
Tim Indonesia bergabung bersama suporter, menyaksikan pertandingan tim putri Thailand melawan Singapura. Semifinal selalu punya aura yang berbeda. Kedua tim saling mengejar poin, meski tim Singapura tahu lawannya selalu menan sempurna selama kualifikasi tidak menjatuhkan mental mereka untuk berjuang.
Tribun mengharu biru saat tim ganda putri Singapura tak mampu bertahan dalam rubber game. Salah satu partner tim Singapura melakukan jumping smash malang tak dapat ditolak, salah mendarat mengakibatkan kakinya keseleo, harus dibalut perban serta berulang kali tim medis menyemprotkan painkiller ethylchloride untuk meredakan nyeri hebat di kaki kanannya.
Delapan angka lagi menuju kemenangan, pemain Singapura tak mampu melaju lebih jauh. Cedera membuat pergerakan salah satu pemain terbatas sehingga hampir seluruh lapangan di cover partnernya. Rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya. Lawan memanfaatkan ketidakberuntungan itu untuk menambah poin. Bola terus dipukul ke arahnya dan skor melaju tanpa perlawanan. Sebelum angka lawan berakhir, ganda putri Singapura menyerah.
Semua penonton berdiri dan bertepuk tangan, memberi penghormatan sekaligus apresiasi untuk kerja keras ganda putri Singapura. Tangis pemain tak mampu dibendung, tangis haru, sedih, sakit, tergambar jelas dalam sorot matanya yang sayu. Dia didorong dengan kursi roda meninggalkan lapangan.
Regata menyaksikan pertandingan itu di ruang tv rumah mereka ditemani Arimbi dan Mia yang belajar sambil mencuri pandang, menyaksikan jalannya pertandingan.
“Semoga aja pemainnya gak kenapa-napa” ujar Regata, matanya berkaca-kaca.
“Cedera apa sih? Lama gak, kira-kira perawatannya?” tanya Arimbi penasaran.
“Tergantung, kalau Cuma engkel biasa gak mungkin sampai ekspresinya begitu” kebetulan semasa kuliah dirinya diajarkan mengukur skala nyeri dari raut wajah pasien mudah baginya membedakan rasa nyeri berat, dan nyeri sangat berat.
“Mungkin saja ligamennya, tulang atau ototnya” ujar Regata menerka.
“Perawatannya bisa lama tergantung hasil pemeriksaan. Setelah perawatan harus ada masa pemulihan terus penyesuaian ulang di lapangan, sampai bisa latihan normal” Regata berusaha menjelaskan pada Arimbi apa yang diketahuinya.
Regata tak bisa membayangkan nasib atlet dan pasangannya. Kalau beruntung bisa kembali bertanding setelah rehat panjang, kalau gak beruntung sekali dua kali tanding bisa pensiun dini apalagi karir atlet perempuan terbilang singkat, bukan karena setelah menikah mereka tidak diizinkan bekerja, melainkan prioritas hidup yang berubah seiring keputusan mereka berumah tangga. Pasangannya pun harus bersiap untuk kemungkinan terburuk, performa menurun, berganti partner, penyesuaian dengan partner baru dan harus mengejar rangking ulang.
“Kalau misalnya yang satunya cedera yang lainnya gimana mah?” tanya Mia menatap layar televisi yang telah berganti ke pertandingan selanjutnya.
“Pasangannya juga ikut rehat atau di debutkan dengan pasangan baru. Bisa junior, bisa senior. Bisa tetap ganda putri atau sementara main ganda campuran tergantung kesepakatan atlet, pelatih sama asosiasi badmintonnya” ujar Regata mengunyah sepotong kripik kentang.
Mia takjub dengan jawaban Regata. Pengetahuan Regata tentang badminton lumayan banyak, kenapa tidak dari dulu mereka duduk menonton dan berbincang bersama pikir Mia.
__ADS_1
“Kamu tau, mama kamu ini penggemar badminton. Nama kamu Mia diambil dari nama pemain tunggal putri Mia Audina Tjiptawan ganda putri Indonesia yang jadi penentu kemenangan Indonesia. Umurnya waktu itu 14 tahun, anggota piala Thomas termuda sepanjang sejarah” ujar Arimbi.
“Piala Uber Ma kalau putri, piala Thomas baru beregu putra” koreksi Regata.
“hehe” Arimbi tertawa malu mendengar Regata meralat ucapannya.
Bibir Mia membulat. Dia tahu legenda yang satu itu tapi tak pernah menyangka namanya terinspirasi dari sana. Memang benar nama adalah doa secara tak langsung mamanya mendoakan dia agar dia mengukir prestasi yang sama dengan salah satu legenda Indonesia.
Pertandingan terus berjalan, meski penonton yang tahu kekuatan kedua tim sudah bisa memprediksi hasil pertandingan tetapi mereka tetap menyoraki tim Singapura memberi semangat bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Penonton Vietnam terus meneriakkan nama Singapura berulang-ulang. Thailand memenangkan pertandingan dengan skor 3-1. Satu angka Singapura didapat lewat tunggal putri nomor satu Singapura di laga pembuka.
“Hari ini kamu ada latihan?” tanya Regata di sela iklan menunggu giliran tim putri bertanding.
“Ada ma sore, aku pergi sendiri aja sama Om Bobby” ujar Mia.
Regata mengernyitkan keningnya, Om Bobby tidak pernah muncul di rumah sejak hari itu dari mana Mia tahu keberadaan orang yang menjadi tangan kanan ayahnya.
Regata lega karena sore nanti dia bisa duduk santai menyaksikan Lintang dan kawan-kawan menghadapi tim putra Singapura.
Annisa dan kawan-kawan menuju lapangan diikuti kameramen yang menyorot yel-yel tim putri. Satu persatu wajah mereka terekam kamera, terutama wajah Annisa yang tampak berapi-api meyakinkan timnya, kalah ataupun menang mereka tetap punya kesempatan mendapatkan medali.
“Semangat Indonesia” teriak Lintang.
Teman-temannya di tim putra menertawainya, Lintang yang selalu mencegah mereka agar tidak berisik saat menonton hari ini menjadi yang pertama berteriak. Lintang memahami beban yang dipikul Annisa, sebagai yang paling senior di tim putri Annisa tidak punya tumpuan yang memberikan masukan selain pelatihnya. Lebih nyaman baginya menceritakan keluh kesahnya dengan Lintang, sesama kapten tim yang sejak gelaran ini berlangsung rela bangun tengah malam demi bertukar pikiran tentang lawan yang akan mereka hadapi.
Annisa melakukan servis pertama melawan Farah Jayalalitha keduanya bermain dalam tempo lambat. Turnamen ini pertama kalinya mereka bertemu. Annisa telah menonton turnamen penting yang pernah dijuarai Farah untuk mengukur kekuatan lawan dia bermain sambil menganalisa permainan lawan dan kondisi lapangan. Keduanya mengakhiri babak pertama dengan saling mengejar poin. Interval babak pertama Malaysia unggul 21-19 memasuki babak kedua keduanya kehilangan sebagian besar energi di babak pertama. Annisa mulai bermain cepat dan tak membiarkan pukulan Farah menambah angka.
Perubahan tempo permainan membuat Farah kerepotan. Tiap pemain punya gayanya sendiri dan kebiasaan yang sulit mereka kendalikan terutama saat mereka gugup, mereka gampang kehilangan feeling permainan dan cenderung melakukan kesalahan sendiri. Annisa sudah mengalami hal itu sepanjang karirnya sehingga dia bisa memahami kekagetan Farah.
__ADS_1
Annisa mengeluarkan pukulan andalannya di babak kedua. Teknik yang tidak dipakainya di babak pertama dikeluarkan semua di babak kedua. Babak kedua berakhir dengan kemenangan Annisa, 21-12. Angka yang cukup jauh membuat Annisa mencoba trik yang sama di babak ketika namun tidak cukup membuat Farah tertinggal. Setelah interval Farah kembali fokus pada permainan. Annisa cepat membaca keadaan dan segera kembali ke tempo lambat, menguras lebih banyak tenaga lawan. Dia telah bertekad membawa Indonesia ke final, membayangkan tim putri berada di final membuat jantungnya memompa darah dua kali lebih cepat, mengalirkan oksigen ke otaknya seketika dia melihat seolah kemenangan ada di depan matanya dan terus melakukan pukulan-pukulan berbahaya. Sakit di telapak tangannya, basah dan bau besi yang keluar dari balik kaos kakinya sudah tidak dipedulikan lagi yang dia inginkan adalah menang. Dia berlari ke kiri dan kana mencegah bola masuk di areanya, kerja keras dan mental yang kuat membuatnya mengakhiri pertandingan dengan skor 26-24, kemenangan pertama Indonesia disambut sorakan meriah penonton.
Pertandingan kedua ganda putri nomor satu Indonesia menghadapi pasangan Malaysia yang baru mengalahkan juara dunia di turnamen All England. Prestasi lawan tak membuat Elfi Yolavita dan Trini Sofia Arum gentar. Dua pasangan itu bermain apik, defence dan attack mereka sudah mencapai next level tak ayal mereka dijuluki Duo Titan oleh pendukun tanah air.
Kemenangan kedua Indonesia kembali membuat penonton heboh meneriakan “habisin, habisin” yang artinya meminta pemain ketiga menyapu bersih skor menjadi 3-0. Annisa tak bisa memberikan pesan-pesannya pada pemain ketiga. Kulit telapak kakinya menebal, ditambah gesekan terus menerus tanpa absen di setiap pertandingan membuat luka gesekan semakin besar, puncaknya rubber game hari ini membuat gesekan di telapak kakinya menjadi luka terbuka, kulitnya terangkat nyaris terlepas darah mengucur deras dari luka itu. Dia dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
Lintang orang pertama yang dikabarkan Koh Toni tentang kondisi Annisa. Keinginan Lintang ke rumah sakit dicegah Koh Toni. Koh Toni mengingatkan agar Lintang fokus dengan pertandingan sore nanti, apapun yang terjadi Lintang tak bisa memikirkan perasaan dan urusan pribadi.
“Ayo Gita habisin” teriak Lintang pada Gita Brahmin Budiono, tunggal pelapis tim putri. Empat angka lagi Indonesia akan menang namun Gita terus melakukan kesalahan kecil.
“Ayo Git, kamu bisa” Bisma ikut-ikutan berteriak.
“Gita I love you” teriak salah satu pendukung. Penonton tertawa mendengar teriakan itu, suasana tegang berubah menjadi lawak bahkan Gita tersenyum mendengar teriakan yang entah dari siapa. Gita lebih luwes dan tenang menghadapi poin-poin kritis. Satu flick serve dan satu lucky ball mengantarkan Indonesia menuju semifinal. Tim putri melompat pagar pembatas berlari memeluk Gita.
“Yes, menang” Regata dan Mia berteriak kegirangan. Besok Indonesia akan melawan Thailand di final, semoga saja tim yang dipandang sebelah mata ini berhasil membungkam haters batin Regata.
“Gimana keadaan Nisa Koh” tanya Lintang. Dia menyempatkan waktu menelpon Koh Toni sebelum pertandingan.
“Sudah ditangani, lagi istirahat. Nanti selesai tanding, kalian bisa jenguk ke sini” Koh Toni mengakhiri panggilan telepon.
Indonesia melawan Singapura menjadi laga yang mendebarkan Lintang satu-satunya senior di tim Indonesia sedangkan tim lawan turun dengan kekuatan penuh. Lintang kalah di laga awal membuat ekspektasi pendukung Indonesia berubah dari yakin menjadi juara menjadi pesimis meraih kemenangan. Lawan Lintang memang ulet dan pandai memanfaatkan keadaan sedangkan Lintang bertanding dengan tergesa-gesa ingin mematikan bola.
Regata memekik keras saat pertandingan pertama berakhir wajah frustasi Lintang membuat hatinya terenyuh.
Pertandingan berikutnya ganda putra membawa Indonesia menyamakan kedudukan. Pertandingan ketiga Febri mampu memberikan perlawanan dalam dua game langsung poin 2-1 untuk Indonesia. Pertandingan keempat ganda putra junior tampil maksimal dengan tuntutan harus menang. Tuntutan itu tak membuat mental mereka terganggu melainkan berapi-api menarik atensi penonton sekaligus membuktikan bahwa ganda Indonesia selalu mencetak juara baru dan akan menjadi raksasa ganda putra.
Hari itu Lintang merasa pikiran dan tenaganya terkuras. Untung saja Indonesia menang, dan Annisa sudah ditangani dengan baik. Besok Lintang masih berjuang, Coach Arifin menuntutnya agar menjaga performa. Lawan mereka besok adalah Malaysia, pertemuan kedua mereka diprediksi lebih sengit dibandingkan pertemuan pertama karena besok adalah laga balas dendam.
__ADS_1
...----------------...