Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
Visum (2)


__ADS_3

"Selamat siang dok, ada pak polisi ingin bertemu" 


Regata segera menemui polisi yang dimaksud.


"Silahkan duduk pak" ujarnya pada dua orang tersebut. Mereka duduk ruang dokter UGD.


"Begini dok, dokter kami kemarin berkunjung ke sini melihat keadaan teman kami. Dia juga sudah baca visumnya. Menurut dokter kami, terjadi patah tulang tertutup di tungkai korban dan itu tidak ditulis dalam visum ini" ujar Polisi tersebut meminta penjelasan.


"Baik bapak. Pertama saya harus jelaskan, biar tidak ada kesalahpahaman antara kita. Kami bekerja, berdasarkan kode etik kedokteran. Sebagai dokter umum, kompetensi saya hanya bisa menjelaskan keadaan korban secara umum. Kedua, keadaan patah tulang harus dijelaskan oleh dokter spesialis ortopedi karena itu kompetensi spesialis, dokter ortopedi bisa menjelaskan secara detail patah tulang tersebut" ujar Regata panjang lebar.


"Maaf dok, tapi patah tulang ini orang yang bukan dokter saja tahu. Saya tidak perlu ke dokter spesialis, saya hanya meminta visumnya diperbaiki ditambah patah tulang" Polisi di hadapannya mulai tidak sabar.


Regata menolak dengan tegas. Dia berpegang pada kode etik, kompetensi, dan perbedaan pengetahuan antara dokter umum dan dokter spesialis. Sekalipun dia tahu ada bagian yang patah dia tidak bisa seenaknya menuliskan bagian yang patah tersebut ke dalam surat visumnya tanpa ada pemeriksaan lebih lanjut ke spesialis ortopedi.


Terjadi pertengkaran di ruangan itu. Polisi menolak pulang sebelum visumnya diganti. Regata tidak habis pikir, harusnya divisi visum kepolisian, pasti sudah akrab dengan kasus serupa kenapa sekarang malah marah-marah?


"Ada apa ini?" tanya dokter Genta muncul di pintu ruang dokter.


Kedua Polisi itu segera mengadu pada dokter Genta karena pasien sementara ditangani oleh dokter Genta salama dokter umum mengikuti pertemuan tahunan dokter bedah umum se Indonesia.

__ADS_1


"Regata kamu keluar sebentar, biar saya yang bicara"


Regata keluar dari ruangan itu.


"Heran banget sih, bukannya kalau dokter polri harusnya tahu beda kompetensi" tanya dokter Jenar teman dinasnya.


"Aku juga bingung malah ngajak ribut" 


"Ini anak baru bukan sih?" tanya Jenar.


Regata tidak mengerti maksud Jenar dengan kata anak baru.


Ingatan Regata tertuju pada pria paruh baya yang bertugas mengurus visum. Kedua polisi tadi tampak masih muda dan kelihatannya hanya menjalankan tugas yang diberikan atasan tanpa tahu prosedur visum yang sebenarnya. Lagipula mengapa keukeuh berpegang pada omongan dokter mereka bahwa patah tulang ini tinggal di tulis dalam visum. Tentu saja Regata murka, dia mempertaruhkan profesi dan harga dirinya sebagai seorang dokter bagaimana mungkin dia asal memasukan deskripsi yang bukan kompetensinya?


Tidak lama kemudian kedua orang itu pamit pada dokter Genta dan Regata. Regata hanya mengangguk pelan.


"Gimana dok?" tanya Regata.


"Sudah saya jelaskan dengan rinci apa-mengapa-sebab-akibat, mereka katanya mau lapor dulu ke atasan"  

__ADS_1


Jenar terkikik pelan mendengar jawaban dokter Genta, sedangkan Regata melotot ke arahnya memintanya berhenti.


...*****...


"aaaaaaa" teriak Tara malam itu. Prita yang sedang membuat laporan keuangan menatap kesal ke arah Tara.


"Lihat deh, WA nya sudah centang dua gak di balas Lintang!" pekik Tara tak terima.


"Ya udah biarin aja sih! Kamu gak malu sama tetangga tengah malam teriak-teriak?" tanya Prita emosi.


"Kenapa juga lo peduli sama tetangga, ini apartemen bukan perumahan. Lagian gue milih apartemen ini karena dindingnya yang kedap suara. Teriak sampai ke langit juga gak bakalan ada yang dengar" ujar Tara sewot.


"Ihhh telepon di WA gak bisa, sekarang nomornya udah gak aktif!"


"Lo sehari aja nggak ngomongin ini bisa gak? gue ingetin sekali lagi kalian itu sudah putus p-u-t-u-s yang artinya lo udah gak penting lagi buat Lintang. Ngerti!" tegas Prita.


"Sekarang udah mau jam setengah dua belas, tidur. Besok jadwal lo jadi host tamu di acara gosip, jam enam pagi udah harus berangkat yang artinya jam empat lo udah gue bangunin!" 


"Iyaaa, bawel amat!" Tara menghentakan kakinya lalu menuju kamar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2