinas di luar kota. Sudah sejak lama suami perempuan itu curiga. Saat semua bukti terkumpul, suaminya dan beberapa temannya menggerebek perselingkuhan itu. Terjadilah adu jotos yang tak terhindarkan, dan parahnya lagi korban adalah junior sang suami di kantor.


"Tolong blangko visum" bisik Regata pada Vanya.


Perasaan Regata mengatakan akan ada permintaan Visum dari kepolisian. Agar tidak lupa dia menuliskan keadaan korban di blangko tersebut. Regata juga telah menelepon dokter bedah umum untuk memastikan apakah pasien tersebut perlu dibedah atau tidak.


Tidak lama kemudian tiga orang pria yang mengaku berasal dari kepolisian datang membawa surat permintaan visum. Regata meminta mereka menitipkan nomor handphone dan akan dikabari lagi sore hari jika visumnya sudah di ketik lengkap.


Setelah pergantian shift jaga, Regata mulai membuat deskripsi visum dan menghubungi nomor yang diberikan oleh polisi. Sebelum berpamitan polisi meminta agar Regata bersedia membantu penyidikan mereka karena meskipun pelaku telah menyerahkan diri, mereka harus tetap menelusuri kebenaran kasusnya sebelum menjatuhkan putusan.


"Bi, Mia di mana?" tanya Regata sambil berbisik pada Bi Nina yang sedang menyetrika pakaian.


"Tidur mbak. Tadi katanya kalau sudah mau waktu les minta dibangunin" ujar Bi Nina.

__ADS_1


"Oke" balas Regata.


Dia menuju kamar Mia. Menimbang-nimbang sebentar apakah dia harus masuk atau membiarkan Mia istirahat. Regata akhirnya memutuskan tidak mengganggu waktu tidur Mia. Dia juga harus istirahat karena sore nanti dia harus ke tempat praktek.


Mia mendengarkan pelajaran sambil bertopang dagu. Sudah setengah jam guru privatnya menjelaskan materi, namun tidak ada satupun yang Mia tangkap. Buku cetak yang dibagikan juga tidak banyak membantu.


"Kenapa guru matematika hobi sekali membolak balikan soal. Penjelasan di buku cetak dan soal latihan yang diberi tidak sama. Kebingungan Mia bertambah dua kali lipat" batin Mia gelisah.


Kapan lesnya berakhir, kapan


"Ada pertanyaan?" tanya Bu Susan Guru privatnya.


Mia diam.


"Sebelum ibu akhiri ini PR untuk kamu" ujar Susan menyerahkan dua lembar kertas berisi 20 soal latihan. 


"Bu kemarin saya sudah kerjakan latihan soalnya" protes Mia.

__ADS_1


"ibu anggap kamu belum mengerti, karena tadi sudah ibu jelaskan bagian-bagian yang salah. Sekarang ibu berikan lagi soal, bentuk soalnya sama" ujar Bu Susan tersenyum kecil.


...----------------...


__ADS_2