
Derap langkah kaki membangunkan Regata. Kalender digital yang terletak di atas televisi menunjukan pukul 04.15 WIB. Regata segera bangun, tanpa merapikan tempat tidurnya dia berjalan menuju ruang ruang makan yang terhubung dengan dapur.
Mia dan orang kedua orangtuanya di sana. Danu dan Arimbi mengenakan training lengkap, sedangkan Mia mengenakan celana olahraga pendek dan sport bra khusus anak-anak.
“Mau ke mana?” tanya Regata sambil mengucek matanya yang masih ngantuk.
“Kamu tidur aja lagi, kita mau olahraga” ujar Arimbi menyiapkan air mineral dan handuk di bodypack ransel miliknya.
Regata mengangguk setuju masih terlalu pagi untuknya memulai aktifitas. Regata mengantar mereka bertiga menuju garasi. Ayah dan ibunya masing-masing mengendarai sepeda sedangkan Mia berlari menuju trek jogging yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Danu memandu mereka menuju rute jogging yang telah di tandainya di maps. Setiap hari lintasan yang dilewati Mia bertambah satu kilo meter, tujuannya melatih kekuatan dan ketahanan fisik.
“Da, hati-hati” ujar Regata melambaikan tangan.
Regata tak melanjutkan tidurnya. Dia menghirup udara segar di luar rumahnya, mengitari pekarangan luas yang tampak rapi. Tidak ada yang berubah, dalam beberapa tahun terakhir ini tidak ada tanaman baru yang ditanam tukang kebun. Arimbi dan Danu sengaja membiarkan suasa rumah mereka tetap sama, menyambut Regata agar wanita itu tak asing dengan suasana rumah mereka, tempat separuh umurnya berada.
Taman ini mengingatkan Regata pada rumahnya di Manado, entah seperti apa keadaan di sana. Semenjak Regata datang ke sini dia hanya sekali menghubungi Bi Nina, Jenar, dan Genta tak banyak yang bisa dia ceritakan pada mereka.
*****
“Gimana menurut kamu?” tanya Arimbi pada Regata.
“Bagus” ujar Regata, dia mengamati wajah Mia di kaca.
__ADS_1
Regata, Arimbi, dan Mia berada di salon langganan Arimbi.
Rambut Mia semakin panjang, membuatnya risih ketika latihan dan olahraga. Keringat yang mengalir di kepala dan wajahnya membuat konsentrasinya seringkali terganggu karena anak rambutnya jatuh ke wajah, menghalangi pandangannya. Atas permintaan Mia mereka setuju rambutnya digunting cepak. Regata berulang kali bertanya pada Mia jawaban Mia tetap sama, dia tak takut dengan pandangan orang lain toh di tempat latihan tidak ada yang peduli model rambutnya seperti apa. Mia menggoyang-goyangkan kepalanya yang terasa ringan. Tampilan barunya membuat dia bersemangat.
“Makan apa kita nanti?” tanya Arimbi pada Regata yang sibuk mengelus rambut baru Mia.
“KFC mah. Udah lama gak ke sana” ujar Regata membayangkan kentang goreng, ayam dan cola.
Arimbi meminta persetujuan Mia, gadis kecil itu menolak tegas.
Mia mengingatkan mereka makan dan pola makannya harus bergizi dan seimbang. Regata takjub dengan ucapan Mia, anak seusia Mia biasanya tak menolak diajak ke sana. Regata berusaha membujuk Mia dengan mengatakan bahwa dietnya bisa dimulai besok hari ini Mia boleh makan apa saja. Regata keliru, Mia tak goyah sedikitpun ice cream bukan makanan yang menarik lagi baginya. Dengan gaya khas anak kecil, Mia mengatakan bahwa olahraga dan latihannya akan sia-sia kalau gizinya tidak seimbang.
Johny, Johny
(Yes Papa)
Eating sugar
(No Papa)
Telling lies
__ADS_1
(No Papa)
Open your mouth
(Ha, ha, ha)
Lagu Johny membuatnya pusing. Menurut Regata ayahnya tak harus menghakimi Johny saat dia makan makanan manis. Lagi pula gula tak hanya ada di camilan, tapi juga di nasi mengabaikan fakta bahwa lagu itu diperuntukan bagi anak-anak di benua Amerika atau Eropa yang notabene memakan gandum, kentang atau karbohidrat lain pengganti nasi. Tetap saja lagu itu membuatnya kesal. Dulu Mia selalu patuh, sekarang anaknya jauh lebih cuek cenderung tak mengindahkan omongannya.
“Awas aja kalau nanti kamu durhaka dan jadi batu, jangan menangis minta ampun ke mama!” batin Regata kesal.
Regata memandang Arimbi yang menyetir penuh kegirangan, biang keladi yang menyetujui tindakan putrinya. Tentu saja Mia akan semakin senang, kakek nenek berada di pihaknya jadi Mia tak takut bertindak sesuka hati.
Tarik nafas, buang nafas 2x
Arimbi tertawa sambil memperhatikan Mia dari kaca mobil.
“Dulu, waktu mama kamu kecil persis seperti kamu. Yang selalu belaiin kakek kamu, sekarang posisi mama kamu pindah ke kamu” ujar Arimbi pada Mia. Arimbi merasa menang, dulu Regata selalu protes padanya karena cerewet dan banyak mengatur sekarang Regata berada di posisi yang sama Arimbi merasa puas, balas dendam yang manis pikir Arimbi senyum-senyum. Waktu memang cepat berlalu.
...----------------...
__ADS_1