
"Selamat siang semua" teriak Mia saat Bi Nina membuka pintu rumah.
Regata ada di ruang televisi duduk menatap Mia dan Bi Nina.
Mia tersenyum sumringah. Dia berlari menghampiri mamanya. Mia berusaha memeluk mamanya, namun Regata memalingkan wajahnya.
"Duduk" perintah Regata dingin.
Mia duduk di samping Regata.
Regata mengeluarkan satu persatu barang yang ditemukan di kamar Mia. Poster Susi Susanti, shuttlekock, sepasang baju badminton dan yang paling membuat Mia terkejut adalah nilai test matematika dan test bahasa inggris di letakan Regata di atas meja.
Bi Nina yang melihat wajah dingin Regata segera meninggalkann majikan dan putrinya. Dia melanjutkan pekerjaannya yang masih tersisa.
"Sudah berapa kali mama bilang! kenapa kamu masih saja gak dengerin mama! lihat ini nilai kamu! seumur hidup mama nggak pernah dapat nilai matematika seburuk ini dan nilak bahasa inggris sekacau ini!" teriak Regata mengema di ruangan itu.
Mia terkejut dengan teriakan Regata. Tengorokannya terasa perih, dadanya sesak.
"Tolong mama Mia, tolong. Mama minta dengan hormat fokus sama nilai-nilai sekolah kamu jangan anggap ucapan mama ini sebatas becanda. Ini demi masa depan kamu!"
__ADS_1
Air mata yang menggenang di pelupuk mata Mia tumpah. Mia terisak pelan.
Regata juga ikut menanggis, dia tidak tahu harus dengan cara apa dia menghentikan Mia.
"Berjanjilah sama mama, gak ada yang kamu sembunyikan dari mama" isak Regata.
"Kemana kamu selama les berlangsung?" tanya Regata. Dia mengeluarkan print out absensi Mia selama bulan itu. Dua puluh empat kali tatap muka Mia hanya hadir dua kali. Sisanya tanda merah memenuhi absen tersebut.
"Jujur sama mama"
Sambil terbata-bata Mia menceritakan tentang latihan badminton di tempat milik Pak Wahyu.
"Sekarang kita sepakat hukuman mana yang kamu pilih kalau kamu melakukan hal ini lagi, kamu gak akan mama kasih uang jajan atau selama satu semester kamu hanya boleh bawa bekal brokoli dan harus habis. Kalau kamu ketahuan melanggar ..."
"Uang jajan mah" ujar Mia sambil terbatuk - batuk di sela tangisannya.
Brokoli terlalu menyeramkan untuk Mia. Sayur yang paling dibencinya.
"Mulai besok kamu les privat di rumah. Guru les yang bakal datang ke rumah" ujar Regata mengusap matanya dan menghapus air mata puterinya
__ADS_1
Mia pasrah. Sekuat apapun dia menanggis, Regata tidak akan mengubah keputusannya.
Regata mengendong Mia menuju kamarnya. Suasana kamar Mia sedikit berubah. Regata menempelkan kata-kata bertuliskan "piyama", "seragam" dan beberapa tulisan lainnya agar Mia tidak bingung dengan tatanan bajunya.
"Tidak perlu jadi juara kelas, yang penting nilai-nilaimu memenuhi standar" ujar Regata.
Regata membuka buku cerita yang baru dia beli. Dia membacakan dongeng berjudul Batu Menanggis untuk Mia.
"Jadi kamu harus selalu patuh dan menghormati ibumu agar hidupmu kelak penuh berkat" ujar Regata di akhir cerita.
Mia mengangguk patuh sambil mengigit ujung ibu jarinya. Mata Mia mulai berat karrna kelelahan menanggia sekaligua mengantuk.
Regata membelai rambut Mia. Sesekali dia menekan jari-jarinya dengan gerakan menyisir. Persia seperti masa kecilnya dulu ibunya selalu melakjkan hal yang sama pada Regata.
Regata mebetulkan letak kepala Mia. Dia menempatkan guling dan boneka di sisi kiri dan kanan Mia. Regata merapikan selimut Mia dan memastikan tubuh putrinya terbungkus sempurna.
Regata keluar dari kamar Mia, lalu menutup pintunya pelan.
...----------------...
__ADS_1