
Regata merebahkan badannya di sofa ruang televisinya. Dia merenggangkan otot leher dan punggungnya yang kaku. Hari ini Regata sengaja menukar jadwal liburnya demi menjadi saksi ahli di persidangan kasus pembacokan.
Regata sempat menolak permintaan itu karena dia tahu dia hanya akan menjadi pihak yang membacakan hasil visum di persidangan. Selebihnya dia dipaksa mendengarkan persidangan yang berjalan alot.
Sesusah itukah memutuskan hasil sidang? pelaku sudah mengakui dan motif penganiayaan sudah jelas. Hasil visum sudah ada dan semua berkas persidangan sudah lengkap lalu apa yang membuat hakim belum memutuskan hukuman? Regata tidak mengerti yang dia inginkan adalah pengertian dari semua orang yang ada di ruangan itu bahwa dia ingin segera pergi dari tempat itu. Namun naas siapapun tidak diizinkan meninggalkan tempat sidang hingga persidangan berakhir.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dokter Genta saat persidangan berakhir.
"Iya dok" ujar Regata singkat.
Dokter Gentalah yang membujuk Regata untuk hadir di persidangan itu dan meyakinkan Regata bahwa semuanya akan baik-baik saja selama dia tetap berpegang pada hasil visum dan kode etik profesi.
"Aku mau ajak kamu makan di restoran favoritku" ajak Genta.
Otak Regata berpikir cepat. Dokter Genta baru saja menyebut restoran. Harga makanan di tempat itu pasti mahal, belum lagi dia harus membeli minum dan pajak misalnya. Regata sudah berjanji menghindari pengeluaran tidak perlu demi biaya les Mia.
"Saya langsung pulang saja Dok" ujar Regata sambil menceritakan kisah sedih bahwa putrinya sedang menunggu untuk makan bersama di rumah. Tidak sepenuhnya bohong karena Mia dan dirinya jarang makan bersama.
"Mama pulang sama siapa?" tanya Mia ingin tahu.
__ADS_1
"Dokter spesialis di rumah sakit dan bos mama di tempat praktik" ujar Regata.
"Hari ini jadwal les apa?" tanya Regata sembari duduk di sofa ruang televisi.
"Bahasa Inggris mah"
"Gimana les matematika kamu, mama belum lihat tugas-tugas kamu"
Regata meminta Mia membawakan buku-buku les beserta tugas-tugasnya. Dia belum sempat menanyakan perkembangan Mia pada guru lesnya. Mungkin di pertemuan berikutnya dia harus ikut mengawasi les tersebut.
Regata membuka buku-buku catatan Mia. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Catatan Mia tidak serapi catatan masa sekolahnya dulu.
"Bisa mah, aku bisa baca ini rumus-rumusnya" elak Mia.
"Pensil warna kamu masih banyak kan? mending dipakai buat kotak-kota di rumus, biar kamu tahu bedanya rumus satu dengan yang lain" saran Regata.
Saran yang Regata berikan berdasarkan pengalaman pribadi. Kebetulan Mia memiliki bakat menggambar sama seperti dirinya. Otak putrinya lebih aktif mengingat sesuatu yang berwarna-warni.
Dering ponsel mengalihkan pandangan Mia dan Regata. Ternyata ponsel Bi Nina, sebuah nomor baru. Bi Nina yang sedang membersihkan meja, segera meninggalkan dapur menuju taman samping.
__ADS_1
"Halo selamat siang" sapa Bi Nina gugup.
Sebuah suara di ujung ruangan menanyakan putri dan cucunya. Sudah empat hari Bi Nina belum memberinya kabar. Arimbi tahu Bi Nina pasti khawatir dengan sikap Regata namun dia merasa kasihan pada cucunya setelah mendengar Bi Nina bercerita bahwa Regata memberi Mia jadwal les yang cukup padat untuk anak seusianya.
"Mia baik-baik saja?" tanya Arimbi mengecilkan suaranya.
"Iya buk"
Bi Nina tidak bisa menjelaskan panjang lebar karena saat ini dirinya sedang bekerja. Dia juga takut Regata curiga.
"Baik bu, terima kasih" ujar Bi Nina seraya mematikan telepon.
"Dari siapa Bi?" tanya Regata ingin tahu. Majikannya telah berdiri tegak di belakangnya.
"Dari keluarga di kampung ada jual beli tanah" ujar Bi Nina berbohong.
"Pantas aja Bi Nina nunduk-nunduk gitu kirain ada apa"
Bi Nina tersenyum lebar berusaha menutupi kebohongannya. Semoga saja majikannya tidak curiga macam-macam.
__ADS_1
...----------------...