Ode Untuk Lintang

Ode Untuk Lintang
PB Axiata


__ADS_3

Ketua penerbit Yayasan Siswa Siswi Indonesia (Yasindo) membuka lomba menggambar dan mewarnai tingkat nasional dengan sambutan sekaligus membacakan aturan lomba. Para peserta yang berasal dari 37 provinsi di Indonesia duduk di ruangan semi outdoor yang telah disediakan panitia.


Setelah aturan lomba di bacakan, peserta wajib memeriksa kelengkapan yang telah disediakan panitia di meja masing-masing. Penonton dan pembina di beri pembatas yang agak jauh dari peserta lomba agar tidak mengganggu konsentrasi peserta.


“Sesi pertama lomba ini adalah lomba tebak gambar dan menyusun puzzle gambar” ujar pembawa acara. Peserta diminta menebak potongan gambar dan menyusun potongan gambar itu menjadi bentuk gambar yang utuh. Dari 15 gambar yang dilombakan, Mia berhasil menebak dan menyusun 3 gambar dengan sempurna.


Sesi kedua adalah mewarnai gambar. Masing-masing peserta diberi lima gambar dan diminta untuk mewarnai gambar-gambar tersebut sesuai dengan kategori yang akan dinilai. Kategori itu telah dibagikan kepada peserta lomba dua minggu sebelum lomba diadakan.


Sesi ketiga adalah break. Peserta boleh istirahat sejenak, makan, dan berkonsultasi dengan guru pendamping. Lalu dilanjutkan dengan lomba terakhir, yakni menggambar dan mewarnai. Setelah menggambar masing-masing peserta mempresentasikan mengapa mereka memilih gambar itu.


Tibalah giliran Mia mempresentasikan gambarnya. Pak Hayon memberikan tepuk tangan paling keras sebagai tanda dukungan kepada Mia. Mia maju dengan percaya diri. Gambar ini berjudul cita-citaku. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton memenuhi tempat itu.


“Yan Mia bisa coba jelaskan maksud gambar itu”


“Ini adalah saya berdiri di podium juara satu, dengan medali emas di leher sebagai tanda penghargaan untuk Juara Dunia Bulutangkis. Kenapa dari sekian banyak kejuaraan bulu tangkis saya memilih kejuaraan Dunia? Karen Kejuaraan dunia hanya diadakan satu kali dalam tiga tahun. Juara Dunia juga akan mendapat keistimewaan mengikuti final tur dunia federasi bulutangkis, meskipun rangkingnya belum mencapai persyaratan ikut final tur” ujar Mia mengakhiri penjelasannya dengan senyum dan ucapan terima kasih.


Semua penonton bertepuk tangan, di antara peserta hanya Mia yang mengangkat tema cita-cita. Paling banyak mengangkat tema guruku pahlawanku, sekolah, liburan, kampung halaman, dan kebudayaan.


Oma Arimbi yang kini berada di samping Pak Hayon. Bertepuk tangan riuh sambil memberi dua jempol pada Mia. Mia tampak puas dengan penjelasannya.

__ADS_1


Siang itu, Arimbi mengajak Pak Hayon, Mia dan asistennya makan siang sembari memuji keberanian Mia memaparkan cita-citanya. Mia juga mengadu pada Arimbi bahwa Regata tidak setuju dia menjadi atlet.


Arimbi paham betul dunia atlet memiliki tanggung jawab yang besar. Mereka bertanding membawa nama negara, apalagi Indonesia terkenal sebagai rumah bagi atlet-atlet badminton, badminton juga olahraga yang menyelamatkan muka Indonesia di kancah internasional tentu saja ekspektasi masyarakat terhadap atletnya akan semakin tinggi.


“Ini Oma bawa perlengkapan badminton kamu” ujar Arimbi menyerahkan tas berisi raket, jersey, sepatu dan perlengkapan lainnya. Sore ini kita latihan di tempat latihan legenda, Pak Hayon tolong dibantu ya, soal Regata biar nanti saya yang urus” ujar Arimbi.


Pak Hayon tentu saja tidak bisa menolak. Sore itu pukul 17.00 WIB, mereka menuju tempat latihan milik salah satu legenda bulutangkis Indonesia dan berlatih di sana. Arimbi telah membooking tempat itu dari jauh-jauh hari demi cucunya.


“Besok akan ada seleksi di PB Axiata, saya sudah daftarin Mia tinggal ikut seleksinya saja besok pagi mulai jam 08.00 saya jemput di hotel” bisik Arimbi pada Pak Hayon.


...****************...


Mia memandang takjub ruang seleksi. Sebelum seleksi dimulai, peserta diizinkan melakukan pemanasan. Nama dan jadwal main para peserta telah dibagikan, Mia dan Pak Hayon tentu saja tidak mengenal lawan mereka yang berasal Kalimantan. Mia ada di urutan ketiga jadwal bertanding pagi itu. Usai melakukan pemanasan Mia menonton dua orang yang bertanding sebelumnya.


“Tidak apa-apa” ujar Arimbi mengelus bahu Mia.


“Kalah menang itu biasa dalam pertandingan. Kekalahan bisa jadi pengalaman untuk kamu memperbaiki diri”  ujar Arimbi mencoba meredakan tangis cucunya. Pak Hayon melakukan hal yang sama, mereka berdua berusaha memberi pengertian pada Mia agar gadis kecil itu tidak putus asa.


“Mia” sebuah suara yang sangat Mia kenal

__ADS_1


terdengar menyapanya. Dengan wajah berlinang air mata Mia menoleh, mencari sang pemilik suara.


“Pak Wahyu!” Mia berseru girang.


“Lho dek Arimbi” tergur Pak Wahyu seraya tersenyum.


“Mas, kamu kok di sini sama siapa?” tanya Arimbi kaget sekaligus bahagia. Arimbi melihat seorang wanita di samping Wahyu yang kira-kira berusia sebaya dengannya, langsung menggamit tangan Wahyu. Ekspresi masam tergambar jelas di wajahnya.


“Ma, ini Arimbi rekanita Papa dulu di Akademi Militer” ujar Wahyu memperkenalkan Arimbi pada istrinya.


“Jangan cemberut” goda Pak Wahyu.


Arimbi terkikik geli melihat istri Wahyu mencubit pinggangnya sambil salah tingkah. Wahyu sedang mengantar dua orang peserta dari tempat latihannya yang baru saja mengikuti seleksi.


Wahyu dan Arimbi terlibat percakapan hangat, mulai dari masa muda mereka dulu hingga percakapan tentang Mia. Istri Pak Wahyu menunggu sambil bercakap-cakap dengan Pak Hayon dalam bahasa daerah. Mia yang mulai bosan, memilih mengelilingi PB Axiata, membaca sejarah klub itu sambil melihat-lihat daftar atlet berprestasi jebolan klub itu.


Suara riuh mengalihkan perhatian Mia. Tampak segerombolan orang melintas di hadapannya. Mia yang bertubuh kurus itu terdorong sambil berdesak-desakan di antara gerombolan orang itu, Ada apa ini? Pikir Mia. Mia sibuk berjinjit dan menunduk di sela-sela lautan manusia sampai sebuah tangan menarik tangannya lalu menggendongnya. Sosok itu lumayan tinggi sehingga Mia dapat leluasa melihat seorang pria muda sedang memberikan tanda tangan kepada para penggemarnya.


“Itu Lintang, dia baru saja juara satu pertandingan All England” ujar suara berat dibelakang Mia. Seketika Mia tersadar, dia berada dalam gendongan orang asing.

__ADS_1


“Mia” panggil Arimbi dari kejauhan. Arimbi melotot tak percaya, melihat sosok dingin di hadapannya sedang menggendong Mia. Tatapan dingin itu, tatapan yang sama dengan delapan tahun lalu saat Danu Atmaja murka terhadap pengakuan putri semata wayangnya.


...----------------...


__ADS_2